Rabu, 30 April 2014

ISRA' DAN MI'RAJ



ISRA’ DAN MI'RAJ NABI MUHAMMAD SAW
Isra` menurut  bahasa berasal dari kata ‘saraa’, yaitu perjalanan di malam hari. Menurut  istilah, Isra` adalah perjalanan Nabi Muhammad  saw di malam hari (diberangkatkan oleh Allah) dari Al-Masjidil Haram di kota Makkah ke Al-Masjidil Aqsha di Palestina.
Mi’raj menurut bahasa berasal dari kata ‘araja, yaitu  naik menuju ke atas. Kata Mi’raj termasuk isim alat, yaitu kata benda yang menunjukkan alat, sehingga maknanya menurut bahasa adalah suatu alat yang dipakai untuk naik, baik berupa tangga maupun yang lainnya. Menurut  istilah, Mi’raj adalah  tangga khusus bagi Nabi saw yang  dengannya beliau dinaikkan ke langit sampai ke Sidratil Muntaha yang merupakan tempat tertinggi.
Bagi umat Islam, peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang berharga, karena ketika inilah shalat lima waktu diwajibkan, dan tidak ada Nabi lain yang mendapat perjalanan sampai ke Sidratil Muntaha seperti ini.
isah Isra` dan Mi’raj disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur`an :
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيررأ ُ (الإسرأ :1)
" Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha mendengar lagi Maha mengetahui". (QS. Al-Isra' [17] : 1)
Rasulullah saw melakukan isra’ dan mi’raj dengan jasmani dan ruhaninya, sesuai dengan kata “abdun” yang ada dalam ayat di atas. Kata ‘abdun berarti “hamba’. Kata ini digunakan untuk ruh dan jasad secara bersamaan. Inilah yang tsabit dalam hadits-hadits Al-Bukhary dan Muslim dengan riwayat yang beraneka ragam.
وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَى. مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَى. وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى. إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى. عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَى. ذُو مِرَّةٍ فَاسْتَوَى. وَهُوَ بِالْأُفُقِ الْأَعْلَى. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلَّى. فَكَانَ قَابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنَى. فَأَوْحَى إِلَى عَبْدِهِ مَا أَوْحَى. مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى. أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى.
 “Demi bintang ketika terbenam, kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) menampakkan diri dengan rupa yang asli. sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). Lalu dia menyampaikan kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar”. (QS. An-Najm : 1-18)
:

Kamis, 24 April 2014

ALIF LAAM MIIM (QS.AL-BAQARAH : 1)



