Senin, 18 Januari 2010

VARIASI BACAAN AL-QUR’AN

-->
Sejak masa diturunkan Al-Qur’an variasi bacaan sudah ada bahkan Rasulullah sendiri menyatakan hal itu. Namun demikian bukan berarti umat Islam boleh membaca seenaknya sesuai dialek dan kemauan mereka. Variasi bacaan tersebut telah ditetapkan sejak masa Rasulullah saw sehingga umat Islam mendapatkan keleluasaan dalam memahami teks Al-Qur’an dengan tetap memperhatikan bacaan yang sudah di akui kebenarannya oleh Rasulullah saw sendiri. Bukan merupakan rekayasa dan ciptaan para imam. Hal ini dapat kita lihat dalam riwayat berikut ini :
عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَام فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَأَ أُمَّتُكَ الْقُرْآنَ عَلَى حَرْفٍ فَقَالَ أَسْأَلُ اللَّهَ مُعَافَاتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ وَإِنَّ أُمَّتِي لَا تُطِيقُ ذَلِكَ - ثُمَّ أَتَاهُ الثَّانِيَةَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَأَ أُمَّتُكَ الْقُرْآنَ عَلَى حَرْفَيْنِ فَقَالَ أَسْأَلُ اللَّهَ مُعَافَاتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ وَإِنَّ أُمَّتِي لَا تُطِيقُ ذَلِكَ - ثُمَّ جَاءَهُ الثَّالِثَةَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَأَ أُمَّتُكَ الْقُرْآنَ عَلَى ثَلَاثَةِ أَحْرُفٍ فَقَالَ أَسْأَلُ اللَّهَ مُعَافَاتَهُ وَمَغْفِرَتَهُ وَإِنَّ أُمَّتِي لَا تُطِيقُ ذَلِكَ ثُمَّ جَاءَهُ الرَّابِعَةَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكَ أَنْ تَقْرَأَ أُمَّتُكَ الْقُرْآنَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَأَيُّمَا حَرْفٍ قَرَءُوا عَلَيْهِ فَقَدْ أَصَابُوا (رواه مسلم : 1357 –صحيح مسلم –- بَاب بَيَانِ أَنَّ الْقُرْآنَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ وَبَيَانِ مَعْنَاهُ - الجزء :4 – صفحة : 257 )
Ubay bin Ka’b, bahwa Nabi saw bersabda : Jibril datang kepadanya seraya berkata : Sesungghnya Allah menyuruhmu membacakan Al-Qur’an kepada umatmu dengan satu huruf. Nabi bersabda : Saya minta ma’af dan ampunan kepada Allah, sesungghnya umatku tidak mampu untuk itu. Jibril datang untuk kedua kalinya seraya berkata : Sesungghnya Allah menyuruhmu membacakan Al-Qur’an kepada umatmu dengan dua huruf. Nabi bersabda : Saya minta ma’af dan ampunan kepada Allah, sesungghnya umatku tidak mampu untuk itu. Jibril datang untuk ketiga kalinya seraya berkata : Sesungghnya Allah menyuruhmu membacakan Al-Qur’an kepada umatmu dengan tiga huruf. Nabi bersabda : Saya minta ma’af dan ampunan kepada Allah, sesungghnya umatku tidak mampu untuk itu. Jibril datang untuk keempat kalinya seraya berkata : Sesungghnya Allah menyuruhmu membacakan Al-Qur’an kepada umatmu dengan tujuh huruf, dengan huruf yang manapun mereka membacanya maka sungguh bacaan itu benar. (HR.Muslim : 1357, Shahih Muslim, Bab Bayani Annal-Qur’an ‘alaa sab’ah ahruf wa bayaani ma’naah, juz 4, hal. 257)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ هِشَامَ بْنَ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ يَقْرَأُ سُورَةَ الْفُرْقَانِ عَلَى غَيْرِ مَا أَقْرَؤُهَا وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْرَأَنِيهَا وَكِدْتُ أَنْ أَعْجَلَ عَلَيْهِ ثُمَّ أَمْهَلْتُهُ حَتَّى انْصَرَفَ ثُمَّ لَبَّبْتُهُ بِرِدَائِهِ فَجِئْتُ بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ هَذَا يَقْرَأُ عَلَى غَيْرِ مَا أَقْرَأْتَنِيهَا فَقَالَ لِي أَرْسِلْهُ ثُمَّ قَالَ لَهُ اقْرَأْ فَقَرَأَ قَالَ هَكَذَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ قَالَ لِي اقْرَأْ فَقَرَأْتُ فَقَالَ هَكَذَا أُنْزِلَتْ إِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفٍ فَاقْرَءُوا مِنْهُ مَا تَيَسَّرَ (رواه البخاري : 2241 – صحيح البخاري - بَاب كَلَامِ الْخُصُومِ بَعْضِهِمْ فِي بَعْضٍ)
Abdullah bin Yusuf bercerita kepada kami, Malik mengabarkan kepada kami dari ibnu Syihab dari Urwah bin Zubair dari Abdurrahman bin Abdin Al-qory, bahwa ia berkata : Saya mendengar Umar bin Khattab mengatakan : Saya mendengar Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surat Al-Furqon dengan (bacaan) selain yang kubaca, sedang Rasulullah Saw. telah membacakan (mengajarkan surat itu) kepada saya, saya hampir keburu (menegaskan masalah ini) kepadanya kemudian saya tunda sebentar sampai ia pulang, kemudian aku memanggilnya dan membawanya kehadapan Rasulullah Saw, maka saya mengatakan : Saya mendengar (hisyam) ini membaca dengan selain bacaan yang engkau ajarkan kepadaku, maka beliau mengatakan kepadaku : “Bawa ia (kepadaku) “kemudian berkata kepadanya : “Bacalah” maka ia segera membaca (dan Rasulullah) mengatakan : “Seperti inilah diturunkan”, kemudian beliau berkata kepadaku : “Bacalah” maka saya membaca (dan Rasulullah) mengatakan: “Seperti inilah diturunkan, sesungguhnya Al­Qur’an itu diturunkan dengan tujuh macam huruf, maka bacalah Al-Qur’an dengan (bacaan) yang mudah (bagimu).(HR.Bukhari : 2241, Shahih Bukhari, Bab :alamil-Khushum Ba’dhihim Fii ba’dhin, juz 8, hal. 266)
Dari kedua riwayat hadits di atas kita mengetahui bahwa variasi bacaan diterima Rasulullah lewat Jibril. Tujuh macam bacaan itu kemudian diajarkan kepada para sahabat, yang sekarang kita kenal sebagai “Qiraat Sab’ah” (tujuh macam bacaan). Tujuh macam cara baca itupun telah turun temurun dibacakan hingga sampai kepada kita sekarang ini. Sanad yang diterima oleh para penghafal Qur’an juga merujuk kepada salah satu dari ketujuh macam bacaan tersebut melalui sahabat yang langsung mendapatkan bacaan itu dari Rasulullah.
Variasi dalam Al-Qur’an yang kita kenal dengan tujuh macam cara baca, telah diperbolehkan oleh Rasulullah, dan hanya terbatas sesuai yang telah diajarkannya. Selanjutnya umat Islam tidak ada yang berani membaca dengan selain yang diajarkan olehnya. Perbedaan cara baca itu pun tidak melahirkan suatu pertentangan makna sehingga merubah subtansi ajaran yang pokok yaitu Tauhid. Justru perbedaan bacaan itu memberikan keleluasaan makna yang pada gilirannya memberikan keleluasaan pada umat Islam dalam menjalankan ibadah. Tapi tidak menyangkut masalah pokok seperti Tauhid.
Satu hal yang perlu diketahui bahwa masalah Qira’ah sab’ah bukanlah hal yang ditutup-tutupi dalam khazanah keilmuan Islam, apalagi Rasulullah saw telah menetapkan adanya ketujuh macam bacaan itu. Untuk mendapatkan Al-Qur’an dengan ketujuh macam bacaan kita tidak perlu susah-susah mencari teks-teks kuno di perpustakaan seperti orang mencari teks-teks yang seakan-akan disembunyikan, kita cukup pergi ke toko buku, karena sudah terjual bebas.
Terjemahan Al-Qur’an tidak dapat disebut Al-Qur’an, karena tidak mungkin mencakup isi atau seluruh kandungan Al-Qur’an. Hal ini tentu berbeda dengan tradisi Nsrani yang tidak mengenal istilah “Terjemah” yang ada adalah Injil bahasa Indonesia, Injil bahasa Inggris, dan lain-lain. Umat Nasrani tidak bisa langsung merujuk kepada teks tertuanya seperti yang dilakukan oleh umat Islam. Wallaahu A’lam Bishshawab

