Senin, 28 Juni 2010

RUKUN SHALAT-BAGIAN KE 3 (RUKUN FI'LIYYAH)

-->
Rukun fi’liyyah adalah rukun shalat yang dikerjakan oleh anggota tubuh, yang terdiri dari delapan macam, yaitu :
1. Berdiri
حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا ِللهِ قَانِتِينَ
Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa.[1] Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu'. (QS.Al-Baqarah [2] :238)
Berdiri dalam shalat dan sesuatu yang boleh menggantikannya ketika tidak sanggup berdiri, seperti duduk atau berbaring adalah salah satu rukun shalat yang termasuk dalam rukun fi’liyyah berdasarkan hadits Nabi :
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ طَهْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي الْحُسَيْنُ الْمُكْتِبُ عَنْ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَن الصَّلَاةِ فَقَالَ : صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ.(رواه البخاري : 1050- صحيح البخاري -بَاب إِذَا لَمْ يُطِقْ قَاعِدًا صَلَّى عَلَى جَنْبٍ- الجزء : 4-صفحة : 273)
‘Abdan bercerita kepada kami, dari Abdullah, dari Ibrahim bin Thahman ia berkata : Al-Husain Al-Muktib bercerita kepadaku, dari Ibnu Buraidah, dari ‘Imran bin Hushain ra, ia berkata : Saya menderita penyakit bawasir (ambien), lalu saya bertanya kepada Nabi saw tentang cara mengerjakan salat. Beliau menjawab : Shalatlah engkau dengan posisi berdiri, jika engkau tidak sanggup, shalatlah dengan posisi duduk, dan jika engkau tidak sanggup, shalatlah dengan posisi berbaring. (HR.Bukhari : 1050, Shahih Bukhari, Bab Idzaa Lam yuthiq Qaa’idan Shallaa ‘Allaa Janbin, juz : 4, hal.273)
Bagi orang yang tidak kuasa berdiri dalam shalat fardhu, hendaklah mengerjakan shalat menurut kemampuannya berdasarkan hadits Nabi :
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِىِّ بْنِ بَطْحَا حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ الْحَكَمِ الْحِبْرِىُّ حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ حُسَيْنٍ الْعُرَنِىُّ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِىِّ بْنِ حُسَيْنٍ عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِىٍّ عَنْ عَلِىِّ بْنِ أَبِى طَالِبٍ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : يُصَلِّى الْمَرِيضُ قَائِمًا إِنِ اسْتَطَاعَ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ صَلَّى قَاعِدًا، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يَسْجُدَ أَوْمَأَ وَجَعَلَ سُجُودَهُ أَخْفَضَ مِنْ رُكُوعِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّىَ قَاعِدًا صَلَّى عَلَى جَنْبِهِ الأَيْمَنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ أَنْ يُصَلِّىَ عَلَى جَنْبِهِ الأَيْمَنِ صَلَّى مُسْتَلْقِيًا رِجْلَيْهِ مِمَّا يَلِى الْقِبْلَةَ.(رواه الدارقطنى : 1725 – سنن الدارقطنى - باب صَلاَةِ الْمَرِيضِ وَمَنْ رَعَفَ فِى صَلاَةٍ كَيْفَ يَسْتَخْلِفُ- الجزء 4 - صفحة : 416)
Ibrahim bin Muhammad bin Ali bin Bathha bercerita kepada kami, Al-Husain bin Al-Hakam Al-Hibry berceroita kepada kami, Hasan bin Husain Al-‘Urany bercerita kepada kami, Husain bin Zaid bercerita kepada kami, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Ali bin Husain, dari Al-Hasan bin Ali, dari Ali bnin Abi Thalib, dari Nabi saw, beliau bersabda : Orang sakit mengerjakan shalat dengan posisi berdiri jika ia sanggup; jika tidak sanggup ia boleh mengerjakan shalat dengan posisi duduk; jika tidak sanggup untuk sujud, maka ia cukup berisyarat, dan menjadikan sujudnya lebih rendah dari rukuknya; jika tidak sanggup mengerjakan shalat dengan posisi duduk, maka ia boleh mengerjakan shalat dengan posisi berbaring ke lambung sebelah kanan seraya menghadap kearah kiblat; dan jika tidak sanggup dengan posisi berbaring ke lambung sebelah kanan, maka ia boleh mengerjakan shalat dengan posisi telentang dan kedua kakinya membujur ke arah kiblat. (HR.Ad-Daruquthni :1725, Sunan Ad-Daruquthni, Bab Shalatil Maridh Waman raghafa fii shalaatin kaifa yastakhlifu, juz : 4, hal.416)
Posisi kedua kaki ketika berdiri dalam shalat adalah posisi berdiri tegak seperti posisi kaki ketika berdiri biasa, tidak terlalu rapat dan tidak terlalu renggang.Hadits Nabi:
أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ بْنِ سَعِيدٍ الثَّوْرِيِّ عَنْ مَيْسَرَةَ عَنْ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ : أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ رَأَى رَجُلًا يُصَلِّي قَدْ صَفَّ بَيْنَ قَدَمَيْهِ فَقَالَ خَالَفَ السُّنَّةَ وَلَوْ رَاوَحَ بَيْنَهُمَا كَانَ أَفْضَلَ.(رواه النسائي : 882 – سنن النسائي – باب الصَّفّ بَيْنَ الْقَدَمَيْنِ فِي الصَّلَاةِ – الجزء : 3 – صفحة : 437)
‘Amer bin ‘Ali mengabarkan kepada kami, ia berkata : Yahya bercerita kepada kami, dari Sufyan bin Sa’id Atstsauri, dari Maisarah, dari Al-Minhal bin ‘Amer, dari Abu ‘Ubaidah : Bahwa sesungguhnya Abdullah melihat seseorang yang sedang mengerjakan shalat dengan merapatkan kedua kakinya. Ia berkata : (Merapatkan kedua kakinya itu) menyalahi sunnah, dan seandainya bertumpu kepada kedua kakinya (dengan merenggangkannya) adalah lebih utama.(HR.Nasa’i : 882, Sunan Nasa’i, Bab Ashshaf bainal qadamain fishshalah, juz : 3, hal.437)
Mengerjakan shalat dengan posisi berdiri bagi yang mampu dan dengan posisi duduk bagi yang tidak mampu berdiri dalam shalat fardhu, adalah sama-sama mendapatkan pahala penuh tanpa dikurangi sedikitpun bedasarkan hadits Nabi :
حَدَّثَنَا مَطَرُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا الْعَوَّامُ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ أَبُو إِسْمَاعِيلَ السَّكْسَكِيُّ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا بُرْدَةَ وَاصْطَحَبَ هُوَ وَيَزِيدُ بْنُ أَبِي كَبْشَةَ فِي سَفَرٍ فَكَانَ يَزِيدُ يَصُومُ فِي السَّفَرِ فَقَالَ لَهُ أَبُو بُرْدَةَ سَمِعْتُ أَبَا مُوسَى مِرَارًا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا.(رواه البخاري : 2774- صحيح البخاري -بَاب يُكْتَبُ لِلْمُسَافِرِ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ فِي الْإِقَامَةِ- الجزء : 10-صفحة : 176)
Mathrab bin Al-Fadhl bercerita kepada kami, Yazid bin Harun bercerita kepada kami, Al-‘Awwam bercerita kepada kami, Ibrahim, yaitu Abu Isma’il Assaksaki bercerita kepada kami ia berkata : Saya telah mendengar Abu Burdah dan Ishthahab menceritakan sebuah hadits, ia dan Yazid bin Abi Kabsyah berpuasa dalam suatu perjalanan, lalu Abu Burdah berkata kepadanya : Saya telah mendengar Abu Musa berkali-kali berkata : Rasulullah saw bersabda : Apabila seorang hamba sakit atau dalam perjalanan, maka dicatatlah baginya pahala amalannya sebesar apa yang dikerjakannya sewaktu sehat dan muqim. (HR.Bukhari :2774, Shahih Bukhari, Bab Yuktabu Lil-Musafir Mitslu maa kaana Ya’malu fil-Iqamah, juz : 10, hal. 176)
Dalam shalat sunnah boleh memilih mengerjakan shalat dengan posisi berdiri atau duduk. Namun mengerjakan shalat dengan posisi berdiri lebih besar pahalanya dari mengerjakan shalat dengan posisi duduk berdasarkan hadits Nabi :
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ هِلَالِ بْنِ يَسَافٍ عَنْ أَبِي يَحْيَى عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ حُدِّثْتُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : صَلَاةُ الرَّجُلِ قَاعِدًا نِصْفُ الصَّلَاةِ.(رواه البخاري: 1214 - صحيح البخاري - بَاب جَوَازِ النَّافِلَةِ قَائِمًا وَقَاعِدًا - الجزء : 4-صفحة : 83)
Zuhair bin Harab bercerita kepadaku, Jarir bercerita kepada kami, dari Manshur, dari Hilal bin Yasaf, dari Abu Yahya, dari Abdullah bin ‘Amer ia berkata : Bahwa Rasulullah saw bersabda : Shalah seseorang dengan duduk adalah separoh shalat. (HR.Bukhari : 1214, Shahih Bukhari, Bab Jawazinnafilah Qaa-iman wa Qaa’idan, juz : 4, hal. 83)
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ أَخْبَرَنَا رَوْحُ بْنُ عُبَادَةَ أَخْبَرَنَا حُسَيْنٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَأَلَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَ أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ عَنْ أَبِي بُرَيْدَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ وَكَانَ مَبْسُورًا قَالَ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ صَلَاةِ الرَّجُلِ قَاعِدًا فَقَالَ إِنْ صَلَّى قَائِمًا فَهُوَ أَفْضَلُ وَمَنْ صَلَّى قَاعِدًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَائِمِ وَمَنْ صَلَّى نَائِمًا فَلَهُ نِصْفُ أَجْرِ الْقَاعِدِ.(رواه البخاري: 1048- صحيح البخاري -بَاب صَلَاةِ الْقَاعِدِ- الجزء : 4-صفحة : 269)
Ishaq bin Manshur bercerita kepada kami, ia berkata : Rauh bin ‘Ubadah mengabarkan kepada kami, Husain mengabarkan kepada kami, dari Abdullah bin Buraidah, dari ‘Imran bin Hushain ra, bahwa ia bertanya kepada Nabi saw. Dan juga Ishaq mengabarkan kepada kami, ia berkata : Abdushshamad mengabarkan kepada kami, ia berkata : Saya telah mendengar Abi berkata : Al-Husain bercerita kepada kami, dari Abi Buraidah, ia berkata : ‘Imran bin Hushain bercerita kepadaku, sedang ia menderita penyakit bawasir (ambien), ia berkata : Saya telah bertanya kepada Rasulullah saw, tentang seorang lelaki yang mengerjakan shalat dengan posisi duduk. Beliau menjawab : Barangsiapa mengerjakan shalat dengan posisi berdiri, itu adalah lebih baik; barangsiapa mengerjakan shalat dengan posisi duduk, ia mendapatkan setengah pahala shalat orang yang mengerjakan shalat dengan posisi berdiri; dan barangsiapa mengerjakan shalat dengan posisi tidur, ia mendapatkan setengah pahala shalat orang yang mengerjakan shalat dengan posisi duduk. (HR.Bukhari : 1048, Shahih Bukhari, Bab shalaatil Qaa’id, juz : 4, hal. 269)
Dalam kitab Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) ditegaskan oleh Al-Khaththaby, bahwa hadis ini (yang menjelaskan tentang shalat dengan posisi berdiri lebih baik dari shalat dengan posisi duduk) adalah khusus untuk shalat sunnah[2].
2. Ruku’ Dengan Tuma’ninahnya
Ruku’ dengan tuma’ninahnya adalah salah satu rukun shalat yang termasuk dalam rukun fi’liyyah. Ruku’ bagi orang yang mengerjakan shalat dengan posisi berdiri adalah membungkukkan badan sehingga kedua telapak tangannya sampai menyentuh ke dua lututnya.[3] Ruku’ bagi orang yang mengerjakan shalat dengan posisi duduk sekurang-kurangnya adalah muka sejajar dengan lututnya, dan sebaiknya muka sejajar dengan tempat sujudnya.[4] Sedangkan Thuma’ninah adalah diam sejenak dengan tenang sebelum bergerak pindah ke posisi berikutnya. Hadts Nabi :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ وَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي فَقَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا.(رواه البخاري: 715 - صحيح البخاري -بَاب وُجُوبِ الْقِرَاءَةِ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ فِي الصَّلَوَاتِ كُلِّهَا- الجزء : 3-صفحة : 205)
Muhammad bin Basysyar bercerita kepada kami, ia berkata : Yahya bercerita kepada kami, dari ‘Ubaidillah ia berkata : Sa’id bin Abi Sa’id bercerita kepadaku, dari ayahnya, diterima dari Abu Hurairah : Bahwasanya Nabi saw, masuk ke mesjid, lalu ada seorang laki-laki ikut masuk dan terus mengerjakan shalat, kemudian laki-laki itu datang mengucapkan salam kepada Nabi saw, dan Nabi saw, menjawab salamnya seraya bersabda : Kembalilah, lalu shalatlah, karena engkau belum mengerjakan shalat. Laki-laki itu kembali mengerjakan shalat, kemudian datang mengucapkan salam kepada Nabi saw. (untuk yang kedua kalinya). Beliau bersabda : Kembalilah, lalu shalatlah, karena engkau belum mengerjakan shalat. Kejadian itu diulangi sampai tiga kali. Laki-laki itu berkata : Demi yang mengutusmu dengan hak, aku tidak dapat berbuat yang lebih baik selain dari yang telah aku tampilkan, maka ajarkanlah kepadaku. Nabi bersabda : Apabila engkau telah siap mendirikan shalat, maka bertakbirlah, lalu bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Quran, kemudian rukuklah hingga thumaninah dalam rukuk, kemudian bangkitlah, hingga engkau berdiri lurus, kemudian bersujudlah hingga thumaninah dalam sujud, kemudian bangkitlah dari sujud hingga thumaninah dalam duduk, kemudian bersujudlah hingga thumaninah dalam sujud, kemudian kerjakanlah seperti itu dalam semua shalatmu. (HR.Bukhari : 715, Shahih Bukhari, Bab Wujubulqiraa-ati Lil-Imam Wal-Ma’mum Fishshalaati Kullihaa, juz : 3, hal. 205)
Ketika ruku’ telapak tangan diletakkan di atas kedua lututnya dan merenggangkan kedua lengan atasnya. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ حَارِثَةَ بْنِ أَبِي الرِّجَالِ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْكَعُ فَيَضَعُ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَيُجَافِي بِعَضُدَيْهِ. (رواه ابن ماجه : 764 – سنن ابن ماجه - بَاب وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الرُّكْبَتَيْنِ- الجزء :3 - صفحة : 113)
Abu Bakar bin Abi Syaibah bercrita kepada kami, ‘Abdah bin Sulaiman bercerita kepada kami, dari Harits bin Abirrijal, dari ‘Amrah, diterima dari ‘Aisyah ia berkata : Rasulullah saw, ketika sedang ruku’ meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya dan merenggangkan kedua lengan atasnya. (HR.Ibnu Majah : 764, Sunan Ibnu Majah, Bab Wadh’il-Yadain ‘Alarrukbatain, juz : 3, hal.113)
Ketika ruku’ posisi kepala tidak tampak ke atas dan juga tidak merendah ke bawah, tatapi ada diantara keduanya. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ عَنْ بُدَيْلٍ عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا رَكَعَ لَمْ يَشْخَصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ.(رواه ابن ماجه : 859 – سنن ابن ماجه - بَاب الرُّكُوعِ فِي الصَّلَاةِ – الجزء :3- صفحة :107)
Abu bakar bin Abi Syaibah bercerita kepada kami, Yazid bin Harun bercerita kepada kami, dari Husain Al-Mu’allim, dari Bidzil, dari Abi Al-Jauza’, diterima dari ‘Aisyah ia berkata : Apabila Rasulullah saw. rukuk, beliau tidak menampakkan kepalanya dan juga tidak merendahkannya, tetapi ada di antara keduanya. (HR.Ibnu Majah : 859, Sunan Ibnu Majah, Babur-Ruku’ Fishshalaati, juz : 3, hal. 107)
Ketika ruku’ posisi tulang belakang diluruskan, punggungnya diratakan, seandainya dituangkan air di atasnya tidak tumpah. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ وَعَمْرُو بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَا حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عُمَارَةَ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا تُجْزِئُ صَلَاةٌ لَا يُقِيمُ الرَّجُلُ فِيهَا صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ.(رواه ابن ماجه : 860 – سنن ابن ماجه - بَاب الرُّكُوعِ فِي الصَّلَاةِ – الجزء :3- صفحة : 108)
Ali bin Muhammad dan ‘Amer bin Abdullah bercerita kepada kami, mereka berdua berkata : Waki’ bercerita kepada kami, dari Al-A’masy, dari ‘Imarah, dari Abi Ma’mar, diterimad dari Abi Mas’ud ia berkata, Rasulullah bersabda : Tidak cukup shalat (seseorang) yang di dalamnya tidak diluruskan tulang belakangnya di waktu ruku dan sujud.(HR.Ibnu Majah : 860, Sunan Ibnu Majah, Babur-Ruku’ Fishshalaati, juz : 3, hal. 108)
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يُوسُفَ الْفِرْيَابِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ عَطَاءٍ حَدَّثَنَا طَلْحَةُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ رَاشِدٍ قَالَ سَمِعْتُ وَابِصَةَ بْنَ مَعْبَدٍ يَقُولُ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فَكَانَ إِذَا رَكَعَ سَوَّى ظَهْرَهُ حَتَّى لَوْ صُبَّ عَلَيْهِ الْمَاءُ لَاسْتَقَرَّ. (رواه ابن ماجه : 862 – سنن ابن ماجه - بَاب الرُّكُوعِ فِي الصَّلَاةِ – الجزء :3- صفحة : 110)
Ibrahim bin Muhammad binYusuf Al-Faryabi bercerita kepada kami, Abdullah bin ‘Utsman bin ‘Atha’ bercerita kepada kami, Thalhah bin Zaoid bercerita kepada kami, dari Rasyid, ia berkata : Saya telah mendengar Wabishah bin Ma’bad berkata : Saya melihat Rasulullah saw, sedang mengerjakan salat. Apabila beliau ruku’, maka punggungnya rata, hingga seandainya dituangkan air di atasnya, tentu akan tetap (tidak akan tumpah).(HR.Ibnu Majah : 862, Sunan Ibnu Majah, Babur-Ruku’ Fishshalaati, juz : 3, hal. 110)
Kadar lamanya ruku’ adalah seperti kadar lamanya membaca “tasbih” sebagaiamana tergambar dalam hadits Nabi :
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْجُرَيْرِيُّ عَنْ السَّعْدِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَوْ عَنْ عَمِّهِ قَالَ : رَمَقْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاتِهِ فَكَانَ يَتَمَكَّنُ فِي رُكُوعِهِ وَسُجُودِهِ قَدْرَ مَا يَقُولُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ثَلَاثًا.(رواه ابو داود :751 – سنن ابو داود - بَاب مِقْدَارِ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ- الحزء :3 - صفحة : 53)
Musadd bercerita kepada kamk, Khalid bin Abdillah bercerita kepada kami, Sa’id Al-Jurairi bercerita kepada kami, dari As-Sa’adi, dari ayahnya, atau dari pamannya, ia berkata : Saya melihat Nabi saw. dengan tenang dan pada waktu yang cukup lama dalam pelaksanaan salatnya, beliau tetap dalam ruku’ dan sujudnya sama seperti kadar lamanya membaca : سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ yang artinya : “Maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya” sebanyak tiga kali. (HR. Abu Daud, 751, Sunan Abu Daud, Bab Miqdarirruku’ wassujud, juz : 3, hal.53)
3. I’tidal Dengan Tuma’ninahnya
I’tidal adalah kembali berdiri tegak seperti posisi seblum ruku’ dengan thuma’ninah, yaitu diam sejenak paling cepat sekedar membaca tasbih. Sabda Nabi :
حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ....فَقَالَ .... ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا .....(رواه البخاري: 715 - صحيح البخاري -بَاب وُجُوبِ الْقِرَاءَةِ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ فِي الصَّلَوَاتِ كُلِّهَا- الجزء : 3-صفحة : 205)
Sa’id bin Abi Sa’id bercerita kepadaku, dari ayahnya, diterima dari Abu Hurairah : Bahwasanya Nabi saw ..... bersabda..... : kemudian rukuklah hingga thumaninah dalam rukuk, kemudian bangkitlah, hingga engkau berdiri lurus.... (HR.Bukhari :715, Shahih Bukhari, Bab Wujubulqiraa-ati Lil-Imam Wal-Ma’mum Fishshalaati Kullihaa, juz : 3, hal. 205)
Semua tulang ketika i’tidal dikembalikan kepada posisi semula, yaitu posisi berdiri tegak berdasarkan hadis Nabi :
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ : عَنْ صَلَاة النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ : َاِذَا رَفَعَ رَاْسَهُ اِسْتَوَى حَتَّى يَعُوْدَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ. (وَرَوَاهُ الْبُخَارِيُّ : 785 – صحيح البخاري - بَاب سُنَّةِ الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ- الجزء : 3 – صفحة : 334 )
Dari Muhammad bin ‘Amer bin ‘Atha’ : Tentang shalat Nabi saw, maka Abu Hamid Assa’idy berkata : Maka apabila beliau mengangkat kepalanya, maka posisi beliau lurus hingga semua tulang badan kembali ke tempatnya (semula). (HR.Bukhari : 785, Shahih Bukhari, Bab unnatil Julus Fittasyahhud, juz : 3, hal. 205)
وَفِيْ روايَةٍ : حَتَّى يَعُوْدَكُلُّ عَظْمٍ مِنْهُ اِلَى مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلاً(واه البيهقي– السنن الكبرى للبيهقي-الجزء :2-صفحة:97)
Dalam suatu riwayat : Hingga semua tulang kembali ke tempatnya (semula) dalam keadaan I'tidal (tegak lurus). (HR. Baihaqi, Sunan Al-Kubra Lil-Baihaqi, juz : 2, hal. 97)
4. Sujud Dua Kali Dengan Tuma’ninahnya
Sujud dua kali dengan thuma’ninah (diam sejenak paling cepat sekedar membaca tasbih). Sujud adalah meletakkan anggota sujud ke bumi sebagai tempat sujud dan dilakukan setelah i’tidal. Hadits Nabi :
حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ....فَقَالَ .... ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا.(رواه البخاري: 715 - صحيح البخاري -بَاب وُجُوبِ الْقِرَاءَةِ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ فِي الصَّلَوَاتِ كُلِّهَا- الجزء : 3-صفحة : 205)
Sa’id bin Abi Sa’id bercerita kepadaku, dari ayahnya, diterima dari Abu Hurairah : Bahwasanya Nabi saw ..... bersabda..... : kemudian rukuklah hingga thumaninah dalam rukuk, kemudian bangkitlah hingga engkau berdiri lurus, kemudian bersujudlah hingga thumaninah dalam sujud, kemudian bangkitlah dari sujud hingga thumaninah dalam duduk, kemudian bersujudlah hingga thumaninah dalam sujud, kemudian kerjakanlah seperti itu dalam semua shalatmu. (HR.Bukhari : 715, Shahih Bukhari, Bab Wujubulqiraa-ati Lil-Imam Wal-Ma’mum Fishshalaati Kullihaa, juz : 3, hal. 205)
Sujud hendaklah dilakukan dengan tertib, yaitu dari posisi berdiri tegak pada waktu i’tidal kemudian turun dengan meletakkan kedua tangan kepada kedua lutut, lalu turun dengan meletakkan kedua lutut ke tempat sujud, kemudian kedua tangan dan selanjutnya muka. Hadits Nabi :
اَنْبَأَنَا اَلْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ زِيَاد حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ عن مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَن الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ : قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا سَجَدَ اَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْجَمَلُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ. (رواه البيهقي – السنن الكبرى للبيهقي - الجزء : 2 – صفحة : 100)
Al-Hasan bin Ali bin Ziyad berecrita kepada kami, Sa’id bin Manshur bercerita kepada kami, Abdul-Aziz bercerita kepada kami, dari Muhammad bin Abdillah, dari Abi Azzinad, dari Al-A’raj, diterima dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Apabila salah seorang kamu hendak bersujud, maka janganlah menderum sebagaimana unta menderum, dan hendaklah meletakkan kedua tangan kepada kedua lututnya. (HR. Baihaqi, Asunan Al-Kubra Lil-Baihaqi, juz : 2, hal.100)
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنْ السُّجُودِ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ. (رواه ابن ماجه : 872 – سنن ابن ماجه - بَاب السُّجُودِ – الجزء 2 - صفحة : 122)
Al-Hasan bin Ali Al-Khallal bercerita kepada kami, Yazid bin Harun bercerita kepada kami, Syarik bercerita kepada kami, dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wa-il bin Hujr ia berkata : Saya melihat Nabi saw, apabila hendak bersujud, beliau meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangannya, dan apabila berdiri dari sujud, beliau mengangkat kedua tangan sebelum kedua lututnya. (HR.Ibnu Majah : 872, Sunan Ibnu Majah, Babussujuud, juz : 2, hal.`122)
Terdapat hadits yang berbeda dari hadits Wa-il di atas tentang tertib bersujud, yaitu turun dari i’tidal dengan meletakkan tangan ke tempat sujud, baru kemudian diikuti dengan kedua lutut. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَن الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْجَمَلُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ ثُمَّ رُكْبَتَيْهِ.(رواه احمد : 8598 – مسند احمد – باب مسند ابي هريرة – الجزء : 18 – صفحة : 140)
Sa’id bin Manshur bercerita kepada kami, ia berkata : Abdul-Aziz bin Muhammad bercerita kepada kami, ia berkata : Muhammad bin Abdillah bin Al-Hasan bercerita kepadaku, dari Abi Azzinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Apabila salah seorang kamu hendak melakukan sujud, maka janganlah menderum sebagaimana unta menderum, dan hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum kedua lututnya. (HR.Ahmad : 8598, Musnad Ahm,ad, Bab Musnad Abi Hurairah, juz : 18, hal. 140)
Menurut Ibnu Qayyim, bahwa bagian akhir matan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang berbunyi : "meletakkan kedua tangan sebelum kedua lututnya" adalah terbalik. Seharusnya berbunyi : "meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangannya" berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Wail. Alasannya adalah : “Unta menderum yaitu meletakkan kedua kaki depan terlebih dahulu, baru kemudian kedua kaki belakang”. Inilah sebenarnya yang menyerupai unta menderum yang dilarang oleh Rasulullah saw.[5]
Anggota sujud ada tujuh, yaitu muka (jidat dan hidung), kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا بَكْرٌ يَعْنِي ابْنَ مُضَرَ عَنْ ابْنِ الْهَادِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِذَا سَجَدَ الْعَبْدُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ آرَابٍ وَجْهُهُ وَكَفَّاهُ وَرُكْبَتَاهُ وَقَدَمَاهُ.(رواه ابو داود : 757 – سنن ابو داود - بَاب أَعْضَاءِ السُّجُودِ – الجزء : 3 – صفحة : 60)
Qutaibah bin Sa’id bercerita kepada kami, Bakar, yaitu Mudhar bercerita kepada kami, dari Ibnu Alhadi, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Amir bin Sa’ad, dari Al-‘Abbas bin Abdul-Muththalib, bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda : Apabila seorang hamba bersujud, maka bersujudlah bersamanya tujuh anggota badan, yaitu : mukanya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya. (HR. Abu Daud : 757, Sunan Abu Daud, Bab A’dhaaissujuud, juz : 3, hal. 60)
Hidung termasuk salah satu dari tujuh anggota sujud. Oleh karenanya, ia juga harus menyentuh ke tempat sujud bersamaan dengan dahi (jidat). Hadits Nabi :
عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَاَى رَجُلاً يُصَلِّيْ فَاِذَاسَجَدَ لَمْ يَمَسَّ اَنْفُهُ اْلأَرْضَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَ يَمَسُّ اَنْفُهُ اْلأَرْضَ مَا يَمَسُّ الْجَبِيْنُ.(رواه البيهقي- السنن الكبرى للبيهقي- الجزء : 2 – صفحة :4)
Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Nabi saw, melihat seorang laki-laki sedang mengerjakan shalat yang apabila bersujud hidungnya tidak menyentuh tanah, lalu Nabi saw, bersabda : Tidak ada shalat bagi orang yang hidungnya tidak menyentuh tanah sebagaimana dahi menyentuh tanah. (HR. Baihaqi, Sunan Asl-Kubra Lil-Baihaqi, juz : 2, hal.4)
Ketika bersujud tidak boleh mencotok ke bumi seperti burung mencotok. Hadits Nabi :
حَدَّثَنِيْ عُبَيْدَةُ بْنُ الْأَسْوَدِ الْقَاسِمِ بْنِ الْوَلِيدِ عَنْ سِنَانِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : اِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ جَبْهَتَكَ مِنَ اْلأَرْضِ وَلاَتَنْقُرْ نَقْرًا.(رواه ابن حبان : 1919 – صحيح ابن حبان – باب صفة الصلاة- الجزء : 8- صفحة : 264)