  (الم) Alif Laam Miim
Ayat 1 dari surah Al-Baqarah adalah  (الم) Alif Laam Miim yang terdiri dari huruf-huruf hijaiyah. Huruf-huruf yang dipenggal-penggal menjadi satu huruf-satu huruf, atau mempersandingkan beberapa huruf yang ada di awal-awal surat seperti (الم) dan semisalnya disebut Al-huruf Al-Muqaththa’ah.[1] Misalnya : ن – ص – ق – طه – يس – حم – طسم - الم – المر- المص - كهيعص dan lain sebagainya. Adapun cara membacanya adalah dengan mengucapkan seperti : ن (nuun), ص (shaad), ق  (qaaf), طه (thaa-haa),  يس (yaa-siin), حم (haa-miim), الم (alif-laam-miim), المر (alif-laam-miim-raa), المص (alif-laam-miim-shaad), طسم (thaa-siim-miim), كهيعص (kaaf-haa-yaa-‘aiin- shaad), dan semisalnya.
Dalam menafsirkan Al-huruf Al-Muqaththa’ah tidak ditemukan riwayat yang shahih dari Nabi saw, sehingga kita hanya merujuk  kepada riwayat-riwayat dari para ulama dengan pendapat yang berbeda-beda, antara lain :
1.  Di dalam Tafsir Al-Jalalain, Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi terkait dengan masalah  الم(Alif-Laam-Miim), beliau menyerahkannya  kepada Allah, artinya  beliau tidak mau menafsirkannya. Beliau  berkata :             الله أعلم بمراده بذلك  (Allah sajalah yang mengetahui maksudnya).[2]  
2.  Al-Imam Abul Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir, di dalam tafsir Ibnu Katsir menyajikan beberapa pendapat ulama, antara lain :
a.    الم (Alif-Laam-Miim)  merupakan sesuatu yang hanya di mengerti oleh Allah, pengertiannya dikembalikan kepada Allah.  Hal ini diriwayatkan oleh imam  Al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya, dari Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Ibnu Mas’ud.
b.    لم (Alif-Laam-Miim)  merupakan nama-nama surat di dalam kitab suci Al-Qur’an. Hal ini dikatakan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam.
c.    الم (Alif-Laam-Miim),  حم (haa-miim), المص (alif-laam-miim-shaad), dan ص (shaad) merupakan pembuka-pembuka surat yang diberlakukan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Hal ini dikatakan oleh  Sufyan As-Tsauri, dari Ibnu Abu Najih, dari Mujahid.
d.    Ibnu Abbas pernah berkata : الم (Alif-Laam-Miim) merupakan asma (nama-nama) Allah Yang Maha Agung.
e.    الم (Alif-Laam-Miim)  merupakan qasam (sumpah), yang dipakai oleh Allah karena merupakan salah satu dari asma (nama-nama)Nya.
f.     Ada yang berpendapat bahwa الم (Alif-Laam-Miim)  merupakan  ringkasan dari kata-kata, umpamanya, Alif adalah ringkasan dari الله “Allah”,  Laam adalah ringkasan dari لطيف “Lathiif” dan Miim adalah ringkasan dari مجيد “Majiid”.
Dan Ibnu Jarir telah menyimpulkan bahwa semua pendapat di atas sebenarnya tidak ada yang bertentangan, yaitu huruf-huruf tersebut merupakan nama-nama surat, nama-nama Allah,  dan pendahuluan surat-surat.[3]
Menurut sebagian ahli tafsir, huruf-huruf abjad seperti الم (Alif-Laam-Miim),  حم (haa-miim), المص (alif-laam-miim-shaad), ص (shaad) dan semisalnya itu disebut oleh Allah pada permulaan beberapa surah dari Al-Qur’an adalah untuk "menantang" bangsa Arab agar membuat ayat-ayat seperti ayat-ayat Al-Qur’an, bila mereka tidak percaya bahwa Al-Qur’an itu datangnya dari Allah dan mendakwakan bahwa Al-Quran itu buatan Muhammad. Tantangan itu bunyinya kira-kira begini : Al-Qur’an itu diturunkan dalam bahasa Arab, yaitu bahasa kamu sendiri, yang tersusun dari huruf-huruf abjad, seperti Alif Laam Miim Raa dan semisalnya. Maka kalau kamu tidak percaya bahwa Al-Qur’an itu datangnya dari Allah dan kamu mendakwakan datangnya dari Muhammad, yakni dibuat oleh Muhammad sendiri, maka cobalah kamu buat ayat-ayat yang seperti ayat Al-Qur’an. Kalau Muhammad dapat membuatnya tentu kamu juga dapat membuatnya. Dan ternyata, sekalipun mereka adalah orang-orang yang fasih berbahasa Arab, dan mengetahui pula seluk-beluk bahasa Arab, namun mereka tidak sanggup menjawab tantangan Al-Qur’an. [4]
Ada pula  yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu didatangkan oleh Allah pada permulaan beberapa surah Al-Qur’an adalah untuk menarik perhatian. Memulai pembicaraan dengan huruf-huruf abjad adalah suatu cara yang belum dikenal oleh bangsa Arab di waktu itu, oleh karenanya, agar hal itu lalu menjadi menarik perhatian mereka.[5]
Sebagian ahli tafsir  menggolongkan huruf-huruf abjad seperti الم (Alif-Laam-Miim),  حم (haa-miim), المص (alif-laam-miim-shaad), ص (shaad) dan semisalnya itu ke dalam golongan ayat-ayat “mutasyabihat” (ayat-ayat yang tidak jelas artinya), sehingga mereka tidak mau menafsirkannya dan diserahkannya kepada Allah. Renungkan firman Allah berikut ini :
هُوَ الَّذِي أَنزلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ.(آل عمران :7)
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al-Qur’an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran [3] : 7)
Pada ayat ini Allah swt menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur’an ada ayat-ayat yang “Muhkamat”, yaitu ayat-ayat yang jelas artinya, arti dan maksud yang sebenarnya dapat diketahui dengan mudah, seperti ayat-ayat hukum, dan sebagainya. Dan ada pula ayat-ayat yang “Mutasyabihat”, yaitu ayat-ayat yang tidak jelas artinya, sukar diketahui arti dan maksud yang sebenarnya, dan hanya Allah swt yang mengetahuinya.




[1].Abul Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir, tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Muqaddimah Ibnu Katsir, juz 1, hal. 18 
[2]. Jalaluddin Al-Mahalli dan  Jalaluddin As-Suyuthi,  Tafsir Al-Jalalain, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab 1, juz 1, hal. 7
[3]. Op cit,  Tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab 1, juz 1, hal. 156 - 158
[4]. http://users6.nofeehost.com/alquranonline/Alquran_Tafsir.asp?pageno=1&SuratKe=2#1
[5]. Ibid.  


SURAT AL-BAQARAH (SAPI BETINA)



