Jumat, 18 November 2011

Halangan Berjama’ah

Tuntutan mengerjakan shalat berjama’ah menjadi hilang karena adanya beberapa halangan, yaitu :

1. Karena adanya hujan yang menghalangi untuk datang ke tempat shalat berjama’ah. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ قَالَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَمُطِرْنَا فَقَالَ لِيُصَلِّ مَنْ شَاءَ مِنْكُمْ فِي رَحْلِهِ.(رواه مسلم : 1127 – صحيح مسلم– المكتبة الشاملة-بَاب الصَّلَاةِ فِي الرِّحَالِ فِي الْمَطَرِ- الجزء : 3- صفحة : 483)

Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya], telah mengabarkan kepada kami [Abu Khaistamah] dari [Abuz Zubair] dari [Jabir], telah menceritakajn kepada kami [Ahmad bin Yunus], ia berkata : telah menceritakan kepada kami [Zuhair], telah menceritakan kepada kami [Abuz Zubair] dari [Jabir], ia berkata : Kami berangkat bersama Rasulullah saw dalam suatu perjalanan, kemudian kami diguyur hujan, lalu beliau bersabda : Hendaknya kalian shalat di temapt tinggalnya masing-masing bagi siapa yang berkehendak. (HR.Muslim:1127, Shahih Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Babush shalati firrihal filmathari, juz:3, hal. 483)

2. Karena adanya angin kencang atau sangat dingin. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ نَافِعٍ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ أَذَّنَ بِالصَّلَاةِ فِي لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيحٍ ثُمَّ قَالَ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ الْمُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ ذَاتُ بَرْدٍ وَمَطَرٍ يَقُولُ أَلَا صَلُّوا فِي الرِّحَالِ.(رواه البخاري : 626– صحيح البخاري– المكتبة الشاملة- بَاب الرُّخْصَةِ فِي الْمَطَرِ وَالْعِلَّةِ أَنْ يُصَلِّيَ فِي رَحْلِهِ-الجزء :3- صفحة :61)

Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Yusuf], ia berkata : telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Nafi’], bahwa Ibnu Umar pernah mengumandangkan adzan untuk shalat pada suatu hari yang dingin dan berangain. Kemudian ia berkata : Hendaklah kalian Shalat di tempat tinggal kalian. Ia melanjutkan perkataannya : Jika malam sangat dingin dan hujan, Rasulullah saw memerintahkan juru adzan untuk mengucapkan : Hendaklah kalian Shalat di tempat tinggal kalian.(HR.Bukhari : 626, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Babur rukhshah filmathar wal’illah an yushalliya fii rahlih, juz:3, hal. 61)

3. Karena takut atau sakit yang menghalangi untuk datang ke tempat shalat berjama’ah. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ أَبِي جَنَابٍ عَنْ مَغْرَاءَ الْعَبْدِيِّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَمِعَ الْمُنَادِيَ فَلَمْ يَمْنَعْهُ مِنْ اتِّبَاعِهِ عُذْرٌ - قَالُوا وَمَا الْعُذْرُ قَالَ خَوْفٌ أَوْ مَرَضٌ - لَمْ تُقْبَلْ مِنْهُ الصَّلَاةُ الَّتِي صَلَّى. (رواه ابو داود : 464- سنن ابو داود- المكتبة الشاملة-بَاب فِي التَّشْدِيدِ فِي تَرْكِ الْجَمَاعَةِ- الجزء :2 - صفحة : 155 )

Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah], Telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Abu Janab] dari [Maghra’ Al-‘Abdi] dari [‘Adi bin Tsabit] dari [Sa’id bin Jubair] dari [Ibnu ‘Abbas], ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Barangsiapa yang mendengar panggilan juru adzan dan tidak ada alasan (uzur) yang menghalangi untuk mengikuti (shlat berjama’ah), maka tidak diterima shalat yang dia kerjakan. Sahabat bertanya : Apakah alasan (uzur itu)? Beliau menjawab : Takut atau sakit. (HR.Abu Daud : 474, Sunan Abu Daud, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab fii tasyid fii tarkil jama’ah, juz : 2, hal. 155)