‘Ubaidah bin Al-Aswad bercerita kepadaku, dari Al-Qasim bin Al-Walid, dari Sinan bin Al-Harits bin Musharrif, dari Thalhah bin Musharrif, dari Mujahid, dari Ibnu Umar ra. Bahwasanya Nabi saw, bersabda : Apabila engkau bersujud, maka letakkanlah dahimu ke tanah, dan janganlah engkau mencotok seperti cotok burung. (HR. Ibnu Hibban : 1919, Shahih Ibnu Hibban, Bab Shifatushshalah, juz 8, hal.264)
Ketika bersujud hendaklah meletakkan kedua telapak tangan ke tempat sujud sebagaimana muka bersujud. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ قَالَ : حَدَّثَنَا زُنَيجٌ أَبُو غَسَّانَ قَالَ : حَدَّثَنَا حَكَّامُ بن سَلْمٍ عَنْ عَنْبَسَةَ عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ عَلَى الأَرْضِ فَإِنَّ الْكَفَّيْنِ يَسْجُدَانِ كَمَا يَسْجُدُ الْوَجْهُ.(رواه الطبراني : 224- المعجم الكبير للطبراني –باب 3 - الجزء : 11 – صفحة : 165)
Ahmad bercerita kepada kami, ia berkata : Zunaij, yaitu Abu Ghassan bercerita kepada kami, ia berkata : Hakkam bin Salm bercerita kepada kami, dari ‘Anbasah, dari Ibnu Abi Laila, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata : Nabi saw bersabda : Apabila kamu bersujud hendaklah kamu meletakkan kedua telapak tanganmu ke bumi, karena kedua telapak tangan itu bersujud sebagaimana muka bersujud. (HR.Thabrani : 224, Al-Mu’jam Al-Kabir Liththabrani, Bab : 3, juz : 11, hal.165)
Ketika bersujud hendaklah meletakkan kedua tangan sejajar dengan kedua bahu sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi saw :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنِي عَبَّاسُ بْنُ سَهْلٍ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَجَدَ أَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ مِنْ الْأَرْضِ وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ.(رواه الترمذي : 250 -بَاب مَا جَاءَ فِي السُّجُودِ عَلَى الْجَبْهَةِ وَالْأَنْفِ- الجزء : 1 – صفحة : 456)
Muhammad bin Basysyar Bundar bercerita kepada kami, Abu Amir Al-Aqadi bercerita kepada kami, Fulaij bin Sulaiman bercerita kepada kami, ‘Abbas bin Sahel bercerita kepada kami, dari Abu Humaid Assa’idi : Bahwasanya Nabi saw apabila sujud meletakkan hidung dan dahinya di bumi, merengganghkan kedua tangannya dari rusuknya dan meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua bahunya. (HR.Tirmidzi : 250, Sunan Tirmidzi, Bab Maa Jaa-aFissujuudi ‘Alaljabhati Wal-anfi, juz : 1, hal.456)
Jari-jari tangan hendaklah direnggangkan ketika ruku’ dan dirapatkan ketika sujud berdasarkan perbuatan Nabi :
حَدَّثَنَا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْهَمَذَانِىُّ بِهَمَذَانَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا رَكَعَ فَرَّجَ أَصَابِعَهُ وَإِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ.(رواه الدارقطني :1298 – سنن الدارقطني - باب ذِكْرِ نَسْخِ التَّطْبِيقِ وَالأَمْرِ بِالأَخْذِ بِالرُّكَبِ – الجزء : 3- صفحة : 416)
Da’laj bin Ahmad bercerita kepada kami, Musa bin Harun bercerita kepada kami, Al-Harits bin Abdillah Al-Hamadzani di Hamadzan bercerita kepada kami, Husyaim bercerita kepada kami, dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ‘Alqamah bin Wa-il, dari ayahnya ia berkata : Rasulullah saw apabila ruku’ merengganhgkan jari-jari tangannya, dan apabila bersujud merapatkan jari-jari tangannya. (HR. Ad-Daruquthni : 1298, Sunan Ad-Daruquthni, Bab Dzikri Naskhittathbiq Wal-Amri Bil-Akhdzi Birrukab, juz : 3, hal.416)
Ketika bersujud hendaklah mengangkat kedua siku, yaitu merenggangkannya dengan kadar apabila ada binatang yang hendak berjalan di bawah lengannya dapat melewatinya. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ إِيَادٍ عَنْ إِيَادٍ عَن الْبَرَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ.( رواه مسلم : 763- صحيح مسلم - بَاب الِاعْتِدَالِ فِي السُّجُودِ - الجزء : 3-صفحة : 51)
Yahya bin Yahya bercerita kepada kami, ia berkata : ‘Ubaidullah bin Iyad mengabarkan kepada kami, dari Iyad, diterima dari Al-Barra’ ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Apabila kamu bersujud hendaklah kamu meletakkan kedua telapak tanganmu dan mengangkat kedua sikumu. (HR.Muslim : 763, Shahih Muslim, Bab Al-I’tidal Fissujuud, juz : 3, : 51)
أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ مُضَرَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ ابْنِ هُرْمُزَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَالِكٍ ابْنِ بُحَيْنَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ.(رواه البخاري 377 - صحيح البخاري -بَاب يُبْدِي ضَبْعَيْهِ وَيُجَافِي فِي السُّجُودِ- الجزء : 2-صفحة : 147)
Yahya bin Bukair mengabarkan kepada kami, Bakar bin Mudhar bercerita kepada kami, dari Ja’far bin Rabi’ah, dari Ibnu Hurmuz, diterima dari Abdullah bin Malik bin Ibnu Buhainah, bahwasanya Nabi saw, apabila mengerjakan salat, beliau merenggangkan di antara kedua tangannya hingga nampak putih ketiaknya. (HR.Bukhari : 377, Shahih Bukhari, Bab Yubdi Dhab’aihi Wa yujaafii Fissujuud, juz : 2, hal. 147)
أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْأَصَمِّ عَنْ عَمِّهِ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ الْأَصَمِّ عَنْ مَيْمُونَةَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَجَدَ جَافَى يَدَيْهِ حَتَّى لَوْ أَنَّ بَهْمَةً أَرَادَتْ أَنْ تَمُرَّ تَحْتَ يَدَيْهِ مَرَّتْ.(رواه النسائي : 1097–سنن النسائي- بَاب التَّجَافِي فِي السُّجُودِ – الجزء: 4 – صفحة: 282)
Qutaibah mengabarkan kepada kami, ia berkata : Sufyan mengabarkan kepada kami, dari ‘Ubaidillah, yaitu Ibnu Abdillah bin Al-Asham, dari pamannya, yaitu Yazid, dia adalah Ibnu Al-Asham, diterima dari Maimunah, bahwasanya Nabi saw, apabila bersujud, beliau merenggangkan kedua lengannya, sehingga seandainya ada binatang yang hendak melewatinya di bawah lengan itu tentu ia akan dapat melewatinya. (HR.Annasai : 1097, Sunan Annasai, Bab Attajafii Fissujuud, juz 4, hal. 282)
Ketika bersujud dilarang menghamparkan kedua lengan seperti anjing menghamparkannya. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ وَلَا يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ. (رواه مسلم : 762 - بَاب الِاعْتِدَالِ فِي السُّجُودِ – الجزء : 3- صفحة : 50)
Abu Bakar bin Abi Syaibah bercerita kepada kami, Waki’ bercerita kepada kami, dari Syu’bah, dari Anas, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Luruskanlah badanmu di waktu sujud, dan janganlah kamu menghamparkan kedua lenganmu sebagaimana anjing menghamparkan. (HR.Muslim : 762, Babul I’tidal Fissujuud, juz : 3, hal. 50)