SURAH AL-BAQARAH (SAPI BETINA)
Surah Al-Baqarah (البقرة)  "Sapi Betina" adalah surah ke-2 dalam Al-Qur'an dan  tergolong surah Madaniyah.[1] Sebagian besar ayat dalam surah ini diturunkan pada permulaan hijrah, kecuali ayat 281 yang diturunkan di Mina pada hari Nahar dalam  peristiwa Haji Wada'.[2] Surah ini merupakan surah terpanjang dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 25.500 (dua puluh lima ribu lima ratus) huruf, 6.120 (enam ribu seratus dua puluh) kata, dan 286 ayat.[3] Surah ini dinamai Al-Baqarah yang artinya Sapi Betina karena di dalam surah ini terdapat kisah penyembelihan sapi betina yang diperintahkan Allah kepada Bani Israil sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surah ini ayat 67-74 yang akan kita bahas kemudian secara khusus. Surah ini juga diberi nama dengan surat Alif Lam Mim (الم) karena surah ini dimulai dengan huruf Alif Lam dan Mim. Dan juga diberi nama dengan  فسطاط القرآن (Fusthaathul Qur'an) “Gudang Al-Qur'an”[4] karena kandungannya sangat banyak yang tidak disebutkan dalam surat yang lain.
Keutamaan Surat Al-Baqarah
حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا عَبْدَةُ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ قَالَ : سُورَةُ الْبَقَرَةِ تَعْلِيمُهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكُهَا حَسْرَةٌ وَلاَ يَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ وَهِىَ فُسْطَاطُ الْقُرْآنِ. (رواه الدارمي : 3439 – سنن الدارمي– المكتبة الشاملة – باب فضل سورة البقرة – الجزء : 10 - صفحة : 264)
Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Mughirah, telah menceritakan kepada kami ‘Abdah, dari Khalid bin Ma’dan berkata : Mengajarkan surat Al-Baqarah adalah keberkahan dan meninggalkannya adalah kesedihan dan  para pahlawanpun tidak akan sanggup menghadapinya,  (karena) ia adalah (Fusthaathul Qur'an) “Gudang Al-Qur'an”.(HR. Ad-Darimi : 3439, Sunan Ad-Darimi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Fadhlul Qur’an, juz 10, hal. 264)
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيُّ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنْ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ. (رواه مسلم : 1300 - صحيح مسلم –المكتبة الشاملة -  باب استحباب صلاة النافلة في بيته– الجزء : 4– صفحة :  182) 
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Ya’qub, yaitu Ibnu Abdirrahman Al-Qari’, dari  Suhail, dari ayahnya,  dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda : Janganlah kaian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan, sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang di dalamnya dibacakan surat Al-Baqarah. (HR.Muslim : 1300, Shahih Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  Istihbaabu shalaatin Nafilah fil-Baiti, juz : 4, hal. 182)
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ الْجُعْفِيُّ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ حَكِيمِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لِكُلِّ شَيْءٍ سَنَامٌ وَإِنَّ سَنَامَ الْقُرْآنِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ وَفِيهَا آيَةٌ هِيَ سَيِّدَةُ آيِ الْقُرْآنِ هِيَ آيَةُ الْكُرْسِيِّ. (رواه الترمذي : 2803 –سنن الترمذي- المكتبة الشاملة – باب ما جاء في فضل  سورة البقرة– الجزء :  10– صفحة : 108)
Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami Husain Al-Ju’fi, dari Zaidah, dari Hakim bin Jubair, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Setiap sesuatu mempunyai puncak, dan puncaknya Al-Quran adalah surat Al-Baqarah, di dalamnya ada ayat yang menjadi tuannya ayat-ayat Al-Quran yaitu ayat kursi. (HR.Tirmidzi : 1548, Sunan Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab maa jaa-a fii fadhli suratil baqarati,  juz : 10, hal. 108)
 حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ طَلْحَةَ عَنْ زُبَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الأَسْوَدِ قَالَ : مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُوِّجَ بِهَا تَاجاً فِى الْجَنَّةِ. (رواه الدارمي :  3441– سنن الدارمي– المكتبة الشاملة – باب فضل سورة البقرة – الجزء : 10 - صفحة : 264)
Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Aban, dari Muhammad bin Thalhah, dari Zubaid, dari Abdurrahman bin Aswad, ia berkata :  Barangsiapa yang membaca surat Al-Baqarah, maka ia akan diberi mahkota kelak di dalam surga. (HR. Ad-Darimi : 3441, Sunan Ad-Darimi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab fii fadhli suratil Baqarati,  10, hal. 266)
 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ و حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ قَرَأَ بِالْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاه ( يَعْنِي مِنْ قِيَامِ الليلِ) .(رواه البخاري :  4624- صحيح البخاري - المكتبة الشاملة – باب فضل سورة البقرة – الجزء :  15– صفحة :  413)  
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, telah mengabarkan kepada kami Syu’bah, dari Sulaiman, dari Ibrahim, dari Abdurrahman, dari Abi Mas’ud, dari Nabi saw bersabda : Barangsiapa yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah pada suatu malam, niscaya kedua ayat itu akan mencukupinya (untuk dibaca dalam shalat malam). (HR.Bukhari : 4624, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab fii fadhli suratil Baqarati,  juz : 15, hal. 413)


[1]. Ayat yang turun sebelum hijrah disebut ayat Makkiyah; sedangkan ayat yang turun sesudah hijrah disebut ayat Madaniyah (lihat Tafsir Ibnu Katsir Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Muqaddimah Ibnu Katsir, juz 1, hal. 18).
[2]. Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakar bin Farah Ansari Khazraji, Tafsir Al-Qurthubi,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab/ juz 1, hal. 152
[3].  Abul Fida’ Isma’il bin Umar bin Katsir, tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab 7   juz 1, hal. 18 dan bab 1, juz 1, hal.  149
[4]. Op cit, Tafsir Al-Qurthubi,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab/ juz 1, hal. 152