Kamis, 16 Januari 2014

KEUTAMAAN PUASA



Shiyam Dan Shaum
Di dalam Al-Quran ada dua kata yang digunakan untuk makna puasa dari segi bahasa, yaitu  (1) shiyam(الصيام terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 183)  (2) shaum. (الصوم terdapat dalam surat  Maryam ayat 26). Dan  kedua-duanya berarti menahan diri. Orang yang tidak menahan dirinya dalam hal-hal yang tidak dibenarkan oleh agama, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan melakukan shaum dan shiyam. Yang diwajibkan kepada kita adalah “shiyam bukanlah shaum”. Jadi, shaum adalah menahan diri secara umum, sedangkan shiyam adalah menahan diri dari  makan,  minum dan berhubungan suami istri, dari terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari.    
 Keutamaan Puasa  Dalam Hadits  
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ عَنْ أَبِي صَالِحٍ الزَّيَّاتِ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُ : كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ بِصَوْمِهِ.(رواه البخاري : 1771 - صحيح البخاري - المكتبة الشاملة – باب هل يقول إني صائم  – الجزء : 6– صفحة :474)  
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa, telah mengabarkan kepada kami Hisyam bun Yusuf, dari Ibnu Juraij berkata, telah mengabarkan kepada saya 'Atho', dari Abu Shalih Az Zayyat bahwa dia mendengar Abu Hurairah ra; Rasulullah saw,  bersabda : "Allah Ta'ala telah berfirman : "Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa,  sesungguhnya puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan memberi balasannya. Dan puasa itu adalah benteng, maka apabila suatu hari seorang dari kalian sedang melaksanakan puasa, maka janganlah dia berkata rafats (kotor) dan  jangan pula bertengkar sambil berteriak. Jika ada orang lain yang menghinanya atau mengajaknya berkelahi maka hendaklah dia mengatakan 'Aku orang yang sedang puasa. Dan demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang puasa lebih harum di sisi Allah Ta'ala dari pada harumnya minyak misik. Dan untuk orang yang  puasa akan mendapatkan dua kegembiraan yang dia akan bergembira dengan keduanya, yaitu apabila berbuka dia bergembira dan apabila berjumpa dengan Tuhannya dia bergembira disebabkan 'ibadah puasanya itu".(HR.Bukhari :1771, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab hal yaquulu innii shaaim,  juz : 6, hal. 474)
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا.(رواه البخاري : 1761- صحيح البخاري - المكتبة الشاملة – باب فضل الصوم– الجزء : 6– صفحة : 457)  
Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah, dari Malik, dari Abu Az Zanad, dari Al A'raj, dari Abu Hurairah ra; Bahwa Rasulullah saw, bersabda : "Puasa itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang puasa (ia mengulang ucapannya dua kali). Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang puasa lebih harum di sisi Allah Ta'ala dari pada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa".(HR.Bukhari : 1761, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  Fatdhlush shaum,  juz : 6, hal. 457)
 Puasa sebagai benteng maksudnya adalah tabir atau penghalang dari mengeluarkan kata-kata kotor, dari perbuatan–perbuatan dosa dan dari api neraka. Demikianlah menurut Imam Nawawi dalam Syarhun Nawawi ‘Alaa Muslim.[1]
Puasa Sarana Masuk  Ke Surga
Dan Tidak Ada Tandingannya
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي يَعْقُوبَ الضَّبِّيُّ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا نَصْرٍ يُحَدِّثُ عَنْ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ مُرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ قَالَ عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا عِدْلَ لَهُ ثُمَّ أَتَيْتُهُ الثَّانِيَةَ فَقَالَ عَلَيْكَ بِالصِّيَامِ. (رواه احمد : 21128 - مسند احمد - المكتبة الشاملة – باب حديث أَبِي أُمَامَةَ الباهلي– الجزء :   45– صفحة :  123)  
Telah menceritakan kepada kami 'Abdush Shomad, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Ya'qub Adh Dhoby berkata; Saya mendengar Abu Nashr menceritakan, dari Roja` bin Haiwah, dari Abu Umamah berkata : Saya mendatangi Rasulullah saw, kemudian saya berkata : Perintahkanlah aku suatu amalan yang bisa memasukkanku ke surga. Rasulullah saw,  bersabda : "Berpuasalah karena ia tidak ada tandingannya." Kemudian saya mendatangi beliau lagi, beliau bersabda : "Berpuasalah." (HR.Ahmad : 21128, Musnad Ahmad,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab hadits  Abu Umamah Al-Bahili,  juz : 45, hal. 123)
Pintu Khusus Di Surga Bagi Orang Yang Puasa
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ عَنْ سَهْلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ.(رواه البخاري : 1763- صحيح البخاري - المكتبة الشاملة – باب الريان للصائمين– الجزء : 6– صفحة : 461)  
Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Mukhallad, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal berkata, telah menceritakan kepada saya Abu Hazim, dari Sahal ra, dari Nabi saw,  bersabda: "Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar-Rayyan, yang pada hari qiyamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali para shaimun (orang-orang yang berpuasa). Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka; Mana para shaimun, maka para shaimun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut".(HR.Bukhari : 1763, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  Arrayyan Lish-Shaaimin,   juz : 6, hal. 461)
Terhindar Dari Api Neraka
 حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَخْزُومِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ الْعَدَنِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ قَالَ و حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ سُفْيَانَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ أَبِي عَيَّاشٍ الزُّرَقِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَا يَصُومُ عَبْدٌ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا بَاعَدَ ذَلِكَ الْيَوْمُ النَّارَ عَنْ وَجْهِهِ سَبْعِينَ خَرِيفًا - قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.(رواه الترمذي : 1548 - المكتبة الشاملة – باب ما جاء فضل الصوم في سبيل الله– الجزء : 6– صفحة : 166)
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Abdurrahman Al Makhzumi berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al Walid Al Adani berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri ia berkata; dan telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa, dari Sufyan, dari Suhail bin Abu Shalih, dari An Nu'man bin Abu Ayyasy Az Zuraqi, dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata, "Rasulullah saw,  bersabda : "Tidaklah seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah, kecuali puasa satu hari itu akan menjauhkannya dari api neraka selama tujuh puluh musim (tahun)." Abu Isa berkata, "Hadits ini derajatnya hasan shahih." (Tirmidzi : 1548, Sunan Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab maa jaa-a fii fadhlish shaumi fii sabiilillaah,  juz : 6, hal. 166)
Syafaat Puasa Di Akhirat Nanti
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ حُيَيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ. (رواه احمد : 6337 – مسند احمد - المكتبة الشاملة – باب مسند عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو بن العاص رضي الله عنه– الجزء :  13– صفحة : 375)  
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Huyai bin Abdullah, dari Abu Abdurrahman Al Hubuli, dari Abdullah bin 'Amru, bahwa Rasulullah saw,  bersabda: "Puasa dan Al Qur'an kelak pada hari kiamat akan memberi syafa'at kepada seorang hamba. Puasa berkata: Wahai Tuhanku,  aku telah menahannya dari makanan dan nafsu syahwat di siang hari, maka izinkahlah aku memberi syafa'at kepadanya. Dan Al Qur'an berkata: aku telah menahannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafa'at kepadanya. Beliau melanjutkan sabdanya: maka mereka berdua (puasa dan Al Qur'an) pun akhirnya memberi syafa'at kepadanya." (HR.Ahmad : 6337, Musnad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Musnad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash,  juz : 13, hal. 375)


[1]. Syarhun Nawawi ‘Alaa Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Fadhlush shiyaam, juz : 4, hal. 153

Tidak ada komentar:

Posting Komentar