Kamis, 15 April 2010

TAKBIRATUL IHRAM

Takbiratul Ihram adalah salah satu rukun shalat yang termasuk dalam rukun Qauliyah, yaitu rukun yang berupa bacaan berdasarkan hadis Nabi :

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَأَسْبِغْ الْوُضُوءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلْ الْقِبْلَةَ فَكَبِّرْ. (رواه البخاري : 5782– صحيح البخاري -بَاب مَنْ رَدَّ فَقَالَ عَلَيْكَ السَّلَامُ– الجزء : 19 - صفحة : 376)

Ishaq bin Manshur bercerita kepada kami, Abdullah bin Numair mengabarkan kepada kami, ‘Ubaidillah bercerita kepada kami, dari Sa’id bin Abi Sa’id Al-Maqbari, diterima dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda : Apabila kamu hendak berdiri untuk mengerjakan shalat, sempurnakanlah wudukmu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah. (HR.Bukhari : 5782, Shahih Bukhari, Bab man radda faqqala ‘alaikassalam, juz 19, hal.376)

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ (رواه البخاري : 715 – صحيح البخاري - بَاب وُجُوبِ الْقِرَاءَةِ لِلْإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ – الجزء :3 - صفحة :205)

Muhammad bin Basysyar bercerita kepada kami, ia berkata : Yahya bercerita kepada kami, dari ‘Ubaidillah, ia berkata : Sa’id bin Abi Sa’id bercerita kepadaku, dari ayahmya, diterima dari Abu Hurairah, bahwa Raulullah saw bersabda : Apabila engkau mengerjakan shalat, maka bertakbirlah. (HR.Bukhari : 715, Shahih Bukhari, Bab Wajuubil Qiraa-ati Lil-Imam wal-Ma’mum, juz 3, hal.205)

Apabila seseorang yang mengerjakan shalat telah membaca takbiratul Ihram, maka menjadi haramlah segala sesuatu yang halal sebelum mengerjakan shalat, seperti makan, minum, bebicara dan lain sebagainya. Dan setelah selesai mengerjakan shalat, maka yang diharamkan di dalam shalat menjadi halal kembali. Itulah sebabnya dinamakan “Takbiratul Ihram. Hadis Nabi :

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ ابْنِ عَقِيلٍ عَنْ مُحَمَّدِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ وَتَحْرِيْمُهَا التَّكْبِيرُ وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ. (رواه ابو داود : 56– سنن ابو داود - بَاب فَرْضِ الْوُضُوءِ- – الجزء : 1 – صفحة : 88)

Utsman bin Abi Syaibah bercerita kepada kami, Waki’ bercerita kepad kami, dari Sufyan, dari Ibnu ‘Aqil, dari Muhammad ibnu Al-Hanafiyah, diterima dari ‘Ali ra, ia berkata : Rasulullah saw, bersabda : Kunci salat adalah bersuci, yang mengharamkannya adalah takbir dan yang menghalalkannya adalah salam. (HR.Abu Daud : 56, Sunan Abu Daud, bab fardhu Wudhu’, juz 1, hal. 88)

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam mengumandangkan takbiratul Ihram. Apabila persyaratan tidak terpenuhi, maka takbirnya tidak cukup dan shalatnya tidak sah.[1] Persyaratan yang harus dipenuhi antara lain adalah :

1. Kalimat yang digunakan adalah “ALLAAHU AKBAR” (artinya : Allah Maha Besar) dengan ucapan kalimat bahasa Arab. Hadis Nabi :

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الطَّنَافِسِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا حُمَيْدٍ السَّاعِدِيَّ يَقُولُ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ وَرَفَعَ يَدَيْهِ وَقَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ. (رواه ابن ماجه : 795 – سنن ابن ماجه - بَاب افْتِتَاحِ الصَّلَاةِ – الجزء : 3 – صفحة : 28)

‘Ali bin Muhammad Ath-Thanafisi bercerita kepada kami, Abu Usamah bercerita kepada kami, Abdulhamid bin Ja’far bercerita kepadaku, Muhammad bin ‘Amer bin ‘Atha’ bercerita kepada kami, ia berkata : Saya telah mendengar Abu Hamid Assa’idy berkata : Rasulullah saw bila mengerjakan shalat, beliau menghadap kiblat, mengengakat kedua tangannya dan mengucapkan “ALLAHU AKBAR”. (HR.Ibnu Majah : 795, Sunan Ibnu Majah, Bab Iftitahish-Shalah, juz : 3, hal.28)

2. Tidak boleh waqaf (berhent) antara kata ALLAAH dan AKBAR

3. Tidak boleh menambah satu huruf-pun yang menyebabkan artinya berubah. Seperti memanjangkata bacaan hamzah dalam lafal “Allaahu” menjadi “Aallaahu” .(آللهُ) Hal ini tidak boleh terjadi karena artinya berubah menjadi pertanyaan tentang kebenaran Allah Yang Maha Agung. Atau memanjangkan bacaan huruf ba’ dalam lafal “Akbar” menjadi “Akbaar” (اَكْبَار). Inipun tidak boleh terjadi, karena lafal “Akbaar” adalah nama untuk “Haidh”. Demikian pula tidak boleh memanjangkan huruf ha’ dalam lafal “Allaahu” menjadi “Allaahuu” (اَللّـهُـوْ)

4. Kalimat takbiratul ihram harus dibaca dengan sempurna pada saat orang yang mengerjakan shalat dalam posisi berdiri tegak.

5. Mengucapkan takbiratul Ihram dengan berniat, yaitu menyengaja untuk takbiratul Ihram.



[1]. Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammd Al-Husainy Al-Hishni Ad-Dimasyqi Asy-Syafi’i, Kifayatul Akhyar, Juz 1, Sulaiman Marae, Pinang, kota Baru Sangfur, tanpa tahun, hal.64-65.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar