Minggu, 05 Februari 2012

KHUTBAH JUM’AT

Dua khutbah sebelum melaksanakan shalat jum’at adalah salah satu syarat sahnya shalat jum’at. [1] Dan dua khutbah shalat jum’at disampaikan berdasarkan kebiasaan Nabi saw. Hadits Nabi :

حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ خُطْبَتَيْنِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَجَلَسَ بَيْنَهُمَا. (رواه مالك : 228 – الموطأ مالك – المكتبة الشاملة - بَاب الْقِرَاءَةِ فِي صَلَاةِ الْجُمُعَةِ- الجزء : 1 – صفحة : 335)

Telah menceritakan kepada kami, dari [Malik], dari [Ja’far bin Muhammad] dari ayahnya, bahwa Rasulullah saw, pada hari jum’at berkhutbah dengan dua kali khutbah, dan beliau duduk diantara keduanya. (HR.Malik : 228, Muwaththa Malik, Al-Maktabah Asy-Syamilah, babul qiraah fii shalatil juma’ti, juz : 1, hal.335)

Dan secara umum Rasulullah saw menyeru agar kita melaksanakan shalat seperti yang telah beliau contohkan. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي سُلَيْمَانَ مَالِكِ بْنِ الْحُوَيْرِثِ قَالَ أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا فَأَخْبَرْنَاهُ وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي- وَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ. (رواه البخاري : 5549 – صحيح البخاري – المكتبة الشاملة - بَاب رَحْمَةِ النَّاسِ وَالْبَهَائِمِ – الجزء :18 – صفحة : 423)

Telah menceritakan kepada kami [Musaddad], telah menceritakan kepada kami [Isma’il], telah menceritakan kepada kami [Ayyub], dari [Abu Qiladah) dari [Abu Sulaiman Malik bin Al-Huwairits], ia berkata : Kami datang kepada Nabi saw, sedangkan pada waktu itu kami adalah pemuda yang sebaya. Kami tinggal bersama beliau selama dua puluh malam. Beliau mengira kalau kami merindukan keluarga kami, maka beliau bertanya tentang keluarga kami yang kami tinggalkan. Kami-pun memberitahukannya. Beliau adalah seorang yang sangat lembut dan sangat penyayang. Beliau bersabda : Pulanglah kalian ke keluarga kalian. Tinggallah bersama mereka, dan ajari mereka, serta perintahkan mereka dan “Shalatlah Kalian Sebagaimana Kalian Melihatku Shalat”. Jika telah datang waktu shalat, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan, dan yang paling tua dari kalian menjadi imam kalian. (HR.Bukhari : 5549, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Rahmatin- Naasi wal-Bahaaim, juz : 18, hal. 423)

Rukun Dua Khutbah Jum’at

Rukun khutbah jum’at adalah unsur-unsur yang harus ada atau ditampilkan ketika berkhutbah sebelum shalat jum’at, yaitu :

1. Memuji Allah dengan mengucapkan kalimat “ALHAMDULILLAH” (Segala puji bagi Allah). Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنِي جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُا كَانَتْ خُطْبَةُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ يَحْمَدُ اللَّهَ وَيُثْنِي عَلَيْهِ. (رواه مسلم : 1435 -صحيح مسلم – المكتبة الشاملة - بَاب تَخْفِيفِ الصَّلَاةِ وَالْخُطْبَةِ – الجزء : 4– صفحة : 359)

Telah menceritakan kepada kami [Abdu bin Humaid], telah menceritakan kepada kami [Khalid bin Makhlad], telah menceritakan kepadaku [Sulaiman bin Bilal], telah menceritakan kepadaku [Ja’far bin Muhammad] dari ayahnyua, ia berkata : Aku pernah mendengar [Jabir bin Abdillah] berkata : Khutbah Nabi saw pada hari jum’at adalah beliau memuji Allah dan membaca puji-pujian atasnya. (HR.Muslim : 1435, Shahih Muslim Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Takhfifish shalaati wal-khuthbati, juz : 4, hal.359)

