Rabu, 19 Oktober 2016

SURAT AL-BAQARAH AYAT 38



SURAT AL-BAQARAH AYAT 38
Ayat 38 surat Al-Baqarah ini masih membicarakan soal kisah Adam, Hawa dan setan. Setelah setan berhasil menggoda Adam dan Hawa’ untuk tidak mematuhi perintah Allah, maka mereka semua diperintah untuk turun dari surga ke bumi. Allah menegaskan dan sekaligus memberi peringatan bahwa jika nanti datang petunjuk dari-Nya, lalu petunjuk itu diikuti, dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, maka mereka tidak akan ada kekhawatiran dan tidak pula akan bersedih hati, mereka akan hidup damai, tenang dan bahagia dunia akhirat. Firman Allah :
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Kami berfirman : "Turunlah kalian semuanya dari surga itu! kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati"
Pada pertengahan ayat 36 surat Al-Baqarah telah terdapat perintah turun dari surga ke bumi kepada Adam, Hawa’ dan Setan yang menggelincirkan keduanya. Kemudian dalam ayat 38 ini terdapat pula perintah yang sama, yaitu : Turunlah kalian semuanya dari surga itu! Pengulangan perintah ini  adalah untuk mengokohkan atau menguatkan serta penegasan terhadap perintah tersebut.[1] 
Awal ayat 38 :  قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا Kami berfirman : "Turunlah kalian semuanya dari surga itu!” -  Allah telah memerintahkan Adam, Hawa’ dan Iblis  agar turun dari surga ke bumi karena mereka telah melakukan pelanggaran terhadap aturan Allah. Hal ini terjadi, setelah kedua insan tersebut digoda oleh setan supaya memakan buah dari pohon kekekalan  (Syajaratul Khuldi),[2] dan mereka berdua memakanny, karena menurut setan, orang yang memakan buahnya akan kekal, tidak akan mati.  Sedangkan Iblis, dia yang menggoda, memperdayakan keduanya sehingga mereka berdua melakukan pelanggaran itu.
Perintah “turun” kepada Adam, Hawa dan Iblis di dalam tafsir Al-Baghawi disebutkan, bahwa dua kali perintah itu berbeda antara perintah yang pertama dan perintah yang kedua. Perintah yang pertama adalah turun dari surga ke langit dunia; sedangkan perintah turun yang kedua adalah turun dari langit dunia ke bumi.[3]
Ayat ini menunjukkan, bahwa orang yang melakukan maksiat dengan melanggar larangan Allah akan kehilangan nikmat yang dimilikinya.[4] Mereka hidup senang dan tenang di dalam surga, lalu semua disuruh turun dari surga itu, yaitu tempat yang mulia, tempat yang penuh kenikmatan, tempat yang penuh kebahagian dalam naungan rahmat dan ridha Allah. Mereka tidak boleh lagi tinggal di sana, karena melanggar larangan Allah. Artinya, orang yang melakukan suatu perbuatan maksiat, ia akan mendapatkan balasannya, dan demikian pula orang yang mengajaknya atau menjadi penyebabnya, semuanya akan mendapatkan akibat dari perbuatannya.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ
Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhan-mu menganiaya hamba-hambaNya. (QS. Fushshilat : 46)
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, maka itu akan menimpa dirinya sendiri, kemudian kepada Tuhanmulah kamu dikembalikan. (QS. Al-Jaatsiyah : 15)
Pertengahan ayat 38 :  فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى  kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian”  - yaitu kapan pun petunjuk-Ku datang kepada kalian wahai sekalian makhluk, berupa seorang Rasul dan sebuah kitab yang menunjukkan kalian kepada perkara yang mendekatkan kalian kepada-Ku dan kepada ridha-Ku, فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ “maka barangsiapa di antara kalian yang mengikuti petunjukKu”, yaitu dengan beriman kepada Rasul-Ku dan kitab-Ku lalu mengambil petunjuk dari mereka, dan hal tersebut direaliasikan dengan membenarkan segala kabar-kabar para Rasul dari kitab-kitab, dan menunaikan perintah-perintah serta menjauhi larangan-larangan فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “Niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati”.[5]  
Yang dimaksud dengan kata “kalian”  pada pertengan ini yaitu anak keturunan Adan dan Hawa’, bahwa Allah akan menurunkan kitab-kitab dan akan mengutus para Nabi dan Rasul. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan oleh Abu Al-‘Aliyah, bahwa yang dimaksud dengan “petunjuk” adalah para Nabi, Rasul, serta penjelasan dan keterangan. Menurut Muqatil bin Hayyan, yang dimaksud dengan “petunjuk” adalah Nabi Muhammad saw. Sedangkan menurut Al-Hasan adalah Al-Qur’an.[6]
Akhir ayat 38 : فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ “maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati" - Allah memberitahukan bahwa bila kalian mengikuti petunjuk-Nya dalam kitab-kitab-Nya yang diturunkan dan menyambut para Nabi dan Rasul-Rasul-Nya yang diutus; “niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka”, yaitu dalam hal urusan akhirat yang akan mereka hadapi, “dan tidak (pula) mereka bersedih hati", yaitu atas berbagai urusan dunia yang tidak mereka peroleh.[7]  
Dalam ayat yang lain, yaitu Al-Qur’an Surat Thaahaa ayat 123 Allah menegaskan  :
فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَى
Lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaahaa: 123)
Allah juga akan menghilangkan kesesatan dan penderitaan dari orang-orang yang mengikuti petunjuk-Nya. Kemudian akan muncul dua hal yang menjadi kebalikannya, yaitu hidayah dan kebahagiaan (yaitu kebahagiaan dunia maupun akhirat).
Pelajaran atau hikmah yang dapat diambil dari surat Al-Baqarah ayat 38 ini, adalah sebagai berikut :
1.     Siapapun yang melanggar larangan-larangan Allah bisa berakibat kepada keadaan yang sangat tidak menyenangkan, hidup menjadi sengsara, susah dan menderita. Kehidupan yang semula senang, enak dan nyaman berubah menjadi kehidupan yang sangat tidak disukainya.
2.     Allah mengutus Rasul-Rasul-Nya dengan membawa kitab-kitab suci. Rasulullah  Muhammad saw adalah utusan Allah yang terakhir yang dianugerahi kitab suci Al-Qur’an dan juga membawa sunnah yang merupakan petunjuk kepada manusia seluruhnya yang harus diterima dan diamalkan. Ketaatan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah akan menjadikan manusia selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.




[1]. Baca tafsir Al-Alusi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz: 1, hal. 282; dan tafsir Al-Qurthuby, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz: 1, hal.  
[2]. Baca Al-Qur’an surat Thaahaa ayat 120
[3]. Baca tafsir Al-Baghawi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz: 1, hal. 86
[4]. Baca tafsir Bahrul ‘ulum Lis-Samarqandi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz: 1, hal. 44
[5]. Baca tafsir As-Sa’di, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz: 1, hal. 50
[6]. Baca tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz : 1, hal. 240
[7]. Baca tafsir Al-Maisir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz : 1, hal. 52

Tidak ada komentar:

Posting Komentar