Antara anggota sujud dan tempat sujud tidak boleh terhalangi oleh pakaian yang kita pakai, rambut dan sejenisnya yang dapat menjadi penghalang sampainya anggota sujud ke tempat sujud. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ - وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ. (رواه البخاري: 770 - صحيح البخاري - بَاب السُّجُودِ عَلَى الْأَنْفِ- الجزء : 3-صفحة : 298)
Mu’alla bin Asad bercerita kepada kami, ia berkata : Wuhaib bercerita kepada kami, dari Abdullah bin Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas ra ia berkata : Nabi saw bersabda : Saya diperintah untuk sujud atas tujuh tulang, yaitu di atas dahi (jidat) dan beliau menunjuk dengan tangannya kepada hidungnya, dua tangannya, dua lututnya dan ujung kedua telapak kakinya. Dan )anggota sujud( kami tidak boleh terhalangi oleh pakaian dan rambut (untuk sampai ke tempat sujud). (HR.Bukhari : 770, Shahih Bukhari, Babussujuudi ‘Alal-Anfi, juz : 3, hal. 298)
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عَمْرٍو عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ لَا أَكُفُّ شَعَرًا وَلَا ثَوْبًا. (رواه البخاري: 774- صحيح البخاري - بَاب لَا يَكُفُّ ثَوْبَهُ فِي الصَّلَاةِ- الجزء : 3-صفحة : 306)
Musa bin Isma’il bercerita kepada kami, ia berkata : Abu ‘Awanah bercerita kepada kami, dari ‘Amer, dari Thawus dari Ibnu Abbas ra, diterima dari Nabi saw., beliau bersabda : Saya diperintah untuk sujud atas tujuh (anggota badan), tidak boleh terhalangi oleh rambut dan tidak pula oleh pakaian. (HR.Bukhari : 774, Shahih Bukhari, Bab Laa Yakuffu Tsaubahuu Fishshalaati, juz : 3, hal. 306)
Antara anggota sujud dengan tempat sujud boleh dibatasi dengan kain yang kita pakai, apabila cuaca sangat panas, sehingga tempat sujud menjadi sangat panas pula dan tidak mendapatkan pembatas yang lain. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ قَالَ حَدَّثَنِي غَالِبٌ الْقَطَّانُ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ أَحَدُنَا طَرَفَ الثَّوْبِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ فِي مَكَانِ السُّجُودِ. (رواه البخاري: - 372 - صحيح البخاري -بَاب السُّجُودِ عَلَى الثَّوْبِ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ- الجزء : 2- صفحة : 138)
Abu Al-Walid, yaitu Hisyam bin Abdil –Malik bercerita kepada kami, ia berkata : Bisyr bin Al-Mufadhdhal bercerita kepada kami, ia berkata : Ghalib Al-Qaththan bercerita kepada kepadaku, dari Bakar bin Abdillah, dari Anas bin Malik ra, ia berkata : Kami pernah mengerjakan shalat bersama Nabi saw, lalu salah seorang di anatara kami meletakkan ujung bajunya di tempat sujud karena sangat panas. (HR.Bukhari : 372, Shahih Bukhari, Babussujuud ‘Alatstsawbi Fii Syiddati-Harri, juz : 2, hal. 138)
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا بِشْرٌ حَدَّثَنَا غَالِبٌ الْقَطَّانُ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ وَجْهَهُ مِنْ الْأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ. (رواه البخاري : 1132 - صحيح البخاري -بَاب بَسْطِ الثَّوْبِ فِي الصَّلَاةِ لِلسُّجُودِ- الجزء : 4- صفحة : 408)
Musaddat bercerita kepada kami, Bisyr bercerita kepada kami, Ghalib Al-Qaththan bercerita kepada kami, dari Bakar bin Abdillah, dari Anas bin Malik ra, ia berkata : Kami pernah mengerjakan shalat bersama Nabi saw, ketika cuaca sangat panas, maka pada waktu itu seorang diantara kami tidak ada yang sanggup meletakkan dahinya ke bumi, lalu menghamparkan bajunya, kemudian bersujud di atasnya. (HR.Bukhari : 1132, Shahih Bukhari, Bab Basthitstsawbi Fishshalati lissujuud, juz : 4, hal. 408)
Wanita ketika bersujud hendaklah menempelkan perutnya kepada kedua pahanya. Hadits Nabi :
عَنْ عُمَرَ بْنِ ذَرٍّ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا جَلَسَتِ الْمَرْأَةُ فِى الصَّلاَ ةِ وَضَعَتْ فَخْذَهَا عَلَى فَخْذِهَا اْلأُخْرَى وَ اِذَا سَجَدَتْ اَ لْصَقَتْ بَطْنَهَا فِيْ فَخْذَيْهَا. (رواه البيهقي- السنن الكبرى للبيهقي- الجزء : 2 – صفحة : 222)
Dari Umar bin Dzar, dari Mujahid, diterima dari Abdullah bin Umar ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Apabila wanita duduk dalam shalat, maka ia meletakkan (merapatkan) pahanya pada paha yang satunya, dan apabila ia bersujud, maka ia menempelkan perutnya pada kedua pahanya. (HR. Baihaqi, Sunan Al-Kubra Lil-Baihaai, Juz : 2, hal. 222)
5. Duduk Di Antara Dua Sujud Dengan Thuma’ninahnya
Duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninahnya adalah salah satu rukun shalat yang termasuk dalam rukun fi’liyyah. Dalam satu rakaat terdapat dua kali sujud dan antara dua sujud itu mesti duduk dengan thuma’ninah. Rasulullah saw bersabda :
حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ....فَقَالَ .... ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا.(رواه البخاري: 715 - صحيح البخاري -بَاب وُجُوبِ الْقِرَاءَةِ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ فِي الصَّلَوَاتِ كُلِّهَا- الجزء : 3-صفحة : 205)
Sa’id bin Abi Sa’id bercerita kepadaku, dari ayahnya, diterima dari Abu Hurairah : Bahwasanya Nabi saw ..... bersabda..... : kemudian bersujudlah hingga thumaninah dalam sujud, kemudian bangkitlah dari sujud hingga thumaninah dalam duduk, kemudian bersujudlah hingga thumaninah dalam sujud, kemudian kerjakanlah seperti itu dalam semua shalatmu. (HR.Bukhari : 715, Shahih Bukhari, Bab Wujubulqiraa-ati Lil-Imam Wal-Ma’mum Fishshalaati Kullihaa, juz : 3, hal. 205)
Semua duduk dalam shalat, kecuali duduk dalam tahiyyat akhir adalah dengan posisi duduk "Iftirasy", termasuk duduk di antara dua sujud. Duduk "Iftirasy" adalah duduk di atas telapak kaki kiri, dan telapak kaki kanan ditegakkan serta ujung jari-jari kanan dihadapkan ke kiblat[6]. Rasulullah saw bersabda :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ كَانَ يَرَى عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَتَرَبَّعُ فِي الصَّلَاةِ إِذَا جَلَسَ فَفَعَلْتُهُ وَأَنَا يَوْمَئِذٍ حَدِيثُ السِّنِّ - فَنَهَانِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ وَقَالَ إِنَّمَا سُنَّةُ الصَّلَاةِ أَنْ تَنْصِبَ رِجْلَكَ الْيُمْنَى وَتَثْنِيَ الْيُسْرَى فَقُلْتُ إِنَّكَ تَفْعَلُ ذَلِكَ فَقَالَ إِنَّ رِجْلَيَّ لَا تَحْمِلَانِي.(رواه البخاري: 784- صحيح البخاري - بَاب سُنَّةِ الْجُلُوسِ فِي التَّشَهُّدِ - الجزء : 3 -صفحة : 323 )
Abdullah bin Maslamah bercerita kepada kami, dari Malik, dari Abdurrahman bin Al-Qasim, dari Abdullah bin Abdullah, bahwasanya ia bercerita, ia melihat Abdullah bin Umar ra. bersila apabila duduk dalam shalat, lalu aku mengerjakannya seperti itu; peristiwa itu terjadi pada usia mudaku. Kemudian Abdullah bin Umar melarangku seraya berkata : Sesungguhnya cara mengerjakan shalat, hendaklah engkau menegakkan kaki kanan dan melipat kaki kiri. Aku berkata : Sesungguhnya engkau mengerjakan seperti itu (bersila). Abdullah bin Umar menjawab : Sesungguhnya kedua kakiku tidak kuat dibebani aku. (HR.Bukhari : 784, Shahih Bukhari, Bab Sunnatusl julus Fittasyahhud, juz 3, hal. 232)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ عَنْ بُدَيْلٍ عَنْ أَبِي الْجَوْزَاءِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ :كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرُّكُوعِ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا وَإِذَا سَجَدَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ لَمْ يَسْجُدْ حَتَّى يَسْتَوِيَ جَالِسًا وَكَانَ يَفْتَرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى.(رواه ابن ماجه : 883–سنن ابن ماجه- بَاب الْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ- الجزء :3- صفحة : 137)
Abu Bakar bin Abi Syaibah bercerita kepada kami, Yazid bin Harun bercerita kepada kami, dari Husain Al-Mu’allim, dari Budail, dari Abu Al-Jauza’, diterima dari Aisyah ia berkata : Adalah Rasulullah saw. bila mengangkat kepalanya dari ruku’, beliau tidak melakukan sujud sebelum berdirinya lurus, dan bila beliau sujud, lalu mengangkat kepalanya dari sujud, beliau tidak melakukan sujud kembali sebelum duduknya lurus, dan beliau menghamparkan kakinya yang kiri (yang dikenal dengan duduk iftirasy) (HR.Ibnu Majah : 883, Sunan Ibnu Majah, Babul julus Bainassajdain, juz : 3, hal.137)
6. Duduk Tasyahud akhir
Duduk tasyahud akhir dengan thuma’ninahnya adalah salah satu rukun shalat yang termasuk dalam rukun fi’liyyah. Duduk akhir dilakukan dengan posisi duduk "Tawarruk", yaitu duduk seperti iftirasy, namun telapak kaki yang kiri dikeluarkan ke sebelah kanan, dan pantatnya sampai ke tanah[7]. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ خَالِدٍ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ وَحَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ وَيَزِيدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ أَنَّهُ كَانَ جَالِسًا مَعَ نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا صَلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَبُو حُمَيْدٍ السَّاعِدِيُّ : أَنَا كُنْتُ أَحْفَظَكُمْ لِصَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُهُ إِذَا كَبَّرَ جَعَلَ يَدَيْهِ حِذَاءَ مَنْكِبَيْهِ وَإِذَا رَكَعَ أَمْكَنَ يَدَيْهِ مِنْ رُكْبَتَيْهِ ثُمَّ هَصَرَ ظَهْرَهُ فَإِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ اسْتَوَى حَتَّى يَعُودَ كُلُّ فَقَارٍ مَكَانَهُ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَ يَدَيْهِ غَيْرَ مُفْتَرِشٍ وَلَا قَابِضِهِمَا وَاسْتَقْبَلَ بِأَطْرَافِ أَصَابِعِ رِجْلَيْهِ الْقِبْلَةَ فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْيُمْنَى وَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَنَصَبَ الْأُخْرَى وَقَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ.(رواه البخاري : 785- صحيح البخاري - بَاب الْجُلُوسِ بَيْنَ السَّجْدَتَيْنِ - الجزء : -صفحة :324 )
Yahya bin Bukair bercerita kepada kami, ia berkata : Allaits bercerita kepada kami, dari Khalid, dari Sa’id, dari Muhammad bin ‘Amer bin Halhah, dari Muhammad bin ‘Amer bin ‘Atha’, dan Allaits bercerita kepada kami, dari Yazid bin Abi Habib dan Yazid bin Muhammad, dari Muahhammad bin ‘Amer bin Halhah, dari Muhammad bin ‘Amer bin ‘Atha’, bahwasanya ia duduk bersama sekumpulan orang dari sahabat Nabi saw, lalu menuturkan sifat shalat Nabi saw, kemudian Abu Humaid As-Sa’idi berkata : Saya mengingatkan kalian kepada shalat Rasulullah saw., saya melihat beliau apabila bertakbir menjadikan kedua tangannya sejajar kedua bahunya, apabila ruku’ beliau menempatkan kedua tangannya kepada kedua lututnya, kemudian membungkukkan punggungnya; apabila mengangkat kepalanya beliau meluruskan tulang punggung hingga kembali ke posisinya (semula); apabila bersujud beliau meletakkan kedua tangannya tanpa membentangkan dan tidak pula menggenggamnya dan menghadapkan ujung jari-jari kedua kakinya ke kiblat; dan apabila telah duduk pada dua rakaat (pertama), beliau duduk di atas kakinya yang kiri dan menegakkan kakinya yang kanan; apabila telah duduk pada rakaat yang akhir, beliau memajukan kakinya yang kiri ke depan dan menegakkan kakinya yang kanan, dan beliau duduk atas tempat duduknya (di bumi). (HR.Bukhari : 785, Shahih Bukhari, Bab Sunnatusl julus Fittasyahhud, juz 3, hal. 234)
Posisi Tangan Ketika Duduk Dalam Tasyahhud
Ketika duduk dalam tasyahhud, maka tangan kiri diletakkan di atas lutut yang kiri, tangan kanan di atas lutut yang kanan, dan tangan digenggamkan berbentuk angka lima puluh tiga (angka arab), serta berisyarat dengan telunjuk. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَعَدَ فِي التَّشَهُّدِ وَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُمْنَى وَعَقَدَ ثَلَاثَةً وَخَمْسِينَ وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ. (رواه مسلم : 912- صحيح مسلم -بَاب صِفَةِ الْجُلُوسِ فِي الصَّلَاةِ وَكَيْفِيَّةِ وَضْعِ الْيَدَيْنِ عَلَى الْفَخِذَيْنِ– الجزء : 3- صفحة : 330)
Abdullah bin Humaid bercerita kepada kami, Yunus bin Muhammad bercerita kepada kami, Hammad bin Salamah bercerita kepada kami, dari Ayyub, dari Nafi’, dari ibnu Umar : Bahwasanya Rasulullah saw. apabila duduk dalam tasyahhud, beliau meletakkan tangannya yang kiri di atas lututnya yang kiri, dan meletakkan tangannya yang kanan di atas lututnya yang kanan, dan beliau menggenggamkan tangannya sehingga berbentuk angka lima puluh tiga, dan beliau menunjuk (isyarat) dengan telunjuk. (HR.Muslim : 912, Shahih Muslim, Bab Sifatil julus wa kaifiyah Wadh-‘ul yadain ‘alal-Fakhdain, juz 3, hal. 330)
Meletakkan tangan kiri di atas paha yang kiri, dan meletakkan siku yang kanan di atas paha yang kanan, serta menggenggamkan kelingking, jari manis dan melingkari jari tengah dengan ibu jari. Hadits Nabi :
حَدَّ ثَنَا عَاصِم بن كُلَيب عن ابيه عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ اَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَامَ اِلَى الصَّلاَةِ فَكَبَّرَ وَرَفَعَ يَدَ يْهِ حَتَى حَاذَى بِهِمَا اُذُ نَيْهِ وَاَخَذَ شِمَالَهُ بِيَمِيْنِهِ، فَلَمَّا اَرَادَ اَنْ يَرْكَعَ رَفَعَ يَدَ يْهِ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ الرُّكُوْعِ رَفَعَ يَدَيْهِ، فَلَمَّا سَجَدَ وَضَعَ يَدَ يْهِ فَسَجَدَ بَيْنَهُمَا، ثُمَّ جَلَسَ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى فَخْدِهِ الْيُسْرَى وَمِرْفَقَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخْدِهِ الْيُمْنَى، ثُمَّ عَقَدَ الْخِنْصَرَ وَالْبِنْصَرَ ثُمَّ حَلَقَ الْوُسْطَى بِاْلإِبْهَامِ وَاَشَارَ بِالسَّبَابَةِ.(رواه البيهقي – السنن الكبرى للبيهقي - باب ما روى في تحليق الوسطى بالابهام – الجزء : 3 – صفحة : 131)
‘Ashim bin Kulaib bercerita kepada kami, dari ayahnya, diterima dari Wa-il bin Hujr : Bahwasanya Nabi saw, (pada waktu) mengerjakan shalat, beliau bertakbir dan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kedua telinganya, memegang tangan kirinya dengan tangan kanannya, setelah hendak ruku’ beliau mengangkat kedua tangannya, dan setelah mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau mengangkat kedua tangannya pula, setelah hendak sujud beliau meletakkan kedua tangannya lalu sujud di antara kedua tangannya, kemudian duduk dengan meletakkan tangannya yang kiri di atas pahanya yang kiri, dan meletakkan sikunya yang kanan di atas pahanya yang kanan, serta menggenggamkan kelingking, jari manis dan melingkari jari tengah dengan ibu jari, dan beliau berisyarat dengan telunjuk. (HR. Al-Baihaqi, Sunan Kubra Lil-Baihaqi, Bab Maa ruwiya fii Tahliqil Wustha Bil-Ibham, juz 3, hal.131)
Berisyarat (menunjuk) dengan menggerakkan jari telunjuk sebagaimana ditegaskan dalam hadits :
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ أَخْبَرَنِي أَبِي أَنَّ وَائِلَ بْنَ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيَّ أخْبَرَهُ قَالَ : قُلْتُ لَأَنْظُرَنَّ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ يُصَلِّي.... ثُمَّ رَفَعَ إِصْبَعَهُ فَرَأَيْتُهُ يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا-[يَدْعُوْ بِهَا معناه يُشِيْرُ بِهَا].(رواه احمد : 18115 – سنن احمد – باب حديث وَائِلَ بْنَ حُجْرٍ الْحَضْرَمِيَّ – الجزء : 38-331)
Abdushshamad bercerita kepada kami, Zaidah bercerita kepada kami, ‘Ashim bin Kulaib bercerita kepada kami, Abi mengabarkan kepadaku, bahwa Wa-il bin Hujr Al-Hadlrami mengabarkan sebuah hadis kepadanya, lalu ia berkata : Sungguh saya melihat Rasulullah saw, bagaimana beliau mengerjakan shalat, .... lalu beliau mengangkat jarinya, kemudian saya melihat beliau menggerakkan jarinya, beliau berisyarat dengan jarinya itu. (HR. Al-Baihaqi : 2787)
Dalam kitab As-Sunan Al-Kubra Lil-Baihaqi dijelaskan, bahwa yang dimaksud dengan “menggerakkan” adalah berisyarat (menunjuk), bukan mengulang-ngulangi gerakannya.[8] Hal ini sejalan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Az-Zubair berikut ini :
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بن أَحْمَدَ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بن مُحَمَّدٍ،...... حَجَّاجُ بن مُحَمَّدٍ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، قَالَ : أَخْبَرَ زِيَادُ بن سَعْدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بن عَجْلانِ، عَنْ عَامِرِ بن عَبْدِ اللَّهِ بن الزُّبَيْرِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ :كَانَ يَشِيرُ بِإِصْبَعِهِ إِذَا دَعَا لا يُحَرِّكُهَا - [دعا معناه اشار].(رواه الطبراني : 4- المعجم الكبير للطبراني – باب قطعة من المفقود – الجزء : 18 – صفحة : 363)
‘Abdan bin Ahmad bercerita kepada kami, ia berkata : Ayyub bin Ahmad bercerita kepada kamki, ...... Hajjaj bin Muhammad, dari Ibnu Juraij,ia berkata : Ziyad bin Sa’d mengabarkan sebuah hadits, dari ‘Amir bin Abdillah bin Az-Zubair, dari ayahnya : Bahwasanya Nabi saw, menunujuk dengan jarinya apabila berisyarat, beliau tidak menggerak-gerakkan jarinya. (HR.Thabrani : 4, Al-Mu’jam Al-Kabir Lith-Thabrani, bab Qith’ah Minal-Mafqud, juz : 18, hal.363)
Ringkasan Rukun Shalat
Rukun shalat dalam garis besarnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu : Rukun Qalbiyyah, rukun Qauliyyah dan rukun Fi’liyyah. Masing-masing dari tiga rukun tersebut adalah sebagai berikut :
1. Rukun Qalbiyyah (rukun yang tempatnya di dalam hati), yaitu niat.
2. Rukun Qauliyyah (rukun yang berupa bacaan) , yaitu : Takbiratul Ihram, membaca surat Al-Fatihah, membaca tasyahhud akhir, membaca Shalawat Nabi sesudah tasyahhud akhir, dan mengucapkan salam yang pertama.
3. Rukun Fi’liyyah (rukun yang berupa pekerjaan atau gerakan fisik), yaitu berdiri, ruku’ dengan thuma’ninah, i’tidal dengan thuma’ninah, Sujud dua kali dalam satu rakaat dengan thuma’ninah, duduk di antara dua sujud dengan thuma’ninah, dan duduk tasyahud akhir.
Urutan Rukun Shalat Dalam Praktek
Urutan rukun shalat dalam praktek adalah sebagai berikut :
1. Niat di dalam hati.
2. Berdiri bagi yang mampu.
3. Takbiratul Ihram (membaca : اَللهُ اَكْبَرُ) bersamaan dengan niat.
4. Membaca surat Al-Fatihah.
5. Ruku’ bersama dengan thuma’ninah (diam sebentar).
6. I’tidal bersama dengan thuma’ninah (diam sebentar).
7. Sujud dua kali bersama dengan thuma’ninah (diam sebentar).
8. Duduk di antara dua sujud bersama dengan thuma’ninah (diam sebentar).
9. Duduk tasyahud akhir.
10. Membaca tasyahhud akhir dalam duduk tasyahud akhir.
11. Membaca Shalawat atas Nabi Muhammad saw sesudah tasyahhud akhir,
12. Mengucapkan salam yang pertama (ke kanan).
13. Tertib, yaitu menertibkan tiap-tiap rukun pada tempatnya masing-masing menurut urutan seperti yang telah disebutkan di atas.



[1]. Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. Ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan shalat wusthaa ialah shalat Ashar. Menurut kebanyakan ahli hadits, ayat ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
[2]. Fathul Bari Libni Hajar, Bab Shalaatul Qa’id, juz : 4, hal. 89
[3]. Taqiyuddin Al-Imam Abi Bakr bin Muhammad, Kifayatul Akhyar, juz 1, Op cit, hal. 67
[4]. H.Sulaiman Rasjid, Fiqih Islam, PT.Sinar Baru, cetakan 32, tahun 1998, Bandung, hal.82
[5]. Al-Jamiu’shshahih, Sunan Tirmidzi, jld 2,hal.59.
[6]. Sulaiman Rasjid.H, Fiqih Islam, Pt. Sinar baru, Bandung cetakan ke 32, tahun 1998, ha.94.
[7] . Ibid, hal. 95.
[8]. As-Sunan Al-Kubra Lil-Baihaqi, jilid 2, hal. 132)
فيحتمل اَنْ يكون اَ لْمُرَادُ بِالتَّحْرِيْكِ اَلإِشَارَةُ بِهَا لاَتَكْرِيْرَ تَحْرِيْكُهَا فَيَكُوْنُ مُوَافِقًا لِرِوَايَةِ ابْنِ الزُّبَيْرِ - والله تعالى اعلم

Tidak ada komentar:

Posting Komentar