Jumat, 07 Oktober 2016

MAHAR (MASKAWIN)



MAHAR )MASKAWIN(
Mahar )Maskawin( termasuk keutamaan agama Islam dalam melindungi dan memuliakan kaum perempuan dengan memberikan hak yang dimintanya dalam pernikahan, yang besar kecilnya ditetapkan atas persetujuan kedua belah pihak.
Pengertian Mahar
Kata Mahar berasal dari bahasa Arab yang termasuk kata benda bentuk abstrak atau mashdar, yakni “Mahran” yang berada pada urutan ketiga dalam Tashrif Istilahi (perubahan kata dari satu bentuk ke bentuk lain dengan makna yang berbeda-beda),  yaitu :  Mahara  مهر – Yamharu يمهر – Mahran  مهرا, yang artinya adalah “mahir atau pandai”. Di samping kata”mahar”, juga digunakan istilah lainnya, yakni Shadaaq صداق yang berasal dari kata Shidq  صدق yang artinya “benar/jujur” (lawan dusta), [1] atau,  artinya “sangat keras”. [2]  Dalam  bentuk lain yang diambil dari akar kata yang sama, yaitu shadaaqahصداقة   artinya : “kecintaan yang benar”.[3]
Menurut istilah, mahar (maskawin) ialah sebutan atau nama bagi harta yang wajib diberikan oleh  laki-laki kepada perempuan sebab nikah atau wathi’ (setubuh).[4] Jadi, maskawin merupakan pemberian wajib yang dilakukan oleh seorang suami  kepada istrinya,[5] baik secara kontan maupun secara tempo,[6]  yang pembayarannya dilaksanakan sesuai dengan perjanjian yang terdapat dalam aqad nikah.
Di Indonesia lebih dikenal dengan istilah “Mahar” atau “Maskawin”. Disebut maskawin (mas-kawin), karena menurut kebiasaan, mahar itu dibayar dengan mas. Maskawin mempunyai banyak nama, yaitu di dalam Al-Qur’an disebut dengan Shadaq  صداق, Nihlah  نحلة, Faridhah فريضة dan Ajar أجر. Dan di dalam sunnah disebut dengan Mahar  مهر, ‘Aliqah عليقة dan ‘Aqar  عقر.
Dasar Hukum Membayar Mahar
Dasar wajibnya membayar mahar ditetapkan dalam Al-Qur’an diantaranya adalah :
وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا 
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik  akibatnya. (QS. An-Nisa’ : 4)
Abu Ja’far berkata, bahwa pemberian mahar kepada para isteri adalah pemberikan yang wajib dan mesti dilakukan.[7]
....فَمَا اسْتَمْتَعْتُمْ بِهِ مِنْهُنَّ فَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيمَا تَرَاضَيْتُمْ بِهِ مِنْ بَعْدِ الْفَرِيضَةِ  
Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu....(QS.An-Nisa’ : 24)
..... فَانْكِحُوهُنَّ بِإِذْنِ أَهْلِهِنَّ وَآَتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“..... kawinilah mereka dengan seizin tuan mereka, dan berilah maskawin mereka menurut yang patut,....” (QS. An-Nisa’ : 25)
Dasar hukum  kedua adalah hadis Nabi  saw, sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Tirmidzi, Ahmad dan Ibnu Majah berikut ini:
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ..... فَإِنْ دَخَلَ بِهَا فَلَهَا الْمَهْرُ بِمَا اسْتَحَلَّ مِنْ فَرْجِهَا..... (رواه الترمذي : 1021- سنن الترمذي – المكتبة الشاملة- باب ما جاء لا نكاح الا بولي- الجزء 4 – صفحة : 288)
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah, dari Ibnu Juraij, dari Sulaiman bin Musa, dari Az-Zuhri, dari 'Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah saw  bersabda :  ..... Jika dia (wanita) telah digauli maka dia berhak mendapatkan mahar, karena suami telah menghalalkan kemaluannya....." (HR.Tirmidzi : 1021, Sunan Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab maa jaa-a Laa nikaaha illa biwaliyyin, juz 4, hal. 288)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ..... فَإِنْ أَصَابَهَا فَلَهَا مَهْرُهَا بِمَا أَصَابَ مِنْهَا..... (رواه ابن ماجه : 1869   - سنن ابن ماجه - المكتبة الشاملة- باب لا نكاح الا بولي- الجزء  5– صفحة :  486)
