Minggu, 08 Maret 2015

LARANGAN SELAMA IHRAM


Menghindari Perbuatan Yang Dilarang Selama Ihram

Hal-hal yang dilarang dalam keadaan ihram haji atau umrah. Larangan ada yang berlau bagi laki-laki, ada yang berlaku bagi perempuan,  dan ada pula yang berlaku bagi laki-laki dan perempuan. 

Larangan Bagi Laki-laki
1.    Dilarang memakai pakaian yang berjahit, menutup kepala, memakai alas kaki yang menutupi mata kaki (khusus bagi pria). Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi :
حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ فَقَالَ لَا يَلْبَسُ الْقَمِيصَ وَلَا الْعِمَامَةَ وَلَا السَّرَاوِيلَ وَلَا الْبُرْنُسَ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ الْوَرْسُ أَوْ الزَّعْفَرَانُ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُونَا تَحْتَ الْكَعْبَيْنِ. (رواه البخاري : 131-صحيح البخاري- المكتبة الشاملة-بَاب من اجاب السائل بأكثر مما سأله– الجزء : 1-صفحة :  228)
Telah menceritakan kepada kami Adam, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi'b, dari Nafi', dari Ibnu 'Umar, dari Nabi saw, dan dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu 'Umar, dari Nabi saw, bahwa ada seorang laki-laki bertanya :  "Apa yang harus dikenakan oleh orang yang melakukan ihram?" Beliau menjawab : "Ia tidak boleh memakai baju kurung, sorban (topi), celana panjang, mantel, atau pakaian yang diberi minyak wangi atau za'faran. Jika dia tidak mendapatkan sandal, maka ia boleh mengenakan sepatu dengan memotongnya hingga di bawah mata kaki." (HR.Bukhari : 131,  Shahih Bukhari,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  Man ajaabas sail bi aktsra mimmaa sa-alahuu, ,  juz: 1, hal.228)
حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ فَقَالَ لَا يَلْبَسُ الْقَمِيصَ وَلَا السَّرَاوِيلَ وَلَا الْبُرْنُسَ وَلَا ثَوْبًا مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ وَلَا وَرْسٌ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ النَّعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا حَتَّى يَكُونَا أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ. (رواه البخاري :  353-صحيح البخاري- المكتبة الشاملة-بَاب الصلاة في القميص والسراويل– الجزء : 2-صفحة :   105)
Telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin 'Ali, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi'b, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari Ibnu 'Umar, ia berkata : "Ada seseorang bertanya kepada Rasulullah saw,  "Apa yang harus dikenakan oleh seseorang saat ihram?" Rasulullah saw, menjawab : "Dia tidak boleh mengenakan baju kurung, celana, mantel dan tidak boleh pula pakaian yang diberi minyak wangi atau wewangian dari daun tumbuhan. Dan siapa yang tidak memiliki sandal, ia boleh mengenakan sepatu tapi hendaklah dipotong hingga berada dibawah mata kaki." (HR.Bukhari : 353,  Shahih Bukhari,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  Ash-Shalatu fil-Qamish Wassaraawil,   juz: 2, hal. 105)
2.    Dilarang menutup kepala. Seseorang  yang sedang melakukan ihram tidak dibolehkan menutup kepalanya (khusun bagi pria). Hal ini berdasarkan hadist Ibnu Abbas berikut tentang orang yang mati dalam keadaan berihram :
وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ
dan jangan pula diberi tutup kepala (sorban/peci)
حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ رَجُلًا وَقَصَهُ بَعِيرُهُ وَنَحْنُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُحْرِمٌ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اغْسِلُوهُ بِمَاءٍ وَسِدْرٍ وَكَفِّنُوهُ فِي ثَوْبَيْنِ وَلَا تُمِسُّوهُ طِيبًا وَلَا تُخَمِّرُوا رَأْسَهُ فَإِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلَبِّيًا. (رواه البخاري : 1188-صحيح البخاري- المكتبة الشاملة-بَاب كيف يكفن المحرم– الجزء : 5-صفحة :  4)
 Telah menceritakan kepada kami Abu An-Nu'man, telah mengabarkan kepada kami Abu 'Awanah, dari Abu Bisyir, dari Sa'id bin Jubair, dari Ibnu 'Abbas Ram; Bahwa ada seorang laki-laki yang sedang berihram dijatuhkan oleh untanya yang saat itu kami sedang bersama Nabi saw. Maka Nabi saw  berkata : "Mandikanlah dia dengan air yang dicampur daun bidara dan kafanilah dengan dua helai kain dan janganlah diberi wewangian dan jangan pula diberi tutup kepala (sorban) karena dia nanti akan dibangkitkan pada hari qiyamat dalam keadaan bertalbiyyah. (HR.Bukhari : 1188,  Shahih Bukhari,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Kaifa yukfanul muhrimu,   juz: 5, hal. 4)

Larangan Bagi Wanita

3.    Dilarang menutup muka dan memakai sarung tangan yang menutup telapak tangannya (khusus bagi wanita). Hal ini berdasarkan hadist Ibnu Umar tentang pakaian orang yang  dalam keadaan berihram :
وَلَا تَنْتَقِبْ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلَا تَلْبَسْ الْقُفَّازَيْنِ
Dan wanita yang sedang ihram tidak boleh memakai cadar (penutup wajah) dan sarung tangan
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ حَدَّثَنَا نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا تَأْمُرُنَا أَنْ نَلْبَسَ مِنْ الثِّيَابِ فِي الْإِحْرَامِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَلْبَسُوا الْقَمِيصَ وَلَا السَّرَاوِيلَاتِ وَلَا الْعَمَائِمَ وَلَا الْبَرَانِسَ إِلَّا أَنْ يَكُونَ أَحَدٌ لَيْسَتْ لَهُ نَعْلَانِ فَلْيَلْبَسْ الْخُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ وَلَا تَلْبَسُوا شَيْئًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ وَلَا الْوَرْسُ وَلَا تَنْتَقِبْ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلَا تَلْبَسْ الْقُفَّازَيْنِ. (رواه البخاري :1707-صحيح البخاري- المكتبة الشاملة-بَاب ما ينهى من الطيب للمحرم– الجزء :  6-صفحة :  374)
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yazid, telah mengabarkan kepada kami Al Laits, telah menceritakan kepada kami Nafi', dari 'Abdullah bin 'Umar ra, ia berkata : Seorang laki-laki datang lalu berkata: "Wahai Rasulullah, pakaian apa yang baginda perintahkan untuk kami ketika ihram)?. Nabi saw, menjawab: "Janganlah kalian mengenakan baju kurung, celana, sorban, mantel (pakaian yang menutupi kepala) kecuali seseorang yang tidak memiliki sandal, hendaklah dia mengenakan sapatu tapi dipotongnya hingga berada dibawah mata kaki dan jangan pula kalian memakai pakaian yang diberi minyak wangi atau wewangian dari daun tumbuhan. Dan wanita yang sedang ihram tidak boleh memakai cadar (penutup wajah) dan sarung tangan". (HR.Bukhari : 1188,  Shahih Bukhari,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Kaifa yukfanul muhrimu,   juz: 5, hal. 4)

Larangan Bagi Laki-Laki Dan Wanita

4.    Dilarang memakai wewangian. Seseorang yang sudah berniat ihram dilarang menggunakan wewangian di bagian tubuhnya atau di pakaiannya (bagi pria dan wanita), berdasarkan hadits Bukhari pada larangan kedua di atas:
وَلَا تُمِسُّوهُ طِيبًا
Janganlah diberi wewangian
5.    Dilarang mencukur rambut. Seseorang yang melaksanakan ihram tidak boleh mencukur/menggunting rambut atau bulu badan lainnya walaupun sedikit. Hal ini berdasarkan firman Allah swt :
                                       وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ
Dan jangan kamu mencukur kepalamu  (QS. Al-Baqarah : 196)
6.    Dilarang memotong kuku. Larangan ini diqiaskan kepada larangan menghilangkan/mencukur  rambut.[1]
Mencukur rambut karena ada uzur seperti sakit diperbolehkan, tetapi wajib membayar fidyah. Firman Allah :
فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ
Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. (QS.Al-Baqarah : 196)
Dan juga berdasarkan  pada Hadits Nabi :
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ كَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ قَالَ أَتَى عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَمَنَ الْحُدَيْبِيَةِ وَأَنَا كَثِيرُ الشَّعْرِ فَقَالَ كَأَنَّ هَوَامَّ رَأْسِكَ تُؤْذِيكَ فَقُلْتُ أَجَلْ قَالَ فَاحْلِقْهُ وَاذْبَحْ شَاةً أَوْ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ تَصَدَّقْ بِثَلَاثَةِ آصُعٍ مِنْ تَمْرٍ بَيْنَ سِتَّةِ مَسَاكِينَ. (رواه احمد :  17419مسند احمد- المكتبة الشاملة-  باب حديث كعب بن عجرة-  الجزء :   37-صفحة :  74)   
Telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, telah menceritakan kepada kami Khalid, dari Abu Qilabah, dari Abdurrahman bin Abu Laila, dari Ka'ab bin Ujrah, ia berkata : "Rasulullah saw, mendatangiku pada saat perjanjian Hudaibiyah. Waktu itu saya memiliki rambut yang panjang, maka beliau berkata: "Sepertinya kutu pada rambut kepalamu telah melukaimu." Saya menjawab, "Benar." Beliau lalu bersabda: "Cukurlah rambutmu. Kemudian sembelihlah seekor kambing, atau kamu berpuasa tiga hari, atau bersedekah sebanyak tiga sha' kurma untuk dibagikan kepada enam orang miskin." (HR. Ahmad : 17419,  Musnad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab   Hadits Kaab bin Ujrah,   juz : 30, hal. 303)
7.    Dilarang melangsungkan pernikahan, baik untuk dirinya, atau bertindak sebagai wali atau sebagai saksi dan juga dilarang meminang. Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi berikut :
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ نُبَيْهِ بْنِ وَهْبٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ أَرَادَ أَنْ يُزَوِّجَ طَلْحَةَ بْنَ عُمَرَ بِنْتَ شَيْبَةَ بْنِ جُبَيْرٍ فَأَرْسَلَ إِلَى أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ يَحْضُرُ ذَلِكَ وَهُوَ أَمِيرُ الْحَجِّ فَقَالَ أَبَانُ سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكَحُ وَلَا يَخْطُبُ. (رواه مسلم : 2522 – صحيح مسلم - المكتبة الشاملة-  باب تحريم نكاح المحرم وكراه خطبته-  الجزء :  7-صفحة :   214)  
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, dia berkata; Saya membaca di hadapan Malik, dari Nafi', dari Nubaih bin Wahb, bahwa Umar bin Ubaidillah hendak menikahkan Thalhah bin Umar dengan putri Syaibah bin Jubair, lantas dia mengutus seseorang kepada Aban bin Utsman agar dia bisa hadir (dalam pernikahan), padahal dia sedang memimpin Haji, lantas Aban berkata; Saya pernah mendengar Utsman bin Affan berkata; Rasulullah saw,  bersabda: "Orang yang sedang berihram tidak diperbolehkan untuk menikahkan, dinikahkan dan meminang." (HR. Muslim : 2522, Shahih Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab tahriimu nikaahil muhrim wa karahatu khithbatihi,  juz : 7, hal. 214)
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ:لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يَخْطُبُ عَلَى نَفْسِهِ وَلَا عَلَى غَيْرِهِ.(رواه مالك : 681- موطأ مالك-المكتبة الشاملة-باب نكاح المحرم- الجزء: 3-صفحة: 46)  
Telah menceritakan kepadaku dari Malik, dari Nafi', bahwa Abdullah bin 'Umar, ia berkata : "Orang yang sedang ihram tidak boleh menikah, meminang untuk dirinya sendiri, atau meminang untuk orang lain." (HR. Malik : 681, Muwatha’ Malik,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  Nikaahul muhrim,  juz : 3, hal. 46)
8.    Dilarang mengganggu pepohonan yang tumbuh di Makkah, tidak boleh dipotong rumputnya dan tidak boleh ditebang pohonnya, berdasarkan hadits berikut :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ مَكَّةَ فَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي وَلَا تَحِلُّ لِأَحَدٍ بَعْدِي وَإِنَّمَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ لَا يُخْتَلَى خَلَاهَا وَلَا يُعْضَدُ شَجَرُهَا وَلَا يُنَفَّرُ صَيْدُهَا وَلَا تُلْتَقَطُ لُقَطَتُهَا إِلَّا لِمُعَرِّفٍ. (رواه البخاري : 1702-صحيح البخاري- المكتبة الشاملة-بَاب ما ينهى لا ينفر صيد المحرم– الجزء : 6-صفحة :   365)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahhab, telah menceritakan kepada kami Khalid dari 'Ikrimah, dari Ibnu 'Abbas ra, dari Nabi saw,  bersabda : "Allah telah mengikrarkan kesucian kota Makkah, maka tidak dihalalkan buat seorang pun sebelum dan tidak dihalalkan pula buat seorangpun susudahku. Sesungguhnya pernah dihalalkan buatku sesaat dalam suatu hari. (Karenanya di Makkah) tidak boleh dipotong rumputnya dan tidak boleh ditebang pohonnya dan tidak boleh diburu hewan buruannya dan tidak ditemukan satupun barang temuan kecuali harus dikembalikan kepada yng mengenalnya (pemiliknya) ". (HR.Bukhari : 1702,  Shahih Bukhari,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Maa yunhaa laa yunaffaru shaidul muhrim,   juz: 6, hal. 365)
9.    Dilarang membunuh binatang buruan, berdasarkan firman Allah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُم.......
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram…. (QS.Al-Maidah : 95)
.....وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا.....
….. dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram..... (QS.Al-Maidah : 96)
10.  Dilarang hubungan biologis atau berlaku maksiat dan bertengkar, berdasarkan firman Allah :
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ
(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats (mengeluarkan perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh), berbuat Fasik (maksiat) dan berbantah-bantahan (bertengkar) di dalam masa mengerjakan haji.  (QS.Al-Baqarah : 197)



[1]. Baca Fiqih Islam oleh H. Sulaiman Rasjid, PT. Sinar Baru Algensindo, Bandung, tahun 1998, cetakan ke -32,  hal. 266

Tidak ada komentar:

Posting Komentar