Menurut mazhab Syafi’I hadis ini menjadi dalil bahwa, “MEMUJI ALLAH” di dalam khutbah hukumnya adalah wajib, dan lafaz yang digunakan ditentukan hanya yang berasal dari kata (حَمْدٌ) “HAMD” dan dipersanding dengan lafaz “JALALAH” (الله) seperti : (اَلْحَمْدُ ِللهِ) “ALHAMDULILLAH” (Segala puji bagi Allah) atau (نَحْمَدُ اللهَ) NAHMADULLAAHA (kami memuji Allah), tidak boleh menggunkan lafaz lainnya.[2]

2. Membaca shalawat atas Nabi Muhammad saw. Sekurang-kurangnya membaca kalimat shalawat : (اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ) “ALLAAHUMMA SHALLI ‘ALLA MUHAMMAD” (Semoga Allah memberikan rahmat kepada Nabi Muhammad). Sebagian ulama berpendapat, bahwa shalawat tidak termasuk rukun khutbah, berarti tidak wajib, karena di dalam khutbah Rasulullah saw, tidak terdapat shalawat. Namun demikian, khutbah adalah ibadah yang perlu di dalamnya disebut nama Allah dan Rasul-Nya berdasarkan hadits :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : قَالَ اللَّهُ تَعَالَى : وَجَعَلْتُ أُمَّتَكَ لَا تَجُوزُ عَلَيْهِمْ خُطْبَةٌ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنَّك عَبْدِي وَرَسُولِي.( مغني المحتاج إلى معرفة ألفاظ المنهاج - المكتبة الشاملة – باب صلاة الجمعة – الجزء : 3 – صفحة : 475)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda : Allah saw, berfirman : Aku jadikan umatmu tidak boleh berkhutbah hingga mereka bersaksi bahwa engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku. (Mughni Al-Muhtaj ilaa ma’rifati alfaadhil minhaj, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab shalatil jum’ati, juz : 3, hal. 475)

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ الصَّنْعَانِيِّ عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ.(رواه ابو داود : 1308 – سنن ابو داود – المكتبة الشاملة – باب فى الإستغفار – الجزء : 4 – صفحة : 325)

Telah menceritakan kepada kami [Al-Hasan bin Ali], telah menceritakan kepada kami [Al-husain bin Ali Al-Ju’fi] dari [Abdurrahman bin Yazid bin Jabir] dari [Abu Al-Asy’ats Ash-Shan’ani] dari [Aus bin Aus], ia berkata : Nabi saw bersabda : Sesungguhnya diantara hari-hari kalian yang terbaik adalah hari jum’at, maka perbanyaklah shalawat kepadaku, karena shalawat kalian akan disampaikan kepadaku. (HR. Abu Dawud : 1308, Sunan Abu Dawud, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Istighfar, juz : 4, hal. 325)

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi[3]. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya[4].(QS. Al-Ahzab : 56)

3. Mengcapkan dua kalimat Syahadat, seperti :

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

(Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang pantas disemabah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah) - atau

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

(Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang pantas disemabah selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya)

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ وَمُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زَيِادٍ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ خُطْبَةٍ لَيْسَ فِيهَا تَشَهُّدٌ فَهِيَ كَالْيَدِ الْجَذْمَاءِ.(رواه ابو داود : 4201 – سنن ابو داود – المكتبة الشاملة – باب فى الإستغفار – الجزء : 12– صفحة : 470)

Telah menceritakan kepad kami [Musaddad] dan [Musa bin Isma’il], mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami [Abdulwahid bin Ziyad], telah menceritakan kepada kami [‘Ashim bin Kulaib] dari ayahnya, dari [Abu Hurairah] dari Nabi saw, bersabda : Setiap khutbah yang di dalamnya tidak ada kalimat syahadat seperti tangan yang putus (buntung). (HR. Abu Dawud : 4201, Sunan Abu Dawud, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Istighfar, juz : 12, hal. 470)

4. Membaca ayat Al-Qur’an padasalah satu dari dua khutbah. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَحَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا و قَالَ لْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ سِمَاكٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ كَانَتْ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُطْبَتَانِ يَجْلِسُ بَيْنَهُمَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيُذَكِّرُ النَّاسَ.(رواه مسلم : 1426 -صحيح مسلم – المكتبة الشاملة -بَاب ذِكْرِ الْخُطْبَتَيْنِ قَبْلَ الصَّلَاةِ وَمَا فِيهِمَا مِنْ الْجَلْسَةِ- الجزء : 4– صفحة : 347)