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah berkata, telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Mu'adz, ia berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Juraij, dari Sulaiman bin Musa, dari Az Zuhri, dari Urwah, dari 'Aisyah, ia berkata : "Rasulullah saw  bersabda : “..... Jika suaminya telah menyetubuhinya, ia (wanita) berhak mendapatkan maharnya karena persetubuhan tersebut....” (HR. Ibnu Majah : 1869, Sunan Ibnu Majah, Al Maktabah Asy-Syamilah, bab Laa nikaaha illaa biwaliyyin, juz : 5, hal. 486)
Kadar (Jumlah) Mahar
Agama tidak menetapkan jumlah minimal dan maksimal dari mahar (maskawin). Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan tingkatan kemampuan manusia dalam membayanya. Karena mahar merupakan hak perempuan, maka ia berhak menentukan besar atau kecilnya mahar, dan berhak pula memilih  jenisnya dalam bentuk emas, rumah, tanah atau mobil, dan lain sebagainya. Namun  yang paling berkah adalah mahar yang paling ringan atau paling murah, berdasarkan  hadits Nabi saw berikut ini :
حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنِ ابْنِ سَخْبَرَةَ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً. (رواه احمد : 23966 – مسند احمد – المكتبة الشاملة- باب باقى المسند السابق- الجزء   15 – صفحة :    123)
Telah menceritakan kepada kami Yazid, telah mengabarkan  kepada kami Hammad bin Salamah, dari Ibnu Sakhbarah, dari Al-Qasim bin Muhammad, dari A’isyah, dari Nabi saw, beliau bersabda  : Perempuan yang paling besar keberkahannya  adalah perempuan yang paling ringan pembiayaannya (mahar dan ongkos pernikahannya). (HR.Ahmad : 23966, Musnad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Abaaqil Musnad Assabiq,   juz 15, hal. 123)
Mahar (Maskawin) tidak mengenal batas sedikit dan banyaknya, tinggi dan rendahnya, besar dan kecilnya. Bahkan segala sesuatu yang dapat dinilai sebagai benda yang mempunayi harga atau manfaat dapat dijadikan mahar.[8] Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukghari dikisahkan bahwa  Nabi saw memerintahkan untuk menikah walau membayar hanya dengan maskawin cincin dari besi, atau dengan hafalan Al-Qur’an :
حَدَّثَنَا يَحْيَى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ تَزَوَّجْ وَلَوْ بِخَاتَمٍ مِنْ حَدِيدٍ. (رواه  البخاري  4753 :  – صحيح البخاري– المكتبة الشاملة- باب  المهر بالعروض وخاتم من حديد- الجزء  16 – صفحة :  122)
Telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Waki’, dari Sufyan, dari Abu Hazim, dari Sahal bin Sa’id, bahwa Nai saw bersabda seorang laki-laki : Kawinlah engkau sekalipun dengan maskawin cincin dari besi. (HR. Bukhori : 4753, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Al-Mahru Bil-‘urudhi wa khatamu min hadid,  juz 16, hal. 122)
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ إِنَّهَا قَدْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا لِي فِي النِّسَاءِ مِنْ حَاجَةٍ فَقَالَ رَجُلٌ زَوِّجْنِيهَا قَالَ أَعْطِهَا ثَوْبًا قَالَ لَا أَجِدُ قَالَ أَعْطِهَا وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَاعْتَلَّ لَهُ فَقَالَ مَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ قَالَ كَذَا وَكَذَا قَالَ فَقَدْ زَوَّجْتُكَهَا بِمَا مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ. (رواه البخاري :4641    – صحيح البخاري– المكتبة الشاملة- باب خيركم من تعلم القرآن وعلمه - الجزء   15 – صفحة : 441)
Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Aun, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Abu Hazim, dari Sahl bin Sa’id, ia berkata :Seorang wanita mendatangi Nabi saw lalu menyatakan bahwa dia menyerahkan dirinya untuk Allah dan Rasul-Nya saw. Nabi saw menjawab : “Aku (sekarang ini) tidak membutuhkan istri”. Maka seorang laki-laki berkata : “Nikahkan aku dengannya”. Nabi saw bersabda : “Berikan sebuah baju kepadanya! ”Dia menjawab : “Aku tidak punya”. Nabi saw bersabda : “Berikan sesuatu kepadanya, walaupun cincin dari besi!” Dia beralasan kepada beliau bahwa dia tidak punya. Nabi saw bersabda : “Adakah Al-Qur’an  padamu (yaitu yang engkau hafal)?”. Laki-laki itu menjawab : ”Surat ini dan surat ini’. Nabi saw bersabda : “Kami telah menikahkanmu dengan wanita itu dengan Al-Qur’an yang ada padamu”. (HR. Bukhari : 4641, Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Al-Bahru Bil-urudhi wa khatamu min hadid,  juz 15, hal. 441)
Dua hadits di atas memberi petunjuk, bahwa mahar (maskawin) itu boleh dengan jumlah yang sangat sedikit, yang panting masih dapat memberikan manfaat sebagai maskawin. Dalam hadits yang diberitakan ‘Amir bin Rabi’ah, dikisahkan bahwa ada seorang perempuan dari Bani Fazarah menikah dengan maskawin sepasang sandal (terompah), sebagaimana yang   diriwayatkan  imam Tirmidzi :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ وَمُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ بَنِي فَزَارَةَ تَزَوَّجَتْ عَلَى نَعْلَيْنِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَضِيتِ مِنْ نَفْسِكِ وَمَالِكِ بِنَعْلَيْنِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَأَجَازَهُ. (رواه الترمذي : 1031- سنن الترمذي – المكتبة الشاملة- باب ما جاء  في مهور النساء- الجزء 4 – صفحة : 305)
 Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa’id, Abdurrahman bin Mahdi dan Muhammad bin Ja’far, mereka berkata :  Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Ashim bin Ubaidillah, ia berkata : Saya pernah mendengar Abdullah bin Amir bin Rabi’ah, dari ayahnya (ia berkata) :  Sesungguhnya seorang perempuan dari suku Fazarah telah menikah dengan maskawin dua sandal, maka Rasulullah saw, bertanya kepada perempuan itu : Sukakah engkau menyerahkan dirimu serta rahasiamu dengan dua sandal itu? Jawab perempuan itu : Ya, saya ridha dengan hal itu. Maka Rasulullah saw, membiarkan pernikahan tersebut. (HR.Tirmidzi : 1021, Sunan Tirmidzi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab maa jaa-a Laa nikaaha illa biwaliyyin, juz 4, hal. 288)
Bahkan Rasulullah saw menegaskan dalam sebuah hadits, bahwa mahar (maskawin) bisa melalui proses musyawarah sampai kedua belah pihak saling ridha :
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ الْحَرَّانِىُّ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْبَيْلَمَانِىِّ عَنْ أَبِيهِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم :  أَنْكِحُوا الأَيَامَى(ثَلا ثًا) قِيلَ : مَاالْعَلاَئِقُ بَيْنَهُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ! قَالَ : مَا تَرَاضَى عَلَيْهِ الأَهْلُونَ وَلَوْ قَضِيبٌ مِنْ أَرَاكٍ . (رواه الدارقطني :  3645- سنن الدارقطني – المكتبة الشاملة- باب المهر  - الجزء  8 – صفحة :  381)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Manshur, telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Khalid Al-Harrani, telah menceritakan kepada kami Shalih bin Abdul Jabbar, dari Muhammad bin Abdurrahman Al-Bailamani, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas, ia berkata, Rasulullah saw bersabda : Nikahkanlah wanita-wanita yang belum bersuami (3x), beliau ditanya : Apakah ‘Alaiq (mahar) diantara mereka wahai Rasulullah? Beliau menjawab : Sesuatu yang di sepakati dengan ridha keluarga meski sebatang kayu arak. (HR.Daruquthni : 3645, Sunan Daruquthni, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab mahr,  juz 8, hal. 381)
Ulama’ sepakat, bahwa banyak atau besarnya mahar (maskawin)  tidak ada batasnya. Demikianlah dijelaskan dalam tafsir Al-Qurthubi.[9]
Mahar (maskawin) gugur seperdua (setengah) sebab thalaq (cerai) sebelum bercampur, sebagaiman ditegaskan dalam Al-Baqarah ayat 237 berikut :
وَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ وَقَدْ فَرَضْتُمْ لَهُنَّ فَرِيضَةً فَنِصْفُ مَا فَرَضْتُمْ
Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu.....(QS.Al-Baqarah : 237)



[1]. Baca Kamus Arab – Inonesia oleh Mahmud Yunus, Hida Karya Agung, Jakarta, cetakan ke -8, tahun1990 M – 1411 H,  hal. 214 
[2]. Baca Kifayatul Akhyar, oleh Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husainy, Darul ‘Ilmi, Surabaya, juz 2, hal. 50
[3]. Op cit,  Kamus Arab – Inonesia oleh Mahmud Yunus, hal. 214 
[4]. Op cit, Kifayatul Akhyar, juz 2, hal. 50
[5]. Baca Fatawa Al-Azhar, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Tahdidush Shadaq, juz 1, hal. 307
[6]. Baca Fiqhus Sunnah oleh Sayid Sabiq,  Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 2, hal. 159
[7]. Baca Tafsir Ath-Thabary, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 7, hal. 552

[8].  Baca Kifayatul Akhyar, oleh Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammad Al-Husainy, Darul ‘Ilmi, Surabaya, juz 2, hal. 53
[9]. Baca Tafsir Al-Qurthubi, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 5, hal. 24

Rabu, 14 September 2016

SURAT AL-BAQARAH AYAT 37



Al-Baqarah  Ayat 37
 Adam menyesali nasibnya. Dia yang bertanggung jawab, sehingga istrinya-pun telah turut tergelincir karena tidak tahan oleh rayuan setan.  Mereka merasa menyesal atas kesalahan yang telah diperbuamya dan larangan yang telah dilanggarnya, tetapi mereka  tidak tahu dengan cara apa menyusun kata yang pantas buat diucapkannya agar mereka diampuni, diterima taubatnya atas kesalahan itu dan diberi maaf. Kesalahan yang timbul karena belum ada pengalaman atau karena kurang waspada, kurang  awas, kurang cermat, kurang hati-hati atas tipuan atau perdayaan musuh yang selalu mengintai kelemahan dan kelalaian. Lalu  Allah mengajarkan beberapa kalimat untuk bertaubat, sebagaimana yang ditegaskan dalam firman-Nya berikut ini :
فَتَلَقَّى آَدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat lagi Maha-penyayang.” (QS. Al-Baqarah : 37)
Awal ayat 37 : فَتَلَقَّى آَدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya”  
Sehubungan dengan makna firman Allah pada awal ayat 37 ini, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits yang sanadnya dari Ubai bin Ka’ab, ia berkata : Rasulullah saw bersabd : Adam berkata : Wahai Tuhanku, bagaimanakah jika aku bertaubat dan kembali, apakah Engkau akan mengembalikan aku ke surga? Allah menjawab : Ya.
Yang dimaksud dengan “beberapa kalimat” pada ayat tersebut terdapat beberapa pendapat :  
1.     Abu Ja’far Ar-Razi meriwayatkan dari Ar-Rabi’ bin Anas, dari Abu Al-‘Aaliyah, bahwa sesungguhnya setelah Adam melakukan kesalahan, ia berkata : Wahai Tuhanku, bagaimanakah jika aku bertaubat dan memperbaiki diriku? Allah berfirman : Kalau begitu Aku akan memasukkan kamu ke surga. Inilah yang dimaksukan dengan pengertian “beberapa kalimat”. [1]
2.     Abu Ishaq As-Sabi’i meriwayatkan dari seorang laki-laki Bani Tamim yang menceritakan bahwa ia pernah datang kepada Ibnu Abbas, lalu bertanya kepadanya tentang “beberapa kalimat”  yang diberikan Allah kepada Adam. Ibnu Abbas menjawab : “Ilmu mengenai ibadah haji”.[2]
3.     Khushaif meriwayatkan dari Mujahid yang mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan beberapa kalimat ialah sebagai berikut :
رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Ya Tuhan Kami, Kami telah Menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami Termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al-A’raaf  23)
4.     Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid yang mengatakan sehubungan dengan tafsir ayat ini, bahwa yang dimaksud dengan beberapa kalimat ialah sebagai berikut:
اَللّهُمَّ لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، رَبّ إِنّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ إِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ.
Ya Allah, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, Maha suci Engkau dan dengan memuji-Mu. Hai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku, maka berikanlah ampunan kepadaku. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik yang Maha Pengampun.
 اَللّهُمَّ لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، رَبّ إِنّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَارْحَمْنِيْ إِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Ya Allah, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, Maha suci Engkau dan dengan memuji-Mu. Hai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku, maka berikanlah rahmat kepadaku. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat.
اَللّهُمَّ لَا إِلهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ، رَبّ إِنّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ.
Ya Allah, tidak ada Tuhan melainkan Engkau, Maha suci Engkau dan dengan memuji-Mu. Hai Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku, maka terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.[3]
Akhir ayat 37 :    إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ “Sesungguhnya Allah Mahapenerima taubat lagi Maha-penyayang.”
Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang  sama dengan makna ayat pada akhir ayat 37 surat Al-Baqarah ini, antara lain :
أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ  
Tidaklah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang? (QS.At-Taubah: 104)
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah maha pengampun lagi maha penyayang. (QS. An-Nisaa: 110)
وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا
Dan orang yang bertaubat dan mengerjakan amal sholeh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan Taubat yang Sebenar- benarnya. (QS.Al-Furqan : 71)
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang menunjukkan bahwa Allah swt Mahapenerima taubat orang yang bertaubat dan kembali kepada-Nya. Dan banyak pula disebutkan dalam Hadits, antara lain :
حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ. (رواه مسلم : 4872 - صحيح مسلم – المكتبة الشاملة – باب استحباب الإستغفار والإستكثار منه – الجزء :    13– صفحة :    218)
Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ibrahim, dari Hisyam bin Hassan, dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, maka Allah akan menerima taubatnya. (HR Muslim  :4872 , Shahih Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Istihbabul istighfar wal-Iktsar minhu, juz 13, hal. 218)
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عُبَيْدَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا. (رواه مسلم :4954 - صحيح مسلم – المكتبة الشاملة – باب قبول التوبة من الذنوب وان تكررت الذنوب– الجزء :    13– صفحة :   322)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Amer bin Murrah, ia berkata : Saya pernah mendengar Abu ‘Ubaidah menceritakan sebuah hadits dari Abu Musa, dari Nabi saw, beliau bersabda : Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla itu membentangkan tangan-Nya di waktu malam untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu siang, dan juga membentangkan tangan-Nya di waktu siang untuk menerima taubatnya orang yang berbuat kesalahan di waktu malam. Demikian ini terus menerus sampai terbitnya matahari dari arah barat. (HR Muslim : 4954, Shahih Muslim, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Dzikrut taubah, juz 13, hal. 322)
حَدَّثَنَا رَاشِدُ بْنُ سَعِيدٍ الرَّمْلِيُّ أَنْبَأَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ ثَوْبَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ  : إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ. (رواه ابن ماجه : 4243 – سنن ابن ماجه – المكتبة الشاملة – باب  ذكر التوبة – الجزء :   12– صفحة :  304)
Telah menceritakan kepada kami Rasyid bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Walid bin Muslim, dari Ibnu Tsauban, dari ayahnya, da telah menceritakan kepada kami dari Makhul, dari Jubair bin Nufair, dari Abdullah bin Umar, dari Rasulullah  saw  bersabda : Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla sungguh akan menerima taubat seorang hamba selama (ruh) belum sampai di tenggorokan. (HR. Ibnu Majah : 4243, Sunan Ibnu Majah, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Dzikrut taubah, juz 12, hal. 304)
حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ أَيُّوبَ قَالَ وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الطُّفَاوِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ الْمَعْنَي عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ رَجُلٍ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَى اللَّهِ وَأَسْتَغْفِرُهُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ أَوْ أَكْثَرَ مِنْ مِائَةِ مَرَّةٍ. (رواه أحمد  : 17578 – مسند احمد– المكتبة الشاملة – باب  حديث رَجُلٍ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ   – الجزء :    37– صفحة :   348)
Telah menceritakan kepada kami Mu’tamir, ia berkata : Saya pernah mendengar berkata : dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahman Ath-Thufawi, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ayuub Al-Makna, dari Humaid bin Hilal, dari Abi Burdah, dari seorang laki-laki dari sebagian sahabat Muhajirin beliau mengatakan : Saya pernah mendengar Nabi saw bersabda : Wahai   manusia, bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah dan mohonlah ampunan kepada-Nya, maka sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dan aku memohon ampunan  kepada-Nya setiap hari sebanyak 100 kali atau lebih dari 100 kali. (HR.Ahmad : 17578, Musnad Ahmad, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab Hadits Rajul minal muhajirin, juz 37, hal. 348)
Kata terakhir dari ayat 37 surat Al-Baqarah adalah الرَّحِيمُ  (Arrahiim), yaitu Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang kasih-Nya tiada pilih kasih dan sayang-Nya tanpa padang sayang. Allah mendorong Adam untuk bertaubat setelah melakukan kesalahan dengan mengajarkan beberapa kalimat dan menerima taubatnya adalah termasuk kasih sayang-Nya.
Rasulullah saw menuturkan firman Allah dalam hadits Qudsi, bahwa rahmat-kasih sayang-Nya mengalahkan murka-Nya :
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقُرَشِيُّ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي. (رواه البخاري : 2955 – صحيح البخاري – المكتبة الشاملة – باب ما جاء في قول الله تعالى وهو الذي يبدأ – الجزء : 10 – صفحة : 466)
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah menceritakan kepada kami Mughirah bin Abdirrahman Al-Qurasyi, dari Abi Zinad, dari Al-A’raj,  dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Ketika Allah menciptakan makhluk-Nya, Ia menuliskan (ketetapan) dalam sebuah kitab yang kitab tersebut berada di atas arsy : Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku. (HR. Bukhari : 2955,  Shahih Bukhari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, bab  maa jaa-a fii qaulillahi wa wuwa yabd yabda’u, juz 10, hal. 466)
Surat Al-Baqarah ayat 37 ini menjadi dalil, bahwa Allah akan menyiksa hamba-Nya yang tetap melakukan perbuatan dosa dan akan membebaskan dari azab bila ia bertaubat. Iblis tidak bertaubat, sehingga tempatnya adalah Jahannam; sedangkan Adam bertaubat dan meninggalkan perbuatan dosa dan taubatnya diterima oleh Allah.[4]


[1]. Baca Tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 1, hal. 239
[2]. Baca Tafsir Ibnu Katsir, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 1, hal. 238
[3]. Baca Tafsir Ath-Thabari, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 1, hal. 545
[4]. Baca tafsir Bahrul Ulum Lis-Samarqandy, Al-Maktabah Asy-Syamilah, juz 2, hal. 103