Sabtu, 10 Januari 2015

SYARAT WAJIB HAJI DAN UMRAH



Syarat Wajib Haji Dan Umrah
Seseorang wajib melaksanakan ibadah haji, apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut, : 
1.  Beragama Islam
Haji tidak diwajibkan kepada orang kafir, karena haji merupakan suatu bentuk ibadah, sedang ibadah membutuhkan niat, dan niat serta amalan orang kafir tidak sah. Bahkan amalan orang kafir dinyatakan oleh Allah laksana fataamorgana, tidak mendapatkan balasan dari amalannya, karena tidak didasarkan atas iman :
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS.An-Nur  39)
Syarat beragama Islam adalah masuk dalam semua bentuk ibadah, sehingga ibadah dari orang kafir tidak sah dan tidak diterima, berdasarkan firman Allah :
وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ  
Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.(QS.At-Taubah : 54)
2.   Berakal
Haji tidak diwajibkan kepada orang yang tidak berakal sehat, seperti orang gila dan lain sebaginya, berdasarkan hadits Nabi :
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ عَنْ خَالِدٍ عَنْ أَبِي الضُّحَى عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَام عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ وَعَنْ الْمَجْنُونِ حَتَّى يَعْقِلَ. (رواه ابو داود : 3825 -  سنن ابو داود – المكتبة الشاملة – باب فى المجنون يسرق او يصيب حدا  – الجزء : 11– صفحة :  481)
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami Wuhaib, dari Khalid, dari Abu Adh-Dhuha, dari ‘Ali Alaihis Salam, dari Nabi saw,  beliau bersabda : "Pena pencatat amal dan dosa itu diangkat dari tiga golongan; orang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga ia bermimpi dan orang gila hingga ia berakal." (HR. Abu Daud : 3625,  Sunan  Abu Daud,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab Filmajnun yasriqu aw yushiibu Haddan,   juz : 11, hal. 481)
3.  Baligh
Haji tidak diwajibkan kepada orang  yang kurang waras pikirannya, begitu juga tidak diwajibkan kepada anak kecil, sebagaimana hadist dari Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi saw bersabda :
حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَنْبَأَنَا يُونُسُ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ عَنْ الصَّغِيرِ حَتَّى يَبْلُغَ وَعَنْ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ وَعَنْ الْمُصَابِ حَتَّى يُكْشَفَ عَنْهُ. (رواه احمد : 896– مسند احمد – المكتبة الشاملة – باب من مسند علي بن ابي طالب رضي الله عنه  – الجزء :  2– صفحة : 402)
Telah menceritakan kepada kami Hutsaim, telah memberitakan kepada kami Yunus, dari Al-Hasan, dari Ali ra,  aku mendengar Rasulullah saw,  bersabda: "Diangkat pena dari tiga hal; anak kecil sampai dia mencapai akil baligh, orang yang tertidur sampai dia terjaga dan orang yang sakit (gila) sampai dia sembuh." (HR.Ahmad : 896, Musnad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab min musnad ‘Ali bin Abi Thalib ra,  juz : 2, hal. 402)
Jika anak kecil (belum baligh) melaksanakan ibadah haji, maka hajinya sah, dia dan walinya akan mendapatkan pahala, sebagaimana di dalam hadist :
 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ جَمِيعًا عَنْ ابْنِ عُيَيْنَةَ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عُقْبَةَ عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقِيَ رَكْبًا بِالرَّوْحَاءِ فَقَالَ مَنْ الْقَوْمُ قَالُوا الْمُسْلِمُونَ فَقَالُوا مَنْ أَنْتَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ فَرَفَعَتْ إِلَيْهِ امْرَأَةٌ صَبِيًّا فَقَالَتْ أَلِهَذَا حَجٌّ قَالَ نَعَمْ وَلَكِ أَجْرٌ. (رواه مسلم :  2377 - صحيح مسلم– المكتبة الشاملة – باب صحة حج الصبي واجر من حج به – الجزء :  7– صفحة :  38)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Har] dan Ibnu Abu Umar semuanya dari Ibnu Uyainah - Abu Bakr berkata : Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Uyainah, dari Ibrahim bin Uqbah, dari Kuraib Maula Ibnu Abbas, dari Ibnu Abbas, dari Nabi saw,  bertemu dengan serombongan pengendara di Rauha`, lalu beliau bertanya : "Rombongan siapakah kalian?" mereka menjawab, "Kami rombongan kaum muslimin; dan Anda siapa?" beliau menjawab: "Aku adalah Rasulullah." Tiba-tiba seorang wanita datang kepada beliau dengan menggendong anak kecil, kemudian ia bertanya, "Wahai Rasulullah, sudah sahkah haji anak ini?" beliau menjawab: "Sah, dan kamu juga mendapatkan pahala. (HR. Muslim : 2377, Shahih Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab  shihhatu hajjis shabiyyi wa ajru man hajja bih,  juz : 7, hal. 38 )