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] dan [Hasan bin Rabi’] dan [Abu Bakar bin Syaibah], [Yahya] berkata : Telah mengabarkan kepada kami, sementara dua orang yang lain berkata : Telah menceritakan kepada kami [Abu Ahwash] dari [Simak] dari [Jabir bin Samurah], ia berkata : Nabi saw melakukan khutbah jum’at dua kali, beliau duduk diantara keduanya. Dalam khutbahnya beliau membaca ayat Al-Qur’an dan memberi peringatan kepada jama’ah.(HR.Muslim : 1426, Shahih Muslim Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab dzikril khutbataini qablash shalati wamaa fihima minal jalsati, juz : 4, hal.347)

5.Berwasiat (memberikan nasehat) dengan takwa, berdasarkan hadits di atas, yaitu “Nabi saw memberi peringatan (nasehat) kepada jam’ah”. Isi nasehat (wasiat) dengan takwa dalam khutbah jum’at adalah seruan untuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.[5] Lafaz yang digunaknya dalam nasehat dalam khutbah jum’at tidak ditentukan hanya menggunakan kata, “TAKWA” sepeti (اتَّقُوا اللَّهَ), tetapi boleh menggunakan kata lainnya, seperti kata “TAAT”, umpama (أَطِيعُوا اللَّهَ).[6] contoh dalam ayat Al-Qur’an :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hai orang-orang yang beriman, BERTAKWALAH kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. (QS.Ali ‘Imran : 102)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ

Hai orang-orang yang beriman, TAATLAH KEPADA ALLAH dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya). (QS. Al-Anfal : 20)

Penjelasan/uraian khutbah menggunakan bahasa yang dapat dimengerti oleh jama’ah. Firman Allah :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ .....

Kami tidak mengutus seorang Rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka.(QS.Ibrahim : 4)

6.Berdoa untuk kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat pada khutbah yang kedua. Sebagian ulama berpendapat bahwa doa dalam khutbah tidak wajib (bukan rukun). Akan tetapi Rasulullah saw pernah berdoa ketika berkhutbah untuk shalat jum’at :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ وَعَنْ يُونُسَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِذْ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكَ الْكُرَاعُ وَهَلَكَ الشَّاءُ فَادْعُ اللَّهَ أَنْ يَسْقِيَنَا فَمَدَّ يَدَيْهِ وَدَعَا. (رواه البخاري : 880 - صحيح البخاري – المكتبة الشاملة -بَاب رَفْعِ الْيَدَيْنِ فِي الْخُطْبَةِ – الجزء : 3 – صفحة : 472)

Telah menceritakan kepada kami [Musaddad], ia berkata : Telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Abdul Aziz bin Shuhaib] dari [Anas] dar dari [Yunus] dari [Tsabit] dari [Anas]ia berkata : Ketika Nabi saw sedang menyampaikan khutbah pada hari jum’at, tiba-tiba ada seorang laki-laki berdiri dan berkata : Wahai Rasulullah, telah binasa binatang ternak (kuda/unta), dan telah binasa pula kambing (kehidupan telah menjadi sulit), maka berdoalah kepada Allah agar diturunkan hujan buat kami. Lalu Rasulullah saw menengadahkan kedua tangannya dan berdoa. (HR.Bukhari : 880, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Raf’il yadain fil-khutbati, juz : 3, hal. 472)



[1]. Taqiyuddin Al-Imam, Kifayatul Akhyar, juz :1, Darul Ilmi, Surabaya Indonesia, tanpa tahun, hal. 121

[2]. Lihat Syarhun Nawaawi ‘alaa Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Takhfifish shalaati wal-khuthbati, juz : 3, hal. 248.

[3]. Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat: dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan:Allahuma shalli ala Muhammad.

[4]. Dengan mengucapkan Perkataan seperti:Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya: semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai Nabi.

[5]. Baca kitab I’aanatuth Thaalibiin, Al-Maktabah Ady-Syamilah, bab/juz : 3, hal. 78

[6]. Baca kitab Asnal mathaalib, Al-Maktabah Ady-Syamilah, bab Far’un At-Takhalluf ‘an shalaatin, juz : 3, hal.461

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar