Kamis, 03 Juni 2010

SUJUD DALAM SHALAT

Sujud dua kali dalam satu rakaat dengan thuma’ninah (diam sejenak paling cepat sekedar membaca tasbih). Sujud adalah meletakkan anggota sujud ke bumi sebagai tempat sujud dan dilakukan setelah i’tidal. Hadits Nabi :


حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ....فَقَالَ .... ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا.(رواه البخاري: 715 - صحيح البخاري -بَاب وُجُوبِ الْقِرَاءَةِ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ فِي الصَّلَوَاتِ كُلِّهَا- الجزء : 3-صفحة : 205)

Sa’id bin Abi Sa’id bercerita kepadaku, dari ayahnya, diterima dari Abu Hurairah : Bahwasanya Nabi saw ..... bersabda..... : kemudian rukuklah hingga thumaninah dalam rukuk, kemudian bangkitlah hingga engkau berdiri lurus, kemudian bersujudlah hingga thumaninah dalam sujud, kemudian bangkitlah dari sujud hingga thumaninah dalam duduk, kemudian bersujudlah hingga thumaninah dalam sujud, kemudian kerjakanlah seperti itu dalam semua shalatmu. (HR.Bukhari : 715, Shahih Bukhari, Bab Wujubulqiraa-ati Lil-Imam Wal-Ma’mum Fishshalaati Kullihaa, juz : 3, hal. 205)

Sujud hendaklah dilakukan dengan tertib, yaitu dari posisi berdiri tegak pada waktu i’tidal kemudian turun dengan meletakkan kedua tangan kepada kedua lutut, lalu turun dengan meletakkan kedua lutut ke tempat sujud, kemudian kedua tangan dan selanjutnya muka. Hadits Nabi :

اَنْبَأَنَا اَلْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ زِيَاد حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ عن مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَن الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ : قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا سَجَدَ اَحَدُكُمْ فَلاَ يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْجَمَلُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ. (رواه البيهقي – السنن الكبرى للبيهقي - الجزء : 2 – صفحة : 100)

Al-Hasan bin Ali bin Ziyad berecrita kepada kami, Sa’id bin Manshur bercerita kepada kami, Abdul-Aziz bercerita kepada kami, dari Muhammad bin Abdillah, dari Abi Azzinad, dari Al-A’raj, diterima dari Abu Hurairah ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Apabila salah seorang kamu hendak bersujud, maka janganlah menderum sebagaimana unta menderum, dan hendaklah meletakkan kedua tangan kepada kedua lututnya. (HR. Baihaqi, Asunan Al-Kubra Lil-Baihaqi, juz : 2, hal.100)

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ قَالَ : رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَجَدَ وَضَعَ رُكْبَتَيْهِ قَبْلَ يَدَيْهِ وَإِذَا قَامَ مِنْ السُّجُودِ رَفَعَ يَدَيْهِ قَبْلَ رُكْبَتَيْهِ. (رواه ابن ماجه : 872 – سنن ابن ماجه - بَاب السُّجُودِ – الجزء 2 - صفحة : 122)

Al-Hasan bin Ali Al-Khallal bercerita kepada kami, Yazid bin Harun bercerita kepada kami, Syarik bercerita kepada kami, dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari Wa-il bin Hujr ia berkata : Saya melihat Nabi saw, apabila hendak bersujud, beliau meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangannya, dan apabila berdiri dari sujud, beliau mengangkat kedua tangan sebelum kedua lututnya. (HR.Ibnu Majah : 872, Sunan Ibnu Majah, Babussujuud, juz : 2, hal.`122)

Terdapat hadits yang berbeda dari hadits Wa-il di atas tentang tertib bersujud, yaitu turun dari i’tidal dengan meletakkan tangan ke tempat sujud, baru kemudian diikuti dengan kedua lutut. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَن الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا سَجَدَ أَحَدُكُمْ فَلَا يَبْرُكْ كَمَا يَبْرُكُ الْجَمَلُ وَلْيَضَعْ يَدَيْهِ ثُمَّ رُكْبَتَيْهِ.(رواه احمد : 8598 – مسند احمد – باب مسند ابي هريرة – الجزء : 18 – صفحة : 140)

Sa’id bin Manshur bercerita kepada kami, ia berkata : Abdul-Aziz bin Muhammad bercerita kepada kami, ia berkata : Muhammad bin Abdillah bin Al-Hasan bercerita kepadaku, dari Abi Azzinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Apabila salah seorang kamu hendak melakukan sujud, maka janganlah menderum sebagaimana unta menderum, dan hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum kedua lututnya. (HR.Ahmad : 8598, Musnad Ahm,ad, Bab Musnad Abi Hurairah, juz : 18, hal. 140)