4.  Merdeka
Haji tidak diwajibkan kepada hamba sahaya sebagai kemudahan baginya, karena dia sibuk melayani tuannya, dan karena haji  membutuhkan harta sedangkan hamba sahaya tidak mempunyai harta.
5.  Mampu
Haji hanya diwajibkan bagi orang-orang yang mampu, yang tidak mampu tidak diwajibkan menjalankannya,  berdasarkan firman Allah swt :
وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ
Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah; barang siapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. Ali Imran : 97)
Mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah pada ayat di atas bersifat umum, baik secara jasmani, harta  dan bahkan dari aspek keamanan, baik dalam perjalanan maupun dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Untuk mengetahui seseorang itu memiliki kemampuan melaksanakan ibadah haji, bisa diukur dengan hal-hal yang paling utama sebagai berikut :
1.    Sehat Jasmani
Dikatakan mampu melaksanakan ibadah haji,  karena jasmaninya sehat, sebagaimana hadist Nabi : 
حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ يَسَارٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ امْرَأَةً ح حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنَ يَسَارٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جَاءَتْ امْرَأَةٌ مِنْ خَثْعَمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَسْتَوِيَ عَلَى الرَّاحِلَةِ فَهَلْ يَقْضِي عَنْهُ أَنْ أَحُجَّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ. (رواه ا لبخاري : 1721– صحيح البخاري– المكتبة الشاملة – باب عمن لا يستطيع الثبوت على الراحلة   – الجزء :  6– صفحة :  398)
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Syihab, dari Sulaiman bin Yasar, dari Ibnu 'Abbas, dari Al-Fadhal bin 'Abbas ra,  bahwa ada seorang wanita. Dan diriwayatkan pula oleh Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Abu Salamah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab, dari Sulaiman bin Yasar, dari Ibnu 'Abbas ra,  ia berkata : Ada seorang wanita dari suku Khats'am pada pelaksanaan Haji Wada' lalu berkata: "Wahai Rasulullah, kewajiban yang Allah tetapkan buat para hambaNya tentang haji sampai kepada bapakku ketika dia sudah berusia lanjut sehingga dia tidak mampu untuk menempuh perjalanannya, apakah terpenuhi kewajiban untuknya bila aku menghajikannya?. Beliau menjawab: "Ya". (HR.Bukhari : 1721, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab  ‘amman laa yastathii’u atstsbuuta ‘alar raahilah,  juz : 6, hal. 398)
2.    Punya Bekal
Seseorang dikatakan mampu apabila mempunyai sesuatu yang bisa mengantarkan ke Baitullahil Haram, baik dengan pesawat, mobil, atau kendaraan lainnya sesuai kondisinya.  Dan memiliki bekal yang cukup untuk pergi dan pulang. Biaya tersebut harus berupa kelebihan dari nafkah untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya sampai dia kembali dari hajinya. Hal ini berdasarkan  hadits : 
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْقُرَشِيُّ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ قَالَ وَأَخْبَرَنِيهِ أَيْضًا عَنْ ابْنِ عَطَاءٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : الزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ يَعْنِي قَوْلَهُ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا. (رواه ابن ماجه : 2888-  سنن ا بن ماجه– المكتبة الشاملة – باب ما يوجب الحج – الجزء :  8 – صفحة  :  445)
Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Sa'id; telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sulaiman Al Qurasyi, dari Ibnu Juraij, ia berkata : Keduanya mengabariku juga dari Atha`, dari 'Ikrimah, dari Ibnu 'Abbas; sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda : "Bekal dan kendaraan adalah maksud dari firman-Nya yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah." (HR. Ibnu Majah : 2888,  Sunan Ibnu Majah,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab  ma yuujibul hajja,   juz : 8, hal. 445)
حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَزِيدَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبَّادِ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا يُوجِبُ الْحَجَّ قَالَ الزَّادُ وَالرَّاحِلَةُ. (رواه الترمذي : 741-  سنن الترمذي– المكتبة الشاملة – باب في ايجاب الحج بالزاد والراحلة– الجزء : 3– صفحة :  313)
Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Isa, telah menceritakan kepada kami Waki', telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Yazid, dari Muhammad bin 'Abbad bin Ja'far, dari Ibnu Umar berkata : "Seorang lelaki menemui Nabi saw,  lalu bertanya; 'Wahai Rasulullah, apa yang mewajibkan seseorang untuk haji? ' Beliau menjawab: 'Perbekalan dan kendaraan'." (HR. Tirmidzi : 741,  Sunan Tirmidzi,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, Bab fii iijaabil hajji bizzaadi war-Raahilah,   juz : 3, hal. 313)
Dan termasuk dalam pengertian Perbekalan adalah ilmu pengetahuan tentang tata cara melaksanakan ibadah haji dan umrah. Dengan dasar Al-Qur'an dan hadits tersebut di atas secara umum kemampuan jasmani, bekal harta dan ilmu pengetahuan serta  transportasi menjadi hal yang paling utama dalam melihat kemampuan seseorang baik dalam ibadah haji maupun umrah.



Sabtu, 25 Oktober 2014

AL-QURAN SURAT AL-BAQARAH AYAT 5


Orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang lima (5) di atas adalah orang orang yang disebut “Muttaqin”, yaitu orang-orang yang bertakwa. Mereka oleh Allah, dinyatakan telah mendapatkan petunjuk dan bimbingan-Nya, yang firman-Nya diabadikan dalam ayat berikutnya, yaitu surat Al-Baqarah ayat 5.
أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (البقرة : 5)
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.
 Awal ayat berbunyi  أُولَئِكَ   (mereka itulah), artinya orang-orang yang menyandang sifat-sifat seperti yang terdapat pada ayat-ayat sebelumnya, yakni mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, berinfak dari rezeki yang telah Allah berikan kepada mereka, berimana kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah saw (Al-Qur’an) dan kepada Rasul-Rasul sebelumnya (Taurat, zabur dan Injil), serta meyakini adanya kehidupan akhirat. Sifat-sifat tersebut mengharuskan mereka untuk selalu  mempersiapkan diri mengerjakan amal shalih serta meninggalkan apa-apa yang diharamkan oleh Allah. Kemudian kalimat  عَلَى هُدًى   (yang tetap mendapat petunjuk),  artinya berjalan di atas pancaran cahaya, keterangan, dan bashirah (penglihatan batin) dari Allah.[1] 
Imam Ibnu Katsir mengutip suatu riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa yang dimaksud dengan  أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ (Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka) adalah mereka yang berada di atas pancaran  cahaya dari Tuhan-Nya serta istiqamah berpegang teguh kepada apa (Al-Qur’an) yang telah datang kepada mereka. Sementara menurut Ibnu Jarir adalah mereka yang mendapatkan pancaran cahaya dari Tuhannya, memperoleh dalil atau hujjah, memiliki sifat istiqamah atau pendirian yang kokoh dan meraih bimbingan yang benar, lurus serta mendapatkan taufik dari Allah.[2]
Akhir ayat berbunyi  وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ   (dan mereka itulah orang-orang yang beruntung) di dunia dan akhirat, yaitu orang-orang yang mendapatkan apa yang mereka inginkan dan mereka yang selamat dari keburukan  atau kejahatan yang mereka hindari.  Takwil atau tafsir dari akhir ayat tersebut adalah merekalah orang-orang yang beruntung, mereka memperoleh apa yang mereka dambakan disisi Allah melalui amal perbuatan mereka dan iman mereka kepada Allah, kepada kitab-kitab dan Rasul-rasul-Nya. Dambaan mereka tersebut berupa kesuksesan meraih pahala, kekal di dalam surga dan selamat dari siksa  yang telah disediakan oleh Allah buat musuh-musuh-Nya.[3]
Mereka yang menyandang sifat-sifat tersebut dalam surat Al-Baqarah ayat 1 – 5 dinyatakan oleh Rasulullah saw sebagai penduduk surga sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin ‘Amr :
حَدَّثَنَا أَبِي، ثنا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ بْنِ صَالِحٍ الْمِصْرِيُّ، ثنا أَبِي، ثنا ابْنُ لَهِيعَةَ، حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُغِيرَةِ، عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ وَاسْمُهُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقِيلَ لَهُ يَا رَسُول اللَّه إِنَّا نَقْرَأ مِنْ الْقُرْآن فَنَرْجُو وَنَقْرَأ مِنْ الْقُرْآن فَنَكَاد أَنْ نَيْأَس أَوْ كَمَا قَالَ : فَقَالَ :  أَلاَ أُخْبِركُمْ عَنْ أَهْل الْجَنَّة وَأَهْل النَّار؟ - قَالُوا بَلَى يَا رَسُول اللَّه.  قَالَ الم ذَلِكَ الْكِتَاب لَا رَيْب فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ – إِلَى قَوْله تَعَالَى – الْمُفْلِحُونَ، هَؤُلَاءِ أَهْل الْجَنَّة. قَالُوا : إِنَّا نَرْجُوا أَنْ نَكُونَ هَؤلاَءِ . ثُمَّ قال : (إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ ..... إلى قوله :  عظيم -  هؤلاَءِ أَهل النَّارِ، لَسْنَا هُمْ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ :  أَجَل. (تفسير ابن أبي حاتم _ المكتبة الشاملة – باب قوله وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ – الجزء : 1 – صفحة : 148)
Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Utsman bin Shalih Al-Mishri, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi’ah, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah bin Al-Mughirah,  dari Abu Al-Haitsam bin Abdi, dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi saw; Rasulullah pernah ditanya,  : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami tetap membaca Al-Qur’an hingga hampir saja kami berputus asa.” Atau sebagaimana Nabi saw bersabda : Maukah kalian aku beritakan tentang penduduk surga dan penduduk neraka? Mereka menjawab : Tentu saja kami mau, wahai Rasulullah.  Nabi saw membacakan firman-Nya:
الم ذَلِكَ الْكِتَاب لَا رَيْب فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ – إِلَى قَوْله تَعَالَى – الْمُفْلِحُونَ
Alif Lam Mim. Kitab Al-Qur’an ini tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa ….. hingga firman Allah Ta’ala : Orang-orang yang beruntung. (QS. Al Baqarah : 1 – 5). Rasulullah saw bersabda : “Mereka semua penduduk surga”. Kemudian para sahabat berkata : “Sesungguhnya kami berharap semoga diri kami termasuk bagian dari mereka (penduduk surga).  Kemudian Nabi saw  membaca firman-Nya :
                        إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا سَوَاء عَلَيْهِمْ – إِلَى قَوْله – عَظِيم      
Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja bagi mereka…… hingga dengan firman Allah – (siksaan) amat berat. (QS.Al-Baqarah: 6 -7). (Rasulullah saw bersabda) : “Mereka semua penduduk neraka”. (Kemudian para sahabat berkata) : Wahai Rasulullah, tentunya kami bukan termasuk bagian dari mereka (penduduk neraka).” Rasulullah saw menjawab : “Iya”. (Tafsir Ibnu Abi Hatim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Qauluhu Wa ulaaika humul muflihuun, juz : 1, hal. 148)
Para muttaqin, mereka mengarungi kehidupan di atas jalan yang lurus (dinul Islam), menempuh suatu jalan yang selalu berada dalam terang benderang, sebab pelitanya terpasang dalam hati, yaitu pelita iman yang tidak pernah padam;  sehingga mereka akan selalu berada dalam bimbingan Allah, bertemu taufik dan hidayat, sesuai kehendak dan permohonannya, maka dengan ridha Allah, mereka lalu meraih kejayaan yang sejati, sukses dunia akhirat.

[1]. Baca Tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab / juz : 1, hal. 171
[2]. Ibid, Tifsir Ibnu Katsir, hal. 172
[3]. Ibid, Tifsir Ibnu Katsir, hal. 172