4. Karena terdesak untuk buang air atau karena lapar/kaus, sedangkan makanan sudah terhidang. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَبِي حَزْرَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يُصَلَّى بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا وَهُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ.(رواه احمد : 23037– مسند احمد– المكتبة الشاملة– باب حديث السدة عائشة رضي الله عنها- الجزء : 49– صفحة : 193)

Telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Abu Hazrah], ia berkata : telah menceritakan kepadaku [Abdullah bin Muhammad], ia berkata : Aku mendengar Aisyah berkata : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : Tidak diperbolehkan shalat ketika santapan telah dihidangkan, dan tidak diperbolehkan pula mendirikan shalat dengan menahan kencing atau buang air besar. (HR. Ahmad : 23037, Musnad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab hadits Sayyidah Aisyah ra, juz :49, hal.193)

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ أَبِي أُسَامَةَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا وُضِعَ عَشَاءُ أَحَدِكُمْ وَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَابْدَءُوا بِالْعَشَاءِ وَلَا يَعْجَلْ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْهُ.(رواه البخاري : 633– صحيح البخاري– المكتبة الشاملة-بَاب إِذَا حَضَرَ الطَّعَامُ وَأُقِيمَتْ الصَّلَاةُ- الجزء : 3- صفحة : 70)

Telah menceritakan kepada kami [Ubaid bin Isma’il] dari [Abu Usamah] dari [Ubaidillah] dari [Nafi’] dari [Ibnu Umar], ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Apabila makanan malam kalian telah dihidangkan dan suara qamat telah dikumandangkan, maka mulailah dengan makan malam, dan jangan tergsa-gesa hingga makannya rampung. (HR.Bukhari : 233, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab idzaa hadlarath tha’aam wa uqiimatish shalaatu, juz: 3, hal. 70)

5. Karena baru selesai makan yang berbau tidak sedap. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو صَفْوَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ أَخْبَرَنَا يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَطَاءٌ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا زَعَمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَكَلَ ثُومًا أَوْ بَصَلًا فَلْيَعْتَزِلْنَا أَوْ لِيَعْتَزِلْ مَسْجِدَنَا.(رواه البخاري : 5032– صحيح البخاري– المكتبة الشاملة- بَاب مَا يُكْرَهُ مِنْ الثُّومِ وَالْبُقُولِ فِيهِ-الجزء : 17- صفحة : 91)

Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Abdillah], telah menceritakan kepada kami [Abu Shafwan] yaitu [Abdullah bin Sa’id], telah meengabarkan kepada kami [Yunus] dari [Ibnu Syihab] ia berkata : Telah menceritakan kepadaku [‘Atha’], bahwa [Jabir bin Abdillah ra.] meyakini dari Nabi saw, beliau bersabda : Barangsiapa yang makan bawang merah atau bawang putih, maka hendaklah ia menjauhi kami, atau beliau mengatakan : Hendaklah ia menjauhi tempat shalat kami. (HR.Bukhari : 5032, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Babu maa yukrahu min Atstsaum walbuqul fiih, juz: 17, hal. 91)

Mengulangi Shalat Dengan Berjama’ah

Seseorang yang telah melaksanalah shalat, bila mendapatkan shalat berjama’ah disyari’atkan kepadanya mengulangi shalatnya. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا يَعْلَى بْنُ عَطَاءٍ حَدَّثَنَا جَابِرُ بْنُ يَزِيدَ بْنِ الْأَسْوَدِ الْعَامِرِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّتَهُ فَصَلَّيْتُ مَعَهُ صَلَاةَ الصُّبْحِ فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ قَالَ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ وَانْحَرَفَ إِذَا هُوَ بِرَجُلَيْنِ فِي أُخْرَى الْقَوْمِ لَمْ يُصَلِّيَا مَعَهُ فَقَالَ عَلَيَّ بِهِمَا فَجِيءَ بِهِمَا تُرْعَدُ فَرَائِصُهُمَا فَقَالَ مَا مَنَعَكُمَا أَنْ تُصَلِّيَا مَعَنَا فَقَالَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا قَدْ صَلَّيْنَا فِي رِحَالِنَا قَالَ فَلَا تَفْعَلَا إِذَا صَلَّيْتُمَا فِي رِحَالِكُمَا ثُمَّ أَتَيْتُمَا مَسْجِدَ جَمَاعَةٍ فَصَلِّيَا مَعَهُمْ فَإِنَّهَا لَكُمَا نَافِلَةٌ. (رواه الترمذي : 203- سنن الترمذي- المكتبة الشاملة- بَاب مَا جَاءَ فِي الرَّجُلِ يُصَلِّي وَحْدَهُ ثُمَّ يُدْرِكُ الْجَمَاعَةَ- الجزء :1 - صفحة :371)

Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Mani’], telah menceritakan kepada kami [Husyaim], telah mengabarkan kepada kami [Ya’la bin ‘Atha’], telah menceritakan kepada kami [Jabir bin Yazid bin Al-Aswad Al-‘Amiri] dari ayahnya, ia berkata : Aku pernah berhaji bersamka Nabi saw, lalu aku shalat shubuh bersamanya di masjid Al-Khaif. Ia berkata : Ketika beliau selesai melaksanakan shalat shubuh dan berpaling, tiba-tiba ada dua orang laki-laki dari kaum lain yang tidak ikut shalat berjama’ah bersama beliau. Maka beliau pun bersabda : Bawalah dua orang itu kemari, maka mereka-pun dibawa ke hadapan Nabi saw sedang urat mereka gemetar. Beliau bersabda : Apa yang menghalangi kalian untuk shalat bersama kami? Mereka berdua menjawab : Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami telah shalat di tempat kami. Beliau bersabda : Jangan kalian lakukan, jika kalian telah melaksanakannya di tempat kalian, lalu kalian datang ke masjid yang melaksanakan shalat berjama’ah, maka shalatlah bersama mereka, karena hal itu akan menjadi pahala nafilah (sunah tambahan) buat kalian berdua. (HR.Tirmidzi : 203, Sunan Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab maa jaa-a firrajul yushalli wahdahuu tsumma yudrikul jama’ah, juz : 1, hal. 371)

Abu ‘Isa berkata : Hadits Yazid bin Al-Aswad di atas, derajatnya adalah Hasan Shahih. Ini adalah pendapat banyak ulama, dan pendapat ini dipegang juga oleh Sufyan Ats-Tsauri, Syafi’I, Ahmad dan Ishaq, mereka berkata : Apabila seseorang telah shalat sendirian, kemudian mendapatkan shalat berjama’ah, maka hendaklah ia mengulangi shalatnya dengan berjama’ah. Dan mereka berpendapat, bahwa shalat yang telah dilakukan sendirian, itulah yang fardlu.[1]

Sayid Sabiq memaparkan dalam kitab Fiqhussunnah, bahwa seseorang yang telah melaksanakan shalat fardlu secara berjama’ah atau sendirian (munfarid), kemudian mendapatkan shalat berjama’ah lagi di masjid, maka kepadanya disyari’atkan mengulangi shalatnya dengan niat shalat sunat. Terdapat suatu riwayat, bahwa Hudzaifah mengulangi shalat Zhuhur, ‘Ashar dan Maghrib, padahal ia telah melaksanakan shalat itu dengan berjama’ah pula. Dalam riwayat lain, bahwa Anas mengerjakan shalat shubuh bersama Abu Musa di tempat penjemuran kurma (Marbad), lalu mereka berdua datang ke masjid jami’ yang sedang hendak mendirikan shalat berjama’ah, maka keduanya-pun shalat lagi bersama Mughirah bin Syu’bah.[2]

Adapun Rasulullah saw yang pernah melarang mengerjakan satu macam shalat diulangi sebanyak dua kali dalam satu hari, kita baca hadits yang dimaksud dengan komentar para pakar berikut ini :

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا حُسَيْنُ بْنُ ذَكْوَانَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ مَوْلَى مَيْمُونَةَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا تُصَلُّوا صَلَاةً فِي يَوْمٍ مَرَّتَيْنِ.(رواه احمد : 4752 – مسند احمد– المكتبة الشاملة– باب عبد الله بن عمر – الجزء : 10 – صفحة : 288)