Menurut Ibnu Qayyim, bahwa bagian akhir matan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang berbunyi : "meletakkan kedua tangan sebelum kedua lututnya" adalah terbalik. Seharusnya berbunyi : "meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangannya" berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Wail. Alasannya adalah : “Unta menderum yaitu meletakkan kedua kaki depan terlebih dahulu, baru kemudian kedua kaki belakang”. Inilah sebenarnya yang menyerupai unta menderum yang dilarang oleh Rasulullah saw.[1]

Anggota sujud ada tujuh, yaitu muka (jidat dan hidung), kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua kaki. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا بَكْرٌ يَعْنِي ابْنَ مُضَرَ عَنْ ابْنِ الْهَادِي عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : إِذَا سَجَدَ الْعَبْدُ سَجَدَ مَعَهُ سَبْعَةُ آرَابٍ وَجْهُهُ وَكَفَّاهُ وَرُكْبَتَاهُ وَقَدَمَاهُ.(رواه ابو داود : 757 – سنن ابو داود - بَاب أَعْضَاءِ السُّجُودِ – الجزء : 3 – صفحة : 60)

Qutaibah bin Sa’id bercerita kepada kami, Bakar, yaitu Mudhar bercerita kepada kami, dari Ibnu Alhadi, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Amir bin Sa’ad, dari Al-‘Abbas bin Abdul-Muththalib, bahwasanya ia mendengar Rasulullah saw bersabda : Apabila seorang hamba bersujud, maka bersujudlah bersamanya tujuh anggota badan, yaitu : mukanya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya. (HR. Abu Daud : 757, Sunan Abu Daud, Bab A’dhaaissujuud, juz : 3, hal. 60)

Hidung termasuk salah satu dari tujuh anggota sujud. Oleh karenanya, ia juga harus menyentuh ke tempat sujud bersamaan dengan dahi (jidat). Hadits Nabi :

عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَاَى رَجُلاً يُصَلِّيْ فَاِذَاسَجَدَ لَمْ يَمَسَّ اَنْفُهُ اْلأَرْضَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَصَلاَةَ لِمَنْ لاَ يَمَسُّ اَنْفُهُ اْلأَرْضَ مَا يَمَسُّ الْجَبِيْنُ.(رواه البيهقي- السنن الكبرى للبيهقي- الجزء : 2 – صفحة :4)

Dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu Abbas ra, bahwasanya Nabi saw, melihat seorang laki-laki sedang mengerjakan shalat yang apabila bersujud hidungnya tidak menyentuh tanah, lalu Nabi saw, bersabda : Tidak ada shalat bagi orang yang hidungnya tidak menyentuh tanah sebagaimana dahi menyentuh tanah. (HR. Baihaqi, Sunan Asl-Kubra Lil-Baihaqi, juz : 2, hal.4)

Ketika bersujud tidak boleh mencotok ke bumi seperti burung mencotok. Hadits Nabi :

حَدَّثَنِيْ عُبَيْدَةُ بْنُ الْأَسْوَدِ الْقَاسِمِ بْنِ الْوَلِيدِ عَنْ سِنَانِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : اِذَا سَجَدْتَ فَمَكِّنْ جَبْهَتَكَ مِنَ اْلأَرْضِ وَلاَتَنْقُرْ نَقْرًا.(رواه ابن حبان : 1919 – صحيح ابن حبان – باب صفة الصلاة- الجزء : 8- صفحة : 264)

‘Ubaidah bin Al-Aswad bercerita kepadaku, dari Al-Qasim bin Al-Walid, dari Sinan bin Al-Harits bin Musharrif, dari Thalhah bin Musharrif, dari Mujahid, dari Ibnu Umar ra. Bahwasanya Nabi saw, bersabda : Apabila engkau bersujud, maka letakkanlah dahimu ke tanah, dan janganlah engkau mencotok seperti cotok burung. (HR. Ibnu Hibban : 1919, Shahih Ibnu Hibban, Bab Shifatushshalah, juz 8, hal.264)

Ketika bersujud hendaklah meletakkan kedua telapak tangan ke tempat sujud sebagaimana muka bersujud. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ قَالَ : حَدَّثَنَا زُنَيجٌ أَبُو غَسَّانَ قَالَ : حَدَّثَنَا حَكَّامُ بن سَلْمٍ عَنْ عَنْبَسَةَ عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ عَلَى الأَرْضِ فَإِنَّ الْكَفَّيْنِ يَسْجُدَانِ كَمَا يَسْجُدُ الْوَجْهُ.(رواه الطبراني : 224- المعجم الكبير للطبراني –باب 3 - الجزء : 11 – صفحة : 165)