Jumat, 08 Januari 2010

MENYARING BERITA DAN BERHATI-HATI MEMBERI AMANAH

-->
Suatu ketika Harits bin Dharar Al-Khuza'i mengetengahkan sebuah hadis : Aku datang menghadap Rasulullah saw, lalu beliau mengajakku masuk Islam, kemudian aku menyatakan diri masuk Islam di hadapannya. Beliau saw menyeruku untuk mengeluarkan zakat, maka aku berikrar kepadanya akan mengeluarkan zakat, lalu aku berkata : Wahai Rasulullah! Bolehkah aku kembali kepada kaumku, lalu aku akan mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Maka barangsiapa yang memperkenankan hal itu, aku akan mengumpulkan harta zakatnya, lalu engkau mengirimkan utusanmu kepadaku dalam jangka waktu yang cukup supaya orang tersebut dapat membawa semua harta zakat yang telah aku kumpulkan kepadamu.
Setelah Harits berhasil mengumpulkan harta zakat kaumnya, waktu yang telah dijanjikan pun telah tiba, ternyata Rasulullah saw tidak mengirimkan utusannya. Setelah ditunggu-tunggu ternyata tidak juga muncul, maka Harits menduga bahwa Rasulullah saw marah terhadap dirinya; lalu ia mengumpulkan semua orang-orang kaya kaumnya, dan berkata kepada mereka : Sesungguhnya Rasulullah saw dulu telah menentukan waktu untuk mengirimkan utusan kepadaku supaya mengambil zakat yang berhasil aku kumpulkan ini. Aku yakin bahwa Rasulullah tidak akan menyalahi janjinya, menurut dugaanku tiada yang menghalangi beliau untuk datang kepadaku melainkan beliau marah kepadaku. Maka sekarang marilah kita berangkat untuk menyerahkannya langsung kepada Rasulullah saw.
Pada saat bersamaan Rasulullah saw mengirim Walid bin Uqbah untuk mengambil harta zakat yang ada pada Harits. Hanya saja ketika Walid sampai di tengah jalan, ia kembali lagi menghadap Rasulullah saw dan melapor : Sesungguhnya Harits menolak untuk membayarkan zakatnya kepadaku, bahkan dia hendak membunuhku. Maka Rasulullah saw kembali membentuk utusannya yang baru untuk dikirimkan kepada Harits. Tetapi ketika para utusan itu baru keluar dari Rasulullah, tiba-tiba datanglah Harits bersama dengan teman-temannya dan berpapasan dengan para utusan itu. Lalu Harits bertanya kepada mereka : Hendak ke manakah kalian diutus? Mereka menjawab : Kami diutus untuk menemuimu. Harits kembali bertanya : Mengapa? Mereka berkata : Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus kepadamu Walid bin Uqbah, lalu ia melaporkan bahwa kamu tidak mau membayar zakat kepadanya dan bahkan kamu hendak membunuhnya. Harits berkata : Tidak, demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan membawa perkara yang hak, aku tidak pernah melihatnya dan belum pernah pula aku kedatangan dia. Ketika Harits datang menghadap Rasulullah saw, lalu Rasulullah saw berkata kepadanya : Kamu tidak mau membayar zakat, dan bahkan kamu bermaksud untuk membunuh utusanku." Harits menjawab : "Tidak, demi Tuhan yang telah mengutusmu dengan membawa perkara yang hak."[1] Berkenaan dengan peristiwa tersebut, maka turunlah firman Allah surah Al-Hujurat ayat 6-8 yang artinya :
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS.Al-Hujurat [49] : 6-8)
(Hadis diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lain-lainnya dengan sanad yang baik yang bersumber dari Harits bin Dharar Al-Khuza'i. Sanad Rawi-rawi hadis ini tsiqah (dapat dipercaya). Diriwayatkan pula oleh Imam Thabrani yang bersumber dari Jabir bin Abdullah, Al-Qamah bin Najiyah dan Ummu Salamah. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Al-Aufi yang bersumber dari Ibnu Abbas, dan melalui jalur-jalur lainnya dengan predikat Mursal.)
(Kitab Asbabun-Nuzul oleh Imam As-Suyuthi, Dar Al-Fajr Litturats, Kaero, 2002/1423, hal.379-380)



[1]. (Kitab Asbabun-Nuzul oleh Imam As-Suyuthi, Dar Al-Fajr Litturats, Kaero, 2002/1423, hal.379-380)
أخرج أحمد وغيره بسند جيد عن الحارث بن ضرار الخزامي قال قدمتُ على رسول الله صلى الله عليه وسلم فدعاني إلى الإسلام فأقررتُ به ودخلتُ فيه، ودعاني إلى الزكاة فأقررتُ بها وقلت : يا رسول الله أرجعُ إلى قومي فأدعوهم إلى الإسلام وأداء الزكاة فمن استجب لي جمعت زكاته فترسل إلي الإبان كذا وكذا ليأتيك ما جمعت من الزكاة- فلما جمع الحارث الزكاة وبلغ الإبان احتبس الرسول فلم يأته فظن الحارث أنه قد حدث سخطة فدعا سروات قومه فقال لهم : ان رسول الله صلى الله عليه وسلم كان قد وقت وقتا يرسل إلي رسوله ليقبض ما عندي من الزكاة وليس من رسول الله صلى الله عليه وسلم الخلف ولا أدري حبس رسوله إلا من سخطة فانطلقوا فنأتي رسول الله صلى الله عليه وسلم، وبعث رسول الله صلى الله عليه وسلم الوليد بن عقبة ليقبض ما كان عنده فلما أن سار الوليد فَرِقَ فرجع فقال ان الحارث منعني الزكاة وأراد قتلي فضرب رسول الله صلى الله عليه وسلم البعث إلى الحارث فأقبل الحارث بأصحابه إذ استقبل البعث فقال لهم إلى أين بعثتم؟ قالوا اليك، قال : ولم؟ قالوا : ان رسول الله صلى الله عليه وسلم بعث إليك الوليد بن عقبة فزعم أنك منعته الزكاة وأردت قتله، قال : لا والذي بعث محمدا بالحق ما رأيته ولا أتاني. فلما دخل علي رسول الله صلى الله عليه وسلم قال منعت الزكاة وأردت قتل رسولي قال : لا والذي بعثك بالحق فنزلت (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ) إلى قوله (وَالله ُعَلِيمٌ حَكِيمٌ).

Kamis, 07 Januari 2010

MENSYUKURI KEMENANGAN DENGAN TASBIH DAN ISTIGHFAR

-->
Ketika Rasulullah saw memasuki kota Mekah pada tahun kemenangan (Aam Al-Fath), lalu Rasulullah mengirimkan Khalid bin Walid sebagai panglima perang. Akhirnya Khalid bin Walid bersama dengan pasukan yang dipimpinnya bertempur melawan barisan pasukan orang-orang Quraisy di daerah rendah kota Mekah, sehingga Allah membuat pasukan Quraisy itu kalah dan memenangkan pasukan Khalid bin Walid. Kemudian Nabi saw memerintahkan kepada orang-orang Quraisy itu supaya meletakkan senjatanya, lalu beliau memaafkan mereka. Akhirnya mereka memasuki agama Islam secara berbondong-bondong.
Berkenaan dengan peristiwa tersebut Allah menurunkan surah An-Nashr yang artinya : 1. Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, 2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, 3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (HR. Abdur Razzaq dalam kitab Mushannaf yang diterima dari Ma'mar yang bersumber dari Zuhri) [1]
Setelah Itu Rasulullah saw Banyak Bertasbih Dab Beristighfar :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ
Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu. Ya Allah ampuni dosaku karena Engkau adalah Maha Penerima tobat. Ya Allah ampuni dosaku. Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu. Ya Allah ampuni dosaku. Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu. (HR.Ahmad, Musnad Ahmad, bab Musnad Abdullah bin Mas’ud, juz 9, hal.161)[2]



[1]. (Kitab Asbabun-Nuzul oleh Imam As-Suyuthi, Dar Al-Fajr Litturats, Kaero, 2002/1423, hal.474)
أخرج عبد الرزاق في مُصَنَّفِهِ عن مَعْمَرٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ قال لما دخل رسول الله صلى الله عليه وسلم مكة عام الفتح بعث خالدَ بن الوليد فقاتل بِمَنْ معه صفوفَ قريشٍ بأسفلَ مكةَ حتى هزمهم الله ُ ثم أمر بالسلاحِ فرفع عنهم- فدخلوا في الدين فأنزل الله إذا جاء نصر الله والفتح حتى ختمها
[2]. Musnad Ahmad, Bab Musnad Abdullah bin Mas’ud, juz 9, hal. 161
عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ. (رواه احمد : 4126 – مسند اجمد – باب مسند عبد الله بن مسعود – الجزء : 9 – صفحة : 161)

Rabu, 06 Januari 2010

PERLINDUNGAN BAGI SANG KEKASIH DAN AZAB BAGI MUSUHNYA

-->
Suatu ketika ada dua orang bernama Arbad bin Qais[1] dan Amir bin Thufail datang ke Madinah menemui Rasulullah saw. Lalu Amir bin Thufail berkata, "Hai Muhammad! Hadiah apakah yang akan engkau berikan kepadaku, jika aku masuk Islam?" Rasulullah saw menjawab : "Engkau akan mendapatkan sebagaimana apa yang didapat oleh kaum Muslimin yang lain, dan engkau pun akan menerima seperti apa yang mereka alami?" Lalu Amir berkata lagi : "Apakah engkau akan menjadikan aku sebagai penggantimu sesudahmu?" Rasulullah saw menjawab : "Hal tersebut bukan untukmu dan bukan untuk kaummu." Lalu mereka berdua keluar dari majelis Rasulullah saw. Setelah mereka keluar, lalu Amir berkata kepada Arbad : "Bagaimana kalau aku menyibukkan diri Muhammad dengan berbicara kepadanya, kemudian dari belakang kamu tebas dia dengan pedangmu?" Arbad setuju dengan usul tersebut, lalu keduanya kembali lagi menemui Rasulullah saw. Sesampainya di sana Amir berkata : "Hai Muhammad! Berdirilah bersamaku, aku akan berbicara kepadamu." Kemudian Rasulullah-pun berdiri dan Amir berbicara kepadanya, lalu Arbad menghunus pedangnya; akan tetapi ketika Arbad meletakkan tangannya pada pegangan pedangnya, tiba-tiba tangannya lumpuh. Dan Rasulullah saw melirik kepadanya serta melihat tingkahnya itu dengan jelas, lalu beliau berlalu meninggalkan mereka. Maka setelah itu keduanya pergi, dan ketika mereka berdua sampai di kampung Ar-Raqm, lalu Allah mengutus halilintar kepada Arbad untuk menyambarnya, dan meninggallah dia disana. Sedangkan ‘Amir masih bisa pergi meneruskan perjalanan pulang kembali, dan setelah tiba di suatu daerah bernama “Al-Kharim”, Allah menurunkan penyakit ta’un (menular), dan dia kemalaman dalam perjalanan, sehingga bermalam dirumah seorang perempuan dari Bani Salul. Di suatu daerah yang bernama “Al-Kharim”, itulah Allah menurunkan penyakit ta’un (menular), dan disana dia lalu tertular penyakit dan meninggal di perjalana pulang menuju rumahnya. [2]
Sumber : Kitab Asbabun-Nuzul oleh Imam As-Suyuthi, Dar Al-Fajr Litturats, Kaero, 2002/1423, hal.235-236. - Dan Tafsir Ibnu Katsir oleh Imadu Al-din Abu Al-Fida Ismail bin Katsir, Syirkah Al-Nur, Asia, tanpa tahun, hal.506.)



[1] Menurut sebagian ulama’ adalah Arbad bin Rabi’ah seperti yang terdapat dalam Tafsir Ibnu Katsir, jilid 2, Syirkah Al-Nur, Asia, tanpa tahun, hal.506.
[2] Imam As-Suyuthi, Asbabun-Nuzul, Dar Al-Fajr Litturats, Kaero, 2002/1423, hal.235-236. - Dan Imadu Al-din Abu Al-FidaIsmail bin Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Syirkah Al-Nur, Asia, tanpa tahun, hal.506.