Telah menceritakan kepada kami [Yazid], telah mengabarkan kepada kami [Husain bin Dzakwan] Dari [ [‘Amr bin Syua’ib], telah menceritakan kepadaku [Sulaiman] mantan budak [Maimunah], aku mendengar Abdullah bin Umar berkata : Aku mendengar Rasulullah saw bersabda : janganlah kalian melakukan satu shalat dua kali dalam sehari. (HR. Ahmad : 4752, Musnad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab Abdullah bin Umar, juz : 10, hal. 288)

Mengenai larangan dalam hadits di atas, Ibnu Abdul Bar berkata : Ahmad dan Ishaq sepakat, bahwa larangan tersebut adalah kepada seseorang yang mengerjakan shalat fardlu, kemudian setelah selesai, ia mengulangi mengerjakan shalat dengan niat shalat fardlu pula. Tetapi kalau yang kedua diniatkan sebagai shalat sunat dengan berjama’ah, jelas ada tuntunannya dari Nabi saw, tidak termasuk mengulangi shalat, sebab yang pertama dilakukan dengan niat fardlu; sedang yang kedua dilakukan dengan niat sunat.[3]



[1]. Tirmidzi, hadits ke : 203, Sunan Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab maa jaa-a firrajul yushalli wahdahuu tsumma yudrikul jama’ah, juz : 1, hal. 371

[2]. Op cit, Sayid Sabiq, hal. 239

[3]. Ibid, hal. 239

Mufaroqah (Berpisah Dari Imam)

Seseorang yang bermakmum kepada seorang imam, boleh memisahkan diri dari imam dengan niat mufaroqah (berpisah dari imam), lalu menyempurnakan sendiri apa-apa yang belum dikerjakan. Hal ini dapat dilakukan, karena imam terlalu panjang bacaan shalatnya, atau karena seseorang yang di waktu shalat tiba-tiba sakit, atau karena takut kehilangan atau rusaknya harta yang dimiliki, atau karena takut terlambat dari rombongan, atau karena terasa mengantuk, atau karena sebab-sebab lain yang memaksa[1]. Hadits Nabi :

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ يَأْتِي فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ فَصَلَّى لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى قَوْمَهُ فَأَمَّهُمْ فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَانْحَرَفَ رَجُلٌ فَسَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى وَحْدَهُ وَانْصَرَفَ فَقَالُوا لَهُ أَنَافَقْتَ يَا فُلَانُ قَالَ لَا وَاللَّهِ وَلَآتِيَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَأُخْبِرَنَّهُ فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا أَصْحَابُ نَوَاضِحَ نَعْمَلُ بِالنَّهَارِ وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى مَعَكَ الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى مُعَاذٍ فَقَالَ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ اقْرَأْ بِكَذَا وَاقْرَأْ بِكَذَا - قَالَ سُفْيَانُ فَقُلْتُ لِعَمْرٍو إِنَّ أَبَا الزُّبَيْرِ حَدَّثَنَا عَنْ جَابِرٍ أَنَّهُ قَالَ اقْرَأْ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى وَسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى فَقَالَ عَمْرٌو نَحْوَ هَذَا.(رواه مسلم : 709– صحيح مسلم– المكتبة الشاملة- بَاب الْقِرَاءَةِ فِي الْعِشَاءِ– الجزء :2- صفحة : 488)

Telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin ‘Abbad], telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [‘Amr] dari [Jabir], ia berkata : Mu’adz biasanya shalat bersama Nabi saw, kemudian dia datang (ke tempat shalat), lalu mengimami kaumnya. Maka pada suatu malam dia shalat ‘isya’ bersama Nabi saw, kemudian dia mendatangi kaumnya, lalu mengimami mereka, dia membuka dengan membaca surat Al-Baqarah, maka ada seorang laki-laki berpaling dan mengucapkan salam, lalu shalat sendirian, lalu berpaling pergi. Maka mereka berkata kepadanya : Apakah engkau telah berlaku munafiq wahai si Fulan? Dia menjawab : Tidak, demi Allah, aku akan mendatangi Rasulullah saw, lalu aku akan mengabarkan kepada beliau. Lalu dia mendatangi Rasulullah saw seraya berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah pekerja penyiram (tanaman) bekerja pada siang hari, dan sesungguhynya Mu’adz shalat ‘isya’ denganmu, kemudian dia datang kepada kami dengan membukanya dengan surat Al-Baqarah, maka Rasulullah saw menghadap Mu’adz seraya bersabda : Wahai Mu’adz, apakah kamu pemfitnah (yang membuat orang lari dari agama), bacalah dengan surat ini dan dengan surat ini. (Maksudnya surat yang ringkas dan pendek). Berkata Sufyan, maka saya berkata kepada ‘Amr : Sesungguhnya [Abu Az-Zubair] telah menceritakan kepada kami, dari [Jabir], bahwa dia berkata : Bacalah Iqra’, Wasy-Syamsi Wa Dluhahaa, Wadh-Dluhaa, Wal-Laili idzaa Yaghsyaa dan Sabbihisma rabbikal A’laa. Maka ‘Amr berkata : Dan semisal ini. (HR.Muslim:709, Shahih Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab qira-ah fil-‘isya’, juz:2,hal.488)



[1]. Sayid Sabiq, Fiqhussunnah, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab 1, juz 1, hal. 238

Sabtu, 05 November 2011

MAKMUM MASBUQ

Makmum dalam shalat terbagi menjadi dua bagian, yaitu : (1) Makmum Muwafiq (yang setuju/cocok) adalah makmum yang memulai shalatnya bersama imam, dan mempunyai cukup waktu menyelesaikan bacaan Al-Fatihah beserta imam pada rakaat pertama. (2) Makmum Masbuq (yang di dahului) adalah makmum yang terlambat mengikuti imam, sehingga tidak mempunyai waktu yang cukup untuk membaca Al-Fatihah dengan sempurna beserta imam pada rakaat pertama.

Sesudah takbiratul Ihram, makmum masbuk hendaknya mengikuti Imam dalam posisi yang didapatinya, mungkin imam dalam posisi hendak rukuk, atau sedang rukuk, i’tidal, sujud, duduk antara dua sujud, atau mungkin sedang duduk tasyahud. Hadits :

حدثنا سفيان عن عبد العزيز بن رفيع عن شيخ من الانصار قال جاء رجل والنبى صلى الله عليه وسلم يصلى فلما انصرف قال : إِذَا وَجَدْتُمُوْهُ قَائِمًا أَوْ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا أَوْ جَالِسًا فَافْعَلُوْا كَمَا تَجِدُوْنَهُ, وَلاَ تَعْتَدُّوْا بِالسَّجْدَةِ إِذَا لَمْ تُدْرِكُوْا الرَّكْعَةَ.(رواه البيهقي – السنن الكبرى للبيهقي – المكتبة الشاملة –باب : 2 - الجزء : 2 – صفحة : 296)

Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Abdul Aziz bin Rafi’] dari seorang laki-laki dari sahabat Anshar, ia berkata : Seorang lelaki datang kepada Nabi saw, pada saat beliau sedang mengerjakan shalat, setelah beliau selesai shalat, beliau bersabda : Jika kalian mendapati imam dalam keadaan berdiri, rukuk, sujud, atau duduk, maka lakukanlah sebagaimana engkau mendapatinya. Janganlah engkau memperhitungkan sujudnya, jika engkau tidak mendapati rukuknya. (HR. Baihaqiy, Sunan Al-Kubra Lil-Baihari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab :2, juz : 2, hal. 296)

انبأنا شعبة عن عبد العزيز بن رفيع عن رجل عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : إِذَا جِئْتُمْ وَاْلإِمَامُ رَاكِعٌ فَارْكَعُوْا وَإِنْ كَانَ سَاجِدًا فَاسْجُدُوْا وَلاَ تَعْتَدُّوْا بِالسُّجُوْدِ إِذَا لَمْ يَكُنْ مَعَهُ الرُّكُوْعُ.(رواه البيهقي – السنن الكبرى للبيهقي – المكتبة الشاملة –باب : 2 - الجزء : 2 – صفحة : 89)

Telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] dari [Abdul Aziz bin Rafi’] dari seorang lelaki, dari Nabi saw, beliau bersabda : Jika kalian datang, sedang imam rukuk, maka rukuklah. Jika ia sujud, maka bersujudlah, dan jangan perhitungkan sujudnya, jika tidak ada rukuk bersamanya. (HR. Baihaqiy, Sunan Al-Kubra Lil-Baihari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab :2, juz : 2, hal. 89)

Kalimat : “Janganlah engkau memperhitungkan sujudnya, jika engkau tidak mendapati rukukny”. Maksudnya adalah seorang makmum masbuq yang tidak mendapatkan rukuknya imam, maka sujudnya pada rakaat itu tidak dihitung. Atau dengan kata lain : Makmum masbuq yang tidak mendapatkan rukuknya imam, maka pada rakaat tersebut ia tidak dihitung mendapatkan rakaat. Tapi jika ia mendapatkan imam dalam posisi rukuk, lalu ia rukuk bersama imam, maka ia termasuk mendapatkan rakaat. Hadits Nabi :

عَنْ عَبْدِ اللهِ يَعْنِيْ ابْنَ مَسْعُوْدٍ قَالَ : مَنْ لَمْ يُدْرِكِ اْلإِمَامَ رَاكِعًا لَمْ يُدْرِكْ تِلْكَ الرَّكْعَةَ.(رواه البيهقي – السنن الكبرى للبيهقي – المكتبة الشاملة –باب : 2 - الجزء : 2 – صفحة : 90)

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata : Barangsiapa yang tidak mendapatkan imam sedang rukuk, maka ia tidak mendapatkan rakaat tersebut. (HR. Baihaqiy, Sunan Al-Kubra Lil-Baihari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab :2, juz : 2, hal. 90)

اخبرني مالك وابن جريج عن نافع عن ابن عمر أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ: مَنْ أَدْرَكَ اْلإِمَامَ رَاكِعًا فَرَكَعَ قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ اْلإِمَامَ رَأْسَهُ فَقَدْ أَدْرَكَ تِلْكَ الرَّكْعَةَ.(رواه البيهقي – السنن الكبرى للبيهقي – المكتبة الشاملة –باب : 2 - الجزء : 2 – صفحة : 90)

Telah menceritakan kepadaku [Malik] dan [Ibnu Juraij] dari [Nafi’] dari [Ibnu Umar, bahwa sesungguhnya ia berkata : Barangsiapa yang mendapati imam dalam keadaan rukuk, lalu ia rukuk sebelum imam mengangkat kepalanya, maka sungguh ia telah mendapatkan rakaat tersebut. (HR. Baihaqiy, Sunan Al-Kubra Lil-Baihari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab :2, juz : 2, hal. 90)

Apabila ada kekurangan rakaat, maka makmum masbuq wajib menamabah rakaat sesudah imam mengucapkan salam, sesuai dengan jumlah kekurangannya. Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ قَالَ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ يَحْيَى عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ نُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ جَلَبَةَ رِجَالٍ فَلَمَّا صَلَّى قَالَ مَا شَأْنُكُمْ قَالُوا اسْتَعْجَلْنَا إِلَى الصَّلَاةِ قَالَ فَلَا تَفْعَلُوا إِذَا أَتَيْتُمْ الصَّلَاةَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا. (رواه البخاري : 599- صحيح البخاري – المكتبة الشاملة -بَاب قَوْلِ الرَّجُلِ فَاتَتْنَا الصَّلَاةُ – الجزء : 3- صفحة : 13)

Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu’aim], ia berkata : telah menceritakan kepada kami [Syaiban] dari [Yahya] dan [Abdullah bin Abi Qatadah] dari ayahnya, ia berkata : Ketika kami shalat bersama Nabi saw, tiba-tiba beliau mendengar suara gaduh orang-orang. Maka setelah selesai shalat beliau bertanya : Apakah yang terjadi pada kalian? Mereka menjawab : Kami tergesa-gesa mendatangi shalat. Beliau bersabda : Janganlah kalian berbuat seperti itu. Jika kalian mendatangi shalat, maka datanglah dengan tenang. Apa yang kalian dapatkan dari shalat, maka ikutilah, dan apa yang kalian tertinggal, maka sempurnakanlah. (HR.Bukhari : 599, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab qaulilr rajul fattanash shalata, juz : 3, hal. 13)

IMAM YANG DIBENCI

Banyak sekali hadits yang menjelaskan larangan menjadi imam bagi seorang yang dibenci oleh jama’ah disebabkan oleh keagamaan (sebab syar’iyah).[1] Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ هَيَّاجِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْأَرْحَبِيُّ حَدَّثَنَا عُبَيْدَةُ بْنُ الْأَسْوَدِ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ الْوَلِيدِ عَنْ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثَةٌ لَا تَرْتَفِعُ صَلَاتُهُمْ فَوْقَ رُءُوسِهِمْ شِبْرًا رَجُلٌ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ وَامْرَأَةٌ بَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَلَيْهَا سَاخِطٌ وَأَخَوَانِ مُتَصَارِمَانِ.(رواه ابن ماجه : 961- سنن ابن ماجه – المكتبة الشاملة - بَاب مَنْ أَمَّ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ – الجزء :3– صفحة : 236)

Telah menceritakan kepada kami [Muhammd bin Umar bin Hayyaj], telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Abdurrahman Al-Arhaby], telah menceritakan kepada kami [‘Ubaidah bin Al-Aswad] dar [Al-Qasim bin Al-Walid] dari [Al-Minhal bin ‘Amr] dari [Sa’id bin Jubair] dari [Ibnu Abbas] dari Rasulullah saw, beliau bersabda : Tiga golongan yang shalatnya tidak akan diangkat meski satu jengkal dari kepalanya, yaitu (1) seseorang yang mengimami suatu kaum sementara mereka membencinya, (2) seorang perempuan yang bermalam sementara suaminya marah kepadanya, (3) dan dua bersaudara saling bermusuhan. (HR. Ibnu Majah : 961, Sunan Ibnu Majah, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab man amma qauman wahum karihuun, juz : 3, hal. 236)

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ غَانِمٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ عَبْدٍ الْمَعَافِرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ ثَلَاثَةٌ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ مِنْهُمْ صَلَاةً مَنْ تَقَدَّمَ قَوْمًا وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ - وَرَجُلٌ أَتَى الصَّلَاةَ دِبَارًا وَالدِّبَارُ أَنْ يَأْتِيَهَا بَعْدَ أَنْ تَفُوتَهُ - وَرَجُلٌ اعْتَبَدَ مُحَرَّرَهُ.(رواه ابو داود : 501- سنن ابو داود – المكتبة الشاملة - بَاب الرَّجُلِ يَؤُمُّ الْقَوْمَ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ – الجزء : 2 – صفحة : 208)

Telah menceritakan kepada kami [Al-Qa’nabi], telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Umar bin Ghanim] dari [Abdurrahman bin Ziyad] dari [‘Imran bin ‘Abdil ma’aafiri] dari [ Abdullah bin ‘Amr], bahwa Rasulullah saw bersabda : Tiga golongan yang Allah tidak akan menerima shalat dari mereka, yaitu (1) menjadi imam di tengah-tengah masyarakat yang membencinya, (2) orang yang selalu melaksanakan shalat setelah waktunya habis, dan (3) memperbudak orang yang telah dimerdekakannya. (HR. Abu Daud : 501, Sunan Abu Daud, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Babur rajul ya-ummul qauma wahum lahuu kaarihuun, juz : 2, hal. 208)

Imam Tirmidzi berkata : Seseorang yang dibenci oleh jama’ahnya adalah makruh menjadi imam. Namun bila orang yang dibenci itu bukan seorang yang zhalim, maka dosanya itu terpikul di atas pundak orang yang membencinya.[2] Menurut imam Asy-Syaukani, bahwa hadits tersebut di atas menunjukkan hukum haram menjadi imam bagi seseorang yang dibenci oleh jama’ahnya.[3]

IMAM KETINGGALAN SYARAT ATAU RUKUN

Sah bermakmum kepada imam yang ketinggalan syarat atau rukun, selama makmum memenuhinya, dan makmum tidak mengetahui bahwa ada syarat atau rukun yang ketinggalan oleh imam.[4] Hadits Nabi :

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ الْمَدِينِيُّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلُّونَ بِكُمْ فَإِنْ أَصَابُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ وَإِنْ أَخْطَئُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ. (رواه احمد : 8309- مسند احمد- المكتبة الشاملة –بَاب مسند ابي هريرة – الجزء : 17- صفحة : 351)

Telah menceritakan kepada kami [Hasan bin Musa], telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Abdillah bin Dinar Al-Madiny] dari [Zaid bin Aslam] dari [‘Atha’ bin Yasar] dari [Abu Hurairah], ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Mereka shalat sebagai imam bagi kalian. Jika mereka benar, maka kalian mendapatkan pahala dan mereka juga mendapatkan pahala. Dan jika mereka salah, maka kalian tetap mendapatkan pahala dan mereka mendapatkan dosa.(HR. Ahmad : 8309, Musnad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab Musnad Abu Hurairah, juz : 17, hal. 351)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ سُلَيْمَانَ أَخُو فُلَيْحٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ قَالَ كَانَ سَهْلُ بْنُ سَعْدٍ السَّاعِدِيُّ يُقَدِّمُ فِتْيَانَ قَوْمِهِ يُصَلُّونَ بِهِمْ فَقِيلَ لَهُ تَفْعَلُ وَلَكَ مِنْ الْقِدَمِ مَا لَكَ قَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِمَامُ ضَامِنٌ فَإِنْ أَحْسَنَ فَلَهُ وَلَهُمْ وَإِنْ أَسَاءَ يَعْنِي فَعَلَيْهِ وَلَا عَلَيْهِمْ. (رواه ابن ماجة : 971- سنن ابن ماجة– المكتبة الشاملة -بَاب مَا يَجِبُ عَلَى الْإِمَامِ – الجزء :3– صفحة : 250)

Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abi Syaibah], telah menceritakan kepada kami [Sa’id bin Sulaiman], telah menceritakan kepada kami [Abdul Hamid bin Sulaiman - saudara Fulaih], telah menceritakan kepada kami [Abu Hazim], ia berkata : Sahl bin Sa’id As-Sa’idi menunjuk seorang anak muda menjadi imam shalat bersama mereka, maka dikatakan kepada Sahl : Kamu (yang pantas) melakukan hal itu, dan kamu yang lebih awal masuk islam. Sahl menjawab : Saya pernah mendengar Rasulullah saw bersabda : Imam itu orang yang bertanggung jawab. Jika ia benar, maka pahala baginya dan pahala pula bagi mereka. Tetapi jika ia salah, maka dosa baginya dan tidak dosa bagi mereka. (HR. Ibnu Majah : 971, Sunan Ibnu Majah, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab maa yajibu ‘alal imam, juz : 3, hal. 250)

حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدٍ الْقَاسِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِىٍّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى سَلَمَةَ عَنِ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنِ الشَّرِيدِ الثَّقَفِىِّ أَنَّ عُمَرَ صَلَّى بِالنَّاسِ وَهُوَ جُنُبٌ فَأَعَادَ وَلَمْ يَأْمُرْهُمْ أَنْ يُعِيدُوا. (رواه الدارقطني : 1387- سنن الدارقطني - المكتبة الشاملة - باب الصَّلاَةِ خَلْفَ الصَّفِّ – الجزء : 4– صفحة : 18)

Telah menceritakan kepada kami [Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Isma’il], telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Hassan], telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Mahdi], telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz bin Abdillah bin Abi Salamah] dari [Ibnul Munkadir] dari [Asy-Syarid Ats-Tsaqafi], bahwa Umar pernah shalat dengan orang-orang (sebagai imam), padahal ia sedang dalam keaadaan junub, maka setelah selesai shalat ia mengulangi shalatnya, namun ia tidak menyuruh mereka untuk mengulangi shalatnya itu. (HR. Ad-Daruqthni:1387, Sunan Adf-Daruquthny, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Babush shalat khalfash shaffi, juz:4, hal. 18)



[1]. Sayid Sabiq, Fiqhussunnah, Al-Maktabah Asy-Sy-Syamilah, bab : 1`, Juz : 1, hal. 242

[2]. Ibid, hal. 242

[3]. تحفة الأحوذي – باب ما جاء فيمن ام قوما وهم كارهون – المكتبة الشاملة – الجزء : 1 – صفحة : 387

[4]. Op cit. Sayid Aabiq, hal. 241