Kamis, 20 Februari 2014

PUASA (LANJUTAN MATERI PENGAJIAN MASJID AL-IHYA)



KHUTBAH RASULULLAH SAW
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ السعدي، حَدَّثَنَا يُوسُفُ بن زِيَادٍ، حَدَّثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ سَلْمَانَ الْفَارِسِيَّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعاً مَنْ تَقَرَّبَ فِيهِ بِخُصْلَةٍ مِنَ الخَيْرِ كَانَ كَمْنَ أَدَّى فَرِيضَةً فِيما سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيهِ فَرِيضَةً كَانَ كَمَنْ أدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيضَةً فِيمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، والصَّبْرُ ثَوَابُهُ الجَنَّةُ، وَشَهْرُ المُوَاسَاةِ وَشَهْرٌ يَزْدَادُ فِيهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقِصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ، قَالُوْا : لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ، فَقَالَ رسولُ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِماً عَلَى تَمْرَةٍ ، أَوْ شَرْبَةِ مَاءٍ أَوْ مَذْقَةِ لَبَنٍ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ، وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ، وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ، وَاسْتَكْثِرُوْا فِيْهِ مِنْ أَرْبَعِ خِصَالٍ، خَصْلَتَيْنِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ ، وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا، فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتَانِ تَرْضَوْنَ بِهِمَا رَبَّكُمْ : فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله، وَتَسْتَغْفِرُوْنَهُ، وَأَمَّا اللَّتَانِ لاَ غِنَى بِكُمْ عَنْهُمَا : فَتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ، وَتَعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ، وَمَنْ أَشْبَعَ فِيْهِ صَائِماً سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شَرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ.(رواه ابن خزيمة : 1780 -صحيح ابن خزيمة – المكتبة الشاملة- باب جماع ابواب فضائل شهر رمضان وصيامه – الجزء 7 – صفحة : 115)
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr Assu’adi, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ziyad, telah menceritakan kepada kami Hammam bin Yahya, dari Ali bin Zaid bin Jud’an, dari Sa’id bin Musayyab, dari Salman Al-Farisi ra, ia berkata : Rasulullah saw telah menyampaikan khutbah kepada kami : Wahai manusia telah menaungi di  atas kalian bulan yang agung, bulan yang penuh dengan keberkahan, bulan dimana di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadr), dan di bulan itu Allah jadikan puasa di siang harinya menjadi kewajiban (bagi yang mampu), dan bangun malam/shalat di malam harinya merupakan hal yang disunnahkan. Barangsiapa mendekatkan diri kepada Allah dengan  melakukan satu kebaikan di bulan ramadhan maka pahalanya sama dengan pahala melakukan perbuatan yang fardhu (wajib) di selain bulan ramadhan. Dan barangsiapa melakukaan satu perbuatan wajib di bulan Ramadhan maka pahalanya sama dengan melakukan 70 perbuatan wajib di selain bulan Ramadhan. Dan bulan Ramadhan adalah bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah surga, dan bulan itu adalah bulan yang penuh simpati (tolong menolong), dan bulan ditambahnya rizeki orang mukmin. Barangsiapa yang memberikan buka puasa untuk orang yang berpuasa di bulan itu maka baginya pengampunan atas dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka, serta baginya pahala puasa seperti orang yang berpuasa dan tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa. Ketika mendengar hal itu, para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami memiliki sesuatu untuk memberi makan orang yang berpuasa”, maka Rasulullah saw  bersabda : “Pahala ini diberikan oleh Allah kepada orang yang memberi makan untuk orang yang berpuasa dengan sebutir kurma atau seteguk air atau susu”. Dan bulan Ramadhan awalnya adalah rahmah (kasih sayang) Allah, dan pertengahannya adalah pengampunan Allah, serta akhirnya adalah pembebasan dari api neraka. Dan barangsiapa yang meringankan (pekerjaan) budaknya di bulan Ramadhan maka Allah mengampuni dosanya dan membebaskannya dari api neraka. Dan perbanyaklah dibulan itu (untuk melakukan) 4 hal, 2 hal yang pertama membuat Tuhan kalian (Allah swt) ridha, dan 2 hal yang lainnya merupakan sesuatu yang kalian butuhkan. Dua hal yang membuat Tuhan kalian (Allah swt) ridha adalah mengucapkan syahadat (أشهد ألا إله إلا الله ), dan kalian meminta ampunan kepada-Nya dengan membaca (أستغفر الله العظيم ), adapun dua hal yang kalian butuhkan terhadap keduanya adalah kalian meminta kepada Allah untuk dimasukkan ke dalam surga dan dijauhkan dari api neraka. Dan barangsiapa yang memberi makan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan hingga kenyang, maka Allah akan memberinya minum dari telagaku (telaga Rasulullah saw) dimana seteguk air itu menjadikannya tidak akan merasa haus selama-lamanya hingga ia masuk ke surga”. (HR.Ibnu Khuzaimah : 1780, Shahih Ibnu Khuzaimah, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab jima’u abwaabi fadhaaili syhrish shiyaami wa shiyaamihii, juz : 7, hal. 115)
Khutbah Rasulullah saw tersebut direspon kaum muslimin pada bulan suci Ramadhan dengan memperbanyak amal ibadah, seperti shalat taraweh, tadarus Al-Qur’an, bersedekah, dzikir dan amal ibadah lainnya,  termasuk banyak membaca kalimat berikut ini :
أَشْـهَدُ أَنْ لَا إِلهَ اِلاَّ اللهُ - أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ - أَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَالْجَنَّةَ وَ أَعُــوْذُ ِبكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ
Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung, aku memohon ridha-Mu dan  surga, dan aku berlindung kepada-Mu dari murka-Mu dan api neraka.
Arti Ramadhan
Kata “Ramadhan” merupakan bentuk mashdar (kata dasar) yang terambil dari kata ramidha – yarmadhu - ramdhan  (رَمِضَ – يَرْمَضٌ – رَمْضًا)yang berarti sangat panas, membakar, menyengat karena terik. Kata tersebut kita temukan dalam sebuah hadits  yang diriwayatkan oleh Zaid bin Arqam yang berbunyi :
صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ إِذَا رَمِضَت الْفِصَالُ.
Shalat orang-orang yang bertaubat (shalat Dhuha) dikerjakan  ketika telah sangat panas terik matahari menimpa anak unta itu. (HR.Muslim)[1] 
Lalu kata tersebut dijadikan nama bulan ramadhan. Dinamakan dengan demikian karena pada saat ditetapkan sebagai bulan wajib berpuasa, udara atau cuaca di Jazirah Arab sangat panas sehingga bisa membakar sesuatu yang kering. Oleh sebab itu, bulan ramadhan adalah bulan pembakaran atas segala sesuatu yang tidak baik, seperti perbuatan syirik, dan segala bentuk perbuatan maksiat, sehingga pada bulan ramadhan diisi dengan berbagai macam amal ibadah agar dosa-dosa habis terbakar, sifat-sifat tercela tersingkir, sehingga muncul aqidah tauhid yang kokoh, ibadah yang sempurna dan akhlak yang mulia.
Syarat-Syarat Wajib Puasa
Puasa Ramadhan diwajibkan dengan adanya beberapa syarat, yaitu (1) Islam (Orang kafir tidak wajib), (2) baligh (anak-anak yang belum baligh tidak wajib), (3) berakal (orang gila tidak wajib), (4) kuat puasa (tidak wajib berpuasa orang yang tidak ada kekuatan, umpama lanjut usia atau sakit yang tidak sembuh-sembuh),[2] dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :
1. Melihat Bulan
Berpuasa Ramadhan diwajibkan apabila telah melihat hilal (bulan baru), baik secara langsung, melalui orang lain yang dapat dipercaya dan disaksikan oleh orang yang adil  atau melalui ahli ilmu hisab. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ فَإِنْ غُبِّيَ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلَاثِينَ .(رواه البخاري : 1776-صحيح البخاري المكتبة الشاملة – باب قول النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اذا رايتم– الجزء : 6– صفحة : 481)
Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad berkata, aku mendengar Abu Hurairah ra, berkata; Nabi saw  bersabda, atau katanya, Abu Al Qasim saw telah bersabda : "Berpuasalah kalian dengan melihatnya (hilal) dan berbukalah dengan melihatnya pula. Apabila kalian terhalang oleh awan maka sempurnakanlah jumlah bilangan hari bulan Sya'ban menjadi tiga puluh".(HR.Bukhari :1776, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  Qaulin Nabiyyi saw idzaa ra-aitum, juz : 6, hal. 481)
Suatu ketika Ibnu Umar melihat hilal, lalu dia memberitahukannya kepada Rasulullah saw, kemudian beliau saw berpuasa dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa. Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّمْرَقَنْدِيُّ وَأَنَا لِحَدِيثِهِ أَتْقَنُ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ هُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَالِمٍ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ نَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَرَاءَى النَّاسُ الْهِلَالَ فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي رَأَيْتُهُ فَصَامَهُ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ. (رواه ابو داود : 1995 – سنن ابو داودالمكتبة الشاملة – باب في شهادة الواحد على رؤية هلال رمضان- الجزء : 6– صفحة : 285)
Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Khalid serta Abdullah bin Abdurrahman As Samarqandi, dan aku lebih yakin kepada haditsnya, mereka berkata : Telah menceritakan kepada kami Marwan bin Muhammad, dari Abdullah bin Wahb, dari Yahya bin Abdullah bin Salim, dari Abu Bakr bin Nafi', dari ayahnya, dari Ibnu Umar, ia berkata : Orang-orang berusaha untuk melihat hilal, kemudian aku beritahukan kepada Rasulullah saw bahwa aku telah melihatnya. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang agar berpuasa. (HR.Abu Daud : 1995, Sunan Abu Daud, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  fii syahaadatil waahid ulaa ru’yati hilaali ramadhaan,  juz : 6, hal. 285)
Dalam hadits lain yang diriwayatkan Ibnu Abbas, bahwa ada seorang Badui  datang kepada Nabi saw dan menyatakan telah melihat hilal, kemudian beliau saw bertanya kepadanya : Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Ya, jawabnya. Beliau bertanya lagi : Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah? Ya, jawabnya.  Lalu beliau berkata : Wahai Bilal, umumkan kepada orang-orang agar besok mereka berpuasa. Hadits Nabi :
  حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ الرَّيَّانِ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ يَعْنِي ابْنَ أَبِي ثَوْرٍ ح و حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ يَعْنِي الْجُعْفِيَّ عَنْ زَائِدَةَ الْمَعْنَى عَنْ سِمَاكٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ الْهِلَالَ قَالَ الْحَسَنُ فِي حَدِيثِهِ يَعْنِي رَمَضَانَ فَقَالَ أَتَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ أَتَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَا بِلَالُ أَذِّنْ فِي النَّاسِ فَلْيَصُومُوا غَدًا. (رواه ابو داود :1993 - سنن ابو داودالمكتبة الشاملة – باب في شهادة الواحد على رؤية هلال رمضان- الجزء : 6– صفحة :  283)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar Rayyan, telah menceritakan kepada kami Al-Walid bin Abu Tsaur, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ali, telah menceritakan kepada kami Al-Husain Al-Ju'fi, dari Zaidah secara makna, dari Simak, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, ia berkata : Seorang Badui telah datang kepada Nabi saw  dan berkata : Sesungguhnya aku telah melihat Hilal -Al-Hasan dalam haditsnya mengatakan; yaitu Hilal Ramadhan-, kemudian beliau berkata : Apakah engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah? Ia berkata; ya. Beliau berkata : Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah? Ia berkata; ya. Beliau berkata : Wahai Bilal, umumkan kepada orang-orang agar mereka berpuasa besok. (HR.Abu Daud – 1993, Sunan Abu Daud, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  fii syahaadatil waahid ulaa ru’yati hilaali ramadhaan,  juz : 6, hal. 283)
Melihat hilal (bulan baru) hendaklah disaksikan oleh dua orang yang adil   berdasrkan hadits berikut ini :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ أَبُو يَحْيَى الْبَزَّازُ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا عَبَّادٌ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ الْحَارِثِ الْجَدَلِيُّ مِنْ جَدِيلَةَ قَيْسٍ أَنَّ أَمِيرَ مَكَّةَ خَطَبَ ثُمَّ قَالَ عَهِدَ إِلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَنْسُكَ لِلرُّؤْيَةِ فَإِنْ لَمْ نَرَهُ وَشَهِدَ شَاهِدَا عَدْلٍ نَسَكْنَا بِشَهَادَتِهِمَا. (رواه ابو داود : 1991 - سنن ابو داودالمكتبة الشاملة – باب في شهادة رجلين على رؤية هلال شوال- الجزء : 6– صفحة :  280)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim Abu Yahya Al Bazzaz, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Sulaiman, telah menceritakan kepada kami 'Abbad, dari Abu Malik Al Asyja'i, telah menceritakan kepada kami Husain bin Al Harits Al-Jadali yang berasal dari Jadilah Qais, bahwa Amir Mekkah telah berkhutbah, ia berkata : Rasulullah saw berwasiat kepada kami agar berkurban ketika melihat hilal (bulan baru), dan apabila kami tidak melihatnya dan terdapat dua orang adil yang bersaksi maka kami berkurban dengan persaksian mereka berdua. (HR.Abu Daud : 1991, Sunan Abu Daud, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  fii syahaadatil rajulaini ‘alaa ru’yati hilaali  syawal,  juz : 6, hal. 280)
Dan hilal (bulan baru) juga dapat ditentukan melalui ilmu hisab (ilmu falak), berdasarkan hadits berikut ini :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ. (رواه البخاري : 1767 – صحيح البخاري – المكتبة الشاملة – باب  هل يقال رمضان هو شهر رمضان ومن راى كله- الجزء : 6– صفحة :  466)
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada saya Al Laits, dari 'Uqail, dari Ibnu Syihab berkata, telah mengabarkan kepada saya Salim bin 'Abdullah bin 'Umar bahwa Ibnu'Umar ra,   berkata : Aku mendengar Rasulullah saw  bersabda : "Jika kamu melihatnya maka berpuasalah dan jika kamu melihatnya lagi maka berbukalah. Apabila kalian terhalang oleh awan maka perkirakanlah jumlahnya (jumlah hari disempurnakan)".(HR.Bukhari : 1767, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  hal yuqaalu ramadhan huwa syahru ramadhan,  juz : 6, hal. 466)  
Sebagian ulama’, seperti Abu Al-‘Abbas bin Suraij (dari kalangan Syafi’i), Mutharrif bin Abdillah (dari kalangan tabi’in) dan Ibnu Qutaibah (dari kalangan ahli hadits), yang dimaksud dengan “perkirakanlah” ialah dihitung menurut  Ilmu Falak (Ilmu Bintang).[3]
 


[1]. Lihat Shahih Muslim hadits no. 1841, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab shalatul awwabiina hiina tarmidhul fishal,  juz : 4, hal. 110. – Musnad Ahmad hadits no. 18463, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  Zaid bin Arqam ra,   juz : 39, hal.263)
[2]. Muhammad Asy-Syarbini, Al-Iqna’, Dar Ihya’ Al-Kutub Al-Arabiyah, juz : 1, Masir, hal. 203.
[3]. Lihat Fathul Bari oleh Ibnu Hajar, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab qaulun Nabiyyi idzaa raiaytum, juz : 6. Hal. 148

Tidak ada komentar:

Posting Komentar