Ahmad bercerita kepada kami, ia berkata : Zunaij, yaitu Abu Ghassan bercerita kepada kami, ia berkata : Hakkam bin Salm bercerita kepada kami, dari ‘Anbasah, dari Ibnu Abi Laila, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, ia berkata : Nabi saw bersabda : Apabila kamu bersujud hendaklah kamu meletakkan kedua telapak tanganmu ke bumi, karena kedua telapak tangan itu bersujud sebagaimana muka bersujud. (HR.Thabrani : 224, Al-Mu’jam Al-Kabir Liththabrani, Bab : 3, juz : 11, hal.165)

Ketika bersujud hendaklah meletakkan kedua tangan sejajar dengan kedua bahu sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi saw :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ بُنْدَارٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا فُلَيْحُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنِي عَبَّاسُ بْنُ سَهْلٍ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَجَدَ أَمْكَنَ أَنْفَهُ وَجَبْهَتَهُ مِنْ الْأَرْضِ وَنَحَّى يَدَيْهِ عَنْ جَنْبَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ.(رواه الترمذي : 250 -بَاب مَا جَاءَ فِي السُّجُودِ عَلَى الْجَبْهَةِ وَالْأَنْفِ- الجزء : 1 – صفحة : 456)

Muhammad bin Basysyar Bundar bercerita kepada kami, Abu Amir Al-Aqadi bercerita kepada kami, Fulaij bin Sulaiman bercerita kepada kami, ‘Abbas bin Sahel bercerita kepada kami, dari Abu Humaid Assa’idi : Bahwasanya Nabi saw apabila sujud meletakkan hidung dan dahinya di bumi, merengganghkan kedua tangannya dari rusuknya dan meletakkan kedua telapak tangannya sejajar dengan kedua bahunya. (HR.Tirmidzi : 250, Sunan Tirmidzi, Bab Maa Jaa-aFissujuudi ‘Alaljabhati Wal-anfi, juz : 1, hal.456)

Jari-jari tangan hendaklah direnggangkan ketika ruku’ dan dirapatkan ketika sujud berdasarkan perbuatan Nabi :

حَدَّثَنَا دَعْلَجُ بْنُ أَحْمَدَ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا الْحَارِثُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْهَمَذَانِىُّ بِهَمَذَانَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ كُلَيْبٍ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا رَكَعَ فَرَّجَ أَصَابِعَهُ وَإِذَا سَجَدَ ضَمَّ أَصَابِعَهُ.(رواه الدارقطني :1298 – سنن الدارقطني - باب ذِكْرِ نَسْخِ التَّطْبِيقِ وَالأَمْرِ بِالأَخْذِ بِالرُّكَبِ – الجزء : 3- صفحة : 416)

Da’laj bin Ahmad bercerita kepada kami, Musa bin Harun bercerita kepada kami, Al-Harits bin Abdillah Al-Hamadzani di Hamadzan bercerita kepada kami, Husyaim bercerita kepada kami, dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ‘Alqamah bin Wa-il, dari ayahnya ia berkata : Rasulullah saw apabila ruku’ merengganhgkan jari-jari tangannya, dan apabila bersujud merapatkan jari-jari tangannya. (HR. Ad-Daruquthni : 1298, Sunan Ad-Daruquthni, Bab Dzikri Naskhittathbiq Wal-Amri Bil-Akhdzi Birrukab, juz : 3, hal.416)

Ketika bersujud hendaklah mengangkat kedua siku, yaitu merenggangkannya dengan kadar apabila ada binatang yang hendak berjalan di bawah lengannya dapat melewatinya. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ أَخْبَرَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ إِيَادٍ عَنْ إِيَادٍ عَن الْبَرَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا سَجَدْتَ فَضَعْ كَفَّيْكَ وَارْفَعْ مِرْفَقَيْكَ.( رواه مسلم : 763- صحيح مسلم - بَاب الِاعْتِدَالِ فِي السُّجُودِ - الجزء : 3-صفحة : 51)

Yahya bin Yahya bercerita kepada kami, ia berkata : ‘Ubaidullah bin Iyad mengabarkan kepada kami, dari Iyad, diterima dari Al-Barra’ ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Apabila kamu bersujud hendaklah kamu meletakkan kedua telapak tanganmu dan mengangkat kedua sikumu. (HR.Muslim : 763, Shahih Muslim, Bab Al-I’tidal Fissujuud, juz : 3, : 51)

أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ مُضَرَ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ ابْنِ هُرْمُزَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَالِكٍ ابْنِ بُحَيْنَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَانَ إِذَا صَلَّى فَرَّجَ بَيْنَ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ بَيَاضُ إِبْطَيْهِ.(رواه البخاري 377 - صحيح البخاري -بَاب يُبْدِي ضَبْعَيْهِ وَيُجَافِي فِي السُّجُودِ- الجزء : 2-صفحة : 147)

Yahya bin Bukair mengabarkan kepada kami, Bakar bin Mudhar bercerita kepada kami, dari Ja’far bin Rabi’ah, dari Ibnu Hurmuz, diterima dari Abdullah bin Malik bin Ibnu Buhainah, bahwasanya Nabi saw, apabila mengerjakan salat, beliau merenggangkan di antara kedua tangannya hingga nampak putih ketiaknya. (HR.Bukhari : 377, Shahih Bukhari, Bab Yubdi Dhab’aihi Wa yujaafii Fissujuud, juz : 2, hal. 147)

أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْأَصَمِّ عَنْ عَمِّهِ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ الْأَصَمِّ عَنْ مَيْمُونَةَ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا سَجَدَ جَافَى يَدَيْهِ حَتَّى لَوْ أَنَّ بَهْمَةً أَرَادَتْ أَنْ تَمُرَّ تَحْتَ يَدَيْهِ مَرَّتْ.(رواه النسائي : 1097–سنن النسائي- بَاب التَّجَافِي فِي السُّجُودِ – الجزء: 4 – صفحة: 282)

Qutaibah mengabarkan kepada kami, ia berkata : Sufyan mengabarkan kepada kami, dari ‘Ubaidillah, yaitu Ibnu Abdillah bin Al-Asham, dari pamannya, yaitu Yazid, dia adalah Ibnu Al-Asham, diterima dari Maimunah, bahwasanya Nabi saw, apabila bersujud, beliau merenggangkan kedua lengannya, sehingga seandainya ada binatang yang hendak melewatinya di bawah lengan itu tentu ia akan dapat melewatinya. (HR.Annasai : 1097, Sunan Annasai, Bab Attajafii Fissujuud, juz 4, hal. 282)

Ketika bersujud dilarang menghamparkan kedua lengan seperti anjing menghamparkannya. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ وَلَا يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ. (رواه مسلم : 762 - بَاب الِاعْتِدَالِ فِي السُّجُودِ – الجزء : 3- صفحة : 50)

Abu Bakar bin Abi Syaibah bercerita kepada kami, Waki’ bercerita kepada kami, dari Syu’bah, dari Anas, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Luruskanlah badanmu di waktu sujud, dan janganlah kamu menghamparkan kedua lenganmu sebagaimana anjing menghamparkan. (HR.Muslim : 762, Babul I’tidal Fissujuud, juz : 3, hal. 50)

Antara anggota sujud dan tempat sujud tidak boleh terhalangi oleh pakaian yang kita pakai, rambut dan sejenisnya yang dapat menjadi penghalang sampainya anggota sujud ke tempat sujud. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ قَالَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةِ أَعْظُمٍ عَلَى الْجَبْهَةِ وَأَشَارَ بِيَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَالْيَدَيْنِ وَالرُّكْبَتَيْنِ وَأَطْرَافِ الْقَدَمَيْنِ - وَلَا نَكْفِتَ الثِّيَابَ وَالشَّعَرَ. (رواه البخاري: 770 - صحيح البخاري - بَاب السُّجُودِ عَلَى الْأَنْفِ- الجزء : 3-صفحة : 298)

Mu’alla bin Asad bercerita kepada kami, ia berkata : Wuhaib bercerita kepada kami, dari Abdullah bin Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas ra ia berkata : Nabi saw bersabda : Saya diperintah untuk sujud atas tujuh tulang, yaitu di atas dahi (jidat) dan beliau menunjuk dengan tangannya kepada hidungnya, dua tangannya, dua lututnya dan ujung kedua telapak kakinya. Dan )anggota sujud( kami tidak boleh terhalangi oleh pakaian dan rambut (untuk sampai ke tempat sujud). (HR.Bukhari : 770, Shahih Bukhari, Babussujuudi ‘Alal-Anfi, juz : 3, hal. 298)

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عَمْرٍو عَنْ طَاوُسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أُمِرْتُ أَنْ أَسْجُدَ عَلَى سَبْعَةٍ لَا أَكُفُّ شَعَرًا وَلَا ثَوْبًا. (رواه البخاري: 774- صحيح البخاري - بَاب لَا يَكُفُّ ثَوْبَهُ فِي الصَّلَاةِ- الجزء : 3-صفحة : 306)

Musa bin Isma’il bercerita kepada kami, ia berkata : Abu ‘Awanah bercerita kepada kami, dari ‘Amer, dari Thawus dari Ibnu Abbas ra, diterima dari Nabi saw., beliau bersabda : Saya diperintah untuk sujud atas tujuh (anggota badan), tidak boleh terhalangi oleh rambut dan tidak pula oleh pakaian. (HR.Bukhari : 774, Shahih Bukhari, Bab Laa Yakuffu Tsaubahuu Fishshalaati, juz : 3, hal. 306)

Antara anggota sujud dengan tempat sujud boleh dibatasi dengan kain yang kita pakai, apabila cuaca sangat panas, sehingga tempat sujud menjadi sangat panas pula dan tidak mendapatkan pembatas yang lain. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ قَالَ حَدَّثَنِي غَالِبٌ الْقَطَّانُ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ : كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَيَضَعُ أَحَدُنَا طَرَفَ الثَّوْبِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ فِي مَكَانِ السُّجُودِ. (رواه البخاري: - 372 - صحيح البخاري -بَاب السُّجُودِ عَلَى الثَّوْبِ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ- الجزء : 2- صفحة : 138)

Abu Al-Walid, yaitu Hisyam bin Abdil –Malik bercerita kepada kami, ia berkata : Bisyr bin Al-Mufadhdhal bercerita kepada kami, ia berkata : Ghalib Al-Qaththan bercerita kepada kepadaku, dari Bakar bin Abdillah, dari Anas bin Malik ra, ia berkata : Kami pernah mengerjakan shalat bersama Nabi saw, lalu salah seorang di anatara kami meletakkan ujung bajunya di tempat sujud karena sangat panas. (HR.Bukhari : 372, Shahih Bukhari, Babussujuud ‘Alatstsawbi Fii Syiddati-Harri, juz : 2, hal. 138)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا بِشْرٌ حَدَّثَنَا غَالِبٌ الْقَطَّانُ عَنْ بَكْرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كُنَّا نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي شِدَّةِ الْحَرِّ فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُمَكِّنَ وَجْهَهُ مِنْ الْأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ. (رواه البخاري : 1132 - صحيح البخاري -بَاب بَسْطِ الثَّوْبِ فِي الصَّلَاةِ لِلسُّجُودِ- الجزء : 4- صفحة : 408)

Musaddat bercerita kepada kami, Bisyr bercerita kepada kami, Ghalib Al-Qaththan bercerita kepada kami, dari Bakar bin Abdillah, dari Anas bin Malik ra, ia berkata : Kami pernah mengerjakan shalat bersama Nabi saw, ketika cuaca sangat panas, maka pada waktu itu seorang diantara kami tidak ada yang sanggup meletakkan dahinya ke bumi, lalu menghamparkan bajunya, kemudian bersujud di atasnya. (HR.Bukhari : 1132, Shahih Bukhari, Bab Basthitstsawbi Fishshalati lissujuud, juz : 4, hal. 408)

Wanita ketika bersujud hendaklah menempelkan perutnya kepada kedua pahanya. Hadits Nabi :

عَنْ عُمَرَ بْنِ ذَرٍّ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اِذَا جَلَسَتِ الْمَرْأَةُ فِى الصَّلاَ ةِ وَضَعَتْ فَخْذَهَا عَلَى فَخْذِهَا اْلأُخْرَى وَ اِذَا سَجَدَتْ اَ لْصَقَتْ بَطْنَهَا فِيْ فَخْذَيْهَا. (رواه البيهقي- السنن الكبرى للبيهقي- الجزء : 2 – صفحة : 222)

Dari Umar bin Dzar, dari Mujahid, diterima dari Abdullah bin Umar ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Apabila wanita duduk dalam shalat, maka ia meletakkan (merapatkan) pahanya pada paha yang satunya, dan apabila ia bersujud, maka ia menempelkan perutnya pada kedua pahanya. (HR. Baihaqi, Sunan Al-Kubra Lil-Baihaai, Juz : 2, hal. 222)



[1]. Al-Jamiu’shshahih, Sunan Tirmidzi, jld 2,hal